Selamat datang di blog gue

Selasa, 26 Februari 2013

Gua mau ngepost novel favorite gua nih, ini juga novel yang terkenal

Harry potter dan batu bertuah (philosopher's stone)
Chapter 1 : ANAK LAKI-LAKI YANG
BERTAHAN HIDUP
MR dan Mrs Dursley yang tinggal di
Privet Drive nomor empat bangga
menyatakan diri bahwa mereka
orang-orang yang normal,
untunglah. Mereka tak bisa
diharapkan terlibat dengan sesuatu
yang ajaib atau misterius, karena
mereka sama sekali tak percaya
omong kosong seperti itu.
Mr Dursley adalah direktur
Grunnings, perusahaan yang
memproduksi bor. Dia laki-laki
besar-gemuk, nyaris tanpa leher,
walaupun kumisnya besar sekali.
Mrs Dursley kurus berambut pirang,
lehernya dua kali panjang leher
biasa. Baginya ini menguntungkan,
karena kegemarannya adalah
menjulurkan leher di atas pagar-
pagar, mengintip para tetangga.
Suami-istri Dursley mempunyai
seorang anak laki-laki kecil bernama
Dudley dan menurut pendapat
mereka, di dunia ini tak ada anak
lain yang sehebat Dudley.
Keluarga Dursley memiliki segalanya
yang mereka inginkan, tetapi mereka
juga punya rahasia, dan ketakutan
terbesar mereka adalah, kalau ada
orang yang mengetahui rahasia ini.
Mereka pikir mereka pasti tak tahan
kalau sampai ada yang tahu tentang
keluarga Potter. Mrs Potter adalah
adik Mrs Dursley, tetapi sudah
bertahun-tahun mereka tidak
bertemu. Mrs Dursley malah
berpura-pura tidak punya adik,
karena adiknya dan suaminya yang
tak berguna itu tak layak sama
sekali menjadi kerabat keluarga
Dursley. Mr dan Mrs Dursley
bergidik memikirkan apa kata
tetangga mereka jika keluarga Potter
muncul di jalan mereka. Keluarga
Dursley tahu bahwa keluarga Potter
juga punya seorang anak laki-laki
kecil, tetapi mereka belum pernah
melihatnya. Anak ini salah satu
alasan bagus lain kenapa mereka tak
mau dekat-dekat keluarga Potter.
Mereka tak ingin Dudley bergaul
dengan anak seperti itu.
Ketika Mr dan Mrs Dursley bangun
pada hari Selasa pagi yang mendung
saat cerita kita ini mulai, tak ada
tanda-tanda di langit berawan di
luar bahwa akan terjadi hal-hal
misterius dan aneh di seluruh
negeri. Mr Dursley bersenandung
ketika dia mengambil dasinya yang
sangat membosankan untuk
dipakainya bekerja, dan Mrs Dursley
bergosip riang seraya berkutat
dengan Dudley yang menjerit-jerit
dan mendudukkan anak itu di
kursinya yang tinggi.
Tak seorang pun dari mereka
melihat seekor burung hantu besar
kuning kecokelatan terbang
melintasi jendela.
Pukul setengah sembilan Mr Dursley
memungut tas kerjanya, mengecup
pipi Mrs Dursley dan mencoba
mengecup Dudley, tapi gagal, sebab
sekarang Dudley ngadat dan
melempar-lempar serealnya ke
dinding. "Dasar anak-anak," senyum
Mr Dursley sambil masuk ke
mobilnya dan memundurkannya
keluar dari garasi rumah nomor
empat.
Di sudut jalanlah pertama kalinya
dia menyadari ada sesuatu yang
aneh—seekor kucing membaca peta.
Sekejap Mr Dursley tidak menyadari
apa yang telah dilihatnya—kemudian
dia menoleh untuk melihat sekali
lagi. Ada kucing betina berdiri di
ujung Jalan Privet Drive, tapi sama
sekali tak kelihatan ada peta.
Rupanya tadi cuma khayalannya.
Pasti itu tipuan cahaya. Mr Dursley
berbelok di sudut dan meneruskan
perjalanan, dia memandang kucing
itu lewat kaca spionnya. Kucing itu
sekarang sedang membaca papan
jalan yang bertulisan Privet Drive—
bukan, bukan membaca melainkan
memandang papan jalan itu, kucing
tidak bisa membaca peta atau papan
jalan. Mr Dursley menggelengkan
kepalanya dan mencoba melupakan
kucing itu. Selama mengendarai
mobilnya ke kota, yang
dipikirkannya hanyalah pesanan bor
dalam jumlah besar yang akan
didapatnya hari itu.
Tetapi menjelang masuk kota, bor
tergusur keluar dari pikirannya oleh
sesuatu yang lain. Sementara
terjebak macet seperti biasanya, dia
melihat banyak orang berpakaian
aneh. Orang-orang yang memakai
jubah. Mr Dursley tak tahan melihat
orang yang berpakaian aneh-aneh—
dandanan anak-anak muda zaman
sekarang! Dia kira jubah bloon ini
sedang mode. Dia mengetuk-ngetuk
kan jarinya pada kemudi mobil dan
matanya menatap serombongan
orang aneh yang berdiri cukup
dekat. Mereka sedang berbisik-bisik
dengan tegang. Mr Dursley sebal
sekali melihat bahwa dua di antara
mereka sama sekali tidak muda lagi.
Yang pakai jubah hijau zamrud itu
bahkan lebih tua dari dia! Kelewatan
benar! Tetapi kemudian terlintas di
benaknya bahwa mereka mungkin
sengaja berdandan seperti itu—
mereka pastilah sedang
mengumpulkan dana entah untuk
apa—ya, pasti begitu. Kendaraan-
kendaraan mulai bergerak, dan
beberapa menit kemudian Mr
Dursley tiba di tempat parkir
Grunnings, pikirannya kembali
dipenuhi bor.
Mr Dursley selalu duduk
membelakangi jendela di kantornya
di lantai sembilan. Jika tidak,
mungkin sulit baginya untuk
berkonsentrasi pada bor pagi itu.
Dia tidak melihat burung-burung
hantu terbang berseliweran di siang
hari, meskipun orang-orang lain di
jalan melihatnya. Orang-orang itu
melongo dan menunjuk-nunjuk
ketika burung-burung hantu tak
putus-putusnya beterbangan.
Sebagian besar dari mereka belum
pernah melihat burung hantu, di
malam hari sekalipun. Tetapi Mr
Dursley melewatkan pagi yang
normal, tanpa gangguan burung
hantu. Dia berteriak pada lima
orang yang berbeda. Dia melakukan
beberapa pembicaraan telepon
penting dan berteriak beberapa kali
lagi. Hatinya sedang senang, sampai
waktu makan siang, ketika dia
memutuskan akan melemaskan kaki
dan berjalan ke toko kue di seberang
jalan.
Dia sudah lupa sama sekali pada
orang-orang berjubah, sampai dia
melewati serombongan lagi di
sebelah toko kue. Dia mendelik
gusar kepada mereka. Dia tidak tahu
kenapa, tetapi mereka membuatnya
resah. Rombongan yang ini juga
berbisik-bisik tegang dan dia sama
sekali tidak melihat satu pun kotak
pengumpul dana. Saat melewati
mereka lagi dalam perjalanan
kembali ke kantor, dia mendengar
beberapa kata yang mereka
ucapkan.
"Keluarga Potter, betul, begitu yang
kudengar…"
"… ya, anak mereka, Harry…"
Mr Dursley langsung berhenti.
Ketakutan melandanya. Dia menoleh
memandang mereka yang berbisik-
bisik itu, seakan mau mengatakan
sesuatu, tetapi tidak jadi.
Dia cepat-cepat menyeberang jalan,
bergegas naik ke kantornya, dengan
galak menyuruh sekretarisnya agar
tidak mengganggunya, menyambar
teleponnya, dan sudah hampir
selesai menghubungi nomor
rumahnya ketika dia berubah
pikiran. Dia meletakkan kembali
gagang telepon dan mengelus-elus
kumisnya sambil berpikir… tidak,
dia bodoh. Potter bukan nama yang
tidak umum. Dia yakin ada banyak
orang bernama Potter yang
mempunyai anak bernama Harry.
Dia bahkan belum pernah melihat
anak itu. Siapa tahu namanya
Harvey. Atau Harold. Tak ada
gunanya membuat cemas Mrs
Dursley. Dia selalu jadi cemas kalau
nama adiknya disebut-sebut. Mr
Dursley tidak menyalahkannya—
kalau dia sendiri punya adik seperti
itu… tapi, orang-orang yang
memakai jubah itu…
Sulit baginya untuk berkonsentrasi
pada bor sore itu, dan ketika
meninggalkan kantornya pada pukul
lima sore, dia masih cemas sehingga
menabrak orang di depan pintu.
"Maaf," gumamnya, ketika laki-laki
tua yang ditabraknya terhuyung
nyaris jatuh. Sesaat kemudian baru
Mr Dursley menyadari, laki-laki itu
memakai jubah ungu. Dia
kelihatannya sama sekali tidak
marah ditabrak sampai hampir
jatuh. Sebaliknya, dia malah nyengir
lebar dan berkata dengan suara
melengking yang membuat orang-
orang yang lewat menoleh, "Jangan
minta maaf, Sir, karena tak ada
yang bisa membuatku marah hari
ini! Bergembiralah, karena Kau-
Tahu-Siapa telah pergi akhirnya!
Bahkan Muggle seperti Anda pun
harus ikut merayakan hari yang
amat sangat membahagiakan ini!"
Dan laki-laki tua itu memeluk
pinggang Mr Dursley, lalu pergi.
Mr Dursley berdiri terpaku di
tempatnya. Dia baru saja dipeluk
oleh orang yang sama sekali asing.
Seingatnya dia juga disebut Muggle,
entah apa artinya itu. Dia jadi
bingung. Dia bergegas ke mobilnya
dan pulang, berharap bahwa semua
tadi hanya khayalannya. Ini sesuatu
yang tak pernah terjadi sebelumnya,
karena dia orang yang tak suka
berkhayal.
Ketika mobilnya meluncur masuk ke
pekarangan rumah nomor empat,
yang pertama kali dilihatnya—dan
ini tidak membuatnya bertambah
lega—adalah kucing betina yang
telah dilihatnya pagi tadi. Kucing itu
sekarang duduk di atas tembok
pekarangannya. Mr Dursley yakin itu
kucing yang sama. Dia punya tanda
yang sama di sekeliling kedua
matanya.
"Shuh!" Mr Dursley mengusirnya.
Kucing itu tidak bergerak. Dia malah
menatap galak Mr Dursley. Apa ini
perilaku normal kucing? pikir Mr
Dursley. Sambil berusaha
menenangkan diri, dia masuk
rumah. Dia masih bertekad tidak
akan mengatakan apa-apa kepada
istrinya.
Mrs Dursley melewatkan hari yang
normal dan menyenangkan. Saat
makan malam dia bercerita kepada
Mr Dursley tentang ibu tetangga
yang punya masalah dengan anak
perempuannya dan bahwa Dudley
sudah bisa ngomong kalimat baru
("Tak mau!"). Mr Dursley berusaha
bersikap biasa. Ketika Dudley sudah
ditidurkan, Mr Dursley ke ruang
keluarga untuk mendengarkan kabar
terakhir dalam berita malam.
"Dan akhirnya, para pengamat
burung dari segala tempat
melaporkan bahwa burung hantu di
seluruh negeri bersikap aneh sekali
hari ini. Meskipun burung hantu
normalnya berburu di malam hari
dan jarang terlihat di siang hari,
ratusan orang melihat burung-
burung hantu beterbangan ke segala
penjuru sejak matahari terbit. Para
ahli tidak dapat menjelaskan kenapa
para burung hantu mengubah pola
tidur mereka." Pembawa berita
tersenyum. "Sungguh aneh. Dan
sekarang, kita bergabung dengan Jim
McGuffin yang akan menyampaikan
ramalan cuaca. Malam ini akan
hujan burung hantu lagi, Jim?"
"Wah, Ted," kata si peramal cuaca,
"aku tak tahu tentang itu, tetapi
bukan cuma burung hantu yang
bersikap aneh hari ini. Para pemirsa
sampai sejauh Kent, Yorkshire, dan
Dundee bergantian meneleponku
untuk memberitahu bahwa alih-alih
hujan seperti yang kuramalkan
kemarin, yang mereka dapat adalah
bintang-bintang jatuh! Mungkin
orang-orang merayakan Bonfire
Night kelewat awal—padahal pesta
kembang api seharusnya baru
minggu depan, para pemirsa! Tetapi
malam ini bisa dipastikan hujan
akan turun!"
Mr Dursley terenyak di kursi
berlengannya. Bintang jatuh di
seluruh Inggris? Burung-burung
hantu beterbangan di siang hari?
Orang-orang misterius berjubah di
mana-mana? Dan bisik-bisik, bisik-
bisik tentang keluarga Potter…
Mrs Dursley masuk ruang keluarga
membawa dua cangkir teh.
Percuma. Dia harus mengatakan
sesuatu kepada istrinya. Mr Dursley
berdeham panik. "Ehm—Petunia
sayang—belakangan ini ada kabar
apa dari adikmu?"
Seperti dugaannya, Mrs Dursley
kelihatan kaget dan marah. Yah,
biasanya kan mereka berpura-pura
dia tidak punya adik.
"Tidak ada," jawabnya ketus.
"Memangnya kenapa?"
"Ada berita aneh tadi," gumam Mr
Dursley. "Burung hantu… bintang
jatuh… dan ada banyak orang
bertampang aneh di jalan hari ini."
"Jadi?" tukas Mrs Dursley.
"Yah, aku cuma berpikir… mungkin…
ada kaitannya dengan… kau tahu,
kan… kelompoknya."
Mrs Dursley menyeruput tehnya
dengan bibir cemberut. Mr Dursley
mempertimbangkan, beranikah dia
memberitahu istrinya bahwa dia
telah mendengar nama Potter
disebut-sebut. Dia memutuskan
tidak berani saja. Sebagai gantinya
dia berkata sebiasa mungkin, "Anak
mereka—seumuran Dudley, kan?"
"Kayaknya sih," kata Mrs Dursley
kaku.
"Siapa ya, namanya? Howard, kan?"
"Harry. Nama jelek dan kodian,
menurutku."
"Oh, ya," kata Mr Dursley, hatinya
mencelos. "Ya, aku setuju."
Dia tak lagi menyinggung-nyinggung
masalah itu ketika mereka naik ke
kamar tidur. Sementara Mrs Dursley
di kamar mandi, Mr Dursley
merayap ke jendela kamar dan
mengintip ke halaman depan.
Kucing itu masih ada. Dia sedang
menatap ke jalanan, seakan
menunggu sesuatu.
Apakah ini hanya khayalannya?
Mungkinkah semua ini ada
hubungannya dengan keluarga
Pottter? Kalau betul begitu… kalau
sampai bocor bahwa mereka masih
kerabat pasangan… wah, dia tak
akan tahan.
Suami-istri Dursley naik ke tempat
tidur. Mrs Dursley segera tertidur,
tetapi Mr Dursley tidak. Dia
memikirkan segala kemungkinan.
Pikiran terakhir dan menenangkan
sebelum dia tertidur adalah,
seandainya pun keluarga Potter
memang terlibat, tak ada alasan bagi
mereka untuk datang ke tempat
keluarga Dursley. Mereka tahu
bagaimana pendapat dirinya dan Mrs
Dursley mengenai mereka dan jenis
mereka… Mr Dursley tak melihat
bagaimana dia dan Petunia bisa
terlibat dengan entah apa yang
sedang berlangsung ini. Dia
menguap dan berbalik. Semua itu
tak akan mempengaruhi mereka…
Betapa kelirunya dia.
Mr Dursley mungkin saja bisa tidur,
walau tak nyenyak, tetapi kucing di
atas tembok di luar sama sekali tak
menunjukkan tanda-tanda
mengantuk. Dia duduk diam bagai
patung, matanya memandang tanpa
kedip ke sudut Privet Drive di
kejauhan. Ketika ada pintu mobil
digabrukkan di jalan sebelah, dia
tetap bergeming. Begitu juga ketika
ada dua burung hantu melayang di
atasnya. Kucing itu baru bergerak
menjelang tengah malam.
Seorang laki-laki muncul di sudut
yang diawasi si kucing.
Kemunculannya begitu mendadak
dan tanpa suara, sehingga kau akan
mengira dia muncul begitu saja dari
dalam tanah. Ekor si kucing
bergerak dan matanya menyipit.
Belum pernah ada orang semacam
ini di Privet Drive. Dia tinggi, kurus,
dan sudah tua sekali, kalau dilihat
dari rambut dan jenggot putihnya
yang cukup panjang untuk
diselipkan di ikat pinggangnya. Dia
memakai jubah ungu panjang yang
menyapu jalan dan sepatu bot
bergesper dengan hak tinggi.
Matanya biru terang dan bercahaya
di balik kacamatanya yang
berbentuk bulan-separo dan
hidungnya panjang serta bengkok,
seakan sudah pernah patah paling
tidak dua kali. Nama laki-laki ini
Albus Dumbledore.
Albus Dumbledore tampaknya tidak
menyadari bahwa dia baru saja tiba
di jalan tempat segala sesuatu dari
namanya sampai sepatunya tidak
diinginkan. Dia sibuk memeriksa
jubahnya, mencari sesuatu. Tetapi
tampaknya dia sadar dia diawasi,
karena mendadak saja dia
mendongak memandang si kucing,
yang masih memandangnya dari
ujung lain jalan. Entah karena apa,
melihat kucing ini dia tampak geli.
Dia berdecak dan bergumam,
"Seharusnya aku tahu."
Dia sudah menemukan apa yang
dicarinya di kantong sebelah dalam.
Ternyata korek api perak.
Dibukanya, diangkatnya ke udara,
lalu dinyalakannya. Lampu jalan
terdekat padam dengan bunyi pop
pelan. Dinyalakannya lagi, lampu
berikutnya ikut padam. Dua belas
kali ia menyalakan Pemadam-
Lampu, sampai cahaya yang tinggal
hanyalah dua sorot kecil mungil di
kejauhan, yaitu mata si kucing yang
mengawasinya. Jika ada orang yang
melongok keluar dari jendela
sekarang, bahkan si mata-tajam Mrs
Dursley pun tidak akan melihat apa
yang sedang terjadi di trotoar.
Dumbledore menyelipkan Pemadam-
Lampu ke dalam jubahnya lagi dan
berjalan menuju rumah nomor
empat. Setiba di sana dia duduk di
sebelah si kucing. Dumbledore tidak
memandangnya, tetapi setelah
beberapa saat dia mengajaknya
bicara.
"Tak disangka kita bertemu di sini
ya, Profesor McGonagall."
Dia menoleh untuk tersenyum pada
si kucing betina, tetapi kucing itu
sudah tak ada. Alih-alih kucing, dia
tersenyum pada wanita bertampang
agak galak yang memakai kacamata
persegi, persis bentuk yang
melingkari mata si kucing. Wanita
itu juga memakai jubah, warnanya
hijau zamrud. Rambut hitamnya
digelung ketat. Dia kelihatan
bingung.
"Bagaimana kau bisa tahu kucing itu
aku?" tanyanya.
"Profesorku, belum pernah aku
melihat kucing yang duduk begitu
kaku."
"Kau pun akan kaku kalau sudah
duduk di tembok bata seharian,"
kata Profesor McGonagall.
"Seharian? Padahal seharusnya kau
bisa merayakan hari gembira ini?
Aku melewati paling tidak selusin
pesta dan perayaan dalam
perjalanan kemari."
Profesor McGonagall mendengus
marah.
"Oh ya, semua merayakan," katanya
tak sabar. "Kau pikir mereka akan
lebih hati-hati, tetapi tidak—bahkan
para Muggle pun merasa ada sesuatu
yang sedang terjadi. Itu disiarkan di
warta berita mereka." Dia
mengedikkan kepalanya ke arah
jendela ruang keluarga Dursley yang
gelap. "Aku mendengarnya.
Rombongan burung hantu… bintang
jatuh… Nah, mereka kan tidak bego.
Keanehan ini menarik perhatian
mereka. Bintang jatuh di Kent—aku
berani bertaruh itu Dedalus Diggle.
Dari dulu dia kurang perhitungan."
"Kau tak bisa menyalahkan mereka,"
kata Dumbledore lembut. "Tak ada
yang benar-benar bisa kita rayakan
selama sebelas tahun ini."
"Aku tahu," kata Profesor
McGonagall jengkel. "Tapi itu bukan
alasan bagi kita untuk lupa diri.
Orang-orang ceroboh sekali,
berkeliaran di jalan di siang bolong,
bahkan tidak memakai pakaian
Muggle, bertukar gosip."
Dia melirik tajam Dumbledore,
seakan berharap Dumbledore akan
memberitahunya sesuatu, tetapi
ternyata tidak, maka dia
meneruskan, "Bagus sekali jika pada
hari Kau-Tahu-Siapa akhirnya
menghilang, bangsa Muggle akhirnya
juga tahu tentang kita. Kira-kira dia
betul sudah pergi, Dumbledore?"
"Kelihatannya begitu," kata
Dumbledore. "Banyak yang harus
kita syukuri. Kau mau permen
jeruk?"
"Apa?"
"Permen jeruk. Permen Muggle yang
kusukai."
"Tidak, terima kasih," kata Profesor
McGonagall dingin, seakan menurut
dia ini bukan saatnya untuk makan
permen jeruk. "Seperti kukatakan,
bahkan jika Kau-Tahu-Siapa sudah
pergi…"
"Profesorku yang baik, tentunya
orang bijaksana seperti kau bisa
menyebut namanya? Segala omong-
kosong ‘Kau-Tahu-Siapa’—selama
sebelas tahun aku sudah berusaha
membujuk orang-orang agar
menyebutnya dengan namanya yang
sebenarnya: Voldemort." Profesor
McGonagall berjengit, tetapi
Dumbledore, yang sedang membuka
bungkus dua permen jeruk,
kelihatannya tidak tahu. "Jadi sangat
membingungkan jika kita selalu
berkata ‘Kau-Tahu-Siapa’. Aku tak
melihat alasan kita harus takut
menyebut nama Voldemort."
"Aku tahu," kata Profesor
McGonagall, kedengarannya
setengah putus asa, setengah kagum.
"Tetapi kau lain. Semua tahu kau
satu-satunya yang ditakuti si Kau-
Tahu—oh, baiklah, Voldemort."
"Kau membuatku tersanjung," jawab
Dumbledore tenang. "Voldemort
memiliki kekuatan yang tak akan
pernah kumiliki."
"Hanya karena kau terlalu—yah,
mulia untuk menggunakannya."
"Untung sekarang gelap. Belum
pernah mukaku semerah ini sejak
Madam Pomfrey mengatakan dia
menyukai tutup telingaku yang
baru."
Profesor McGonagall memandang
tajam Dumbledore dan berkata,
"Burung-burung hantu itu bukan
apa-apa dibanding dengan kabar
burung yang tersebar. Kau tahu apa
yang dikatakan semua orang?
Tentang apa yang akhirnya
menghentikannya?"
Kelihatannya Profesor McGonagall
telah mencapai pokok masalah yang
ingin sekali didiskusikannya, alasan
kenapa dia duduk menunggu di atas
tembok keras dingin sepanjang hari,
karena tidak sebagai kucing ataupun
sebagai perempuan dia pernah
memandang Dumbledore setajam
sekarang. Jelas bahwa apa pun yang
dikatakan "semua orang", tak akan
dipercayainya sampai Dumbledore
mengatakan kepadanya bahwa itu
benar. Tapi Dumbledore malah
memilih permen jeruk yang lain dan
tidak menjawab.
"Apa yang mereka katakan," dia
meneruskan, "adalah bahwa tadi
malam Voldemort muncul di
Godric’s Hollow. Dia datang mencari
keluarga Potter. Menurut gosip, Lily
dan James Potter sudah—sudah—
mereka sudah meninggal."
Dumbledore menundukkan
kepalanya. Profesor McGonagall
memekik kaget.
"Lily dan James… tak bisa
kupercaya… aku tak mau percaya…
Oh, Albus…"
Dumbledore mengulurkan tangan
dan membelai bahu Profesor
McGonagall. "Aku tahu… aku
tahu…," katanya sedih.
Suara Profesor McGonagall bergetar
ketika dia meneruskan, "Itu belum
semua. Kata mereka dia mencoba
membunuh anak keluarga Potter,
Harry. Tetapi—dia tidak bisa. Dia
tidak berhasil membunuh anak kecil
itu. Tak ada yang tahu kenapa atau
bagaimana, tetapi mereka bilang,
bahwa ketika dia gagal membunuh
Harry Potter, kekuatan Voldemort
punah—dan itulah sebabnya dia
menghilang."
Dumbledore mengangguk tanpa
bicara.
"Jadi—jadi betul?" Profesor
McGonagall tergagap. "Setelah
semua yang dilakukannya… semua
orang yang telah dibunuhnya… dia
tak bisa membunuh anak yang boleh
dikatakan masih bayi? Sungguh
mengherankan… mengingat segala
upaya untuk menghentikan sepak
terjangnya… tetapi bagaimana
mungkin Harry bisa bertahan?"
"Kita cuma bisa menduga," kata
Dumbledore. "Kita mungkin tak akan
pernah tahu."
Profesor McGonagall menarik
sehelai saputangan sutra dan
mengusap mata di balik
kacamatanya. Dumbledore menyedot
hidung keras sambil mengambil jam
emas dari dalam sakunya dan
memandangnya. Jam itu sudah
sangat tua. Jarumnya ada dua belas,
tetapi tidak ada angkanya. Sebagai
gantinya, planet-planet kecil
bergerak mengitari tepinya. Tapi
Dumbledore pasti bisa
mengartikannya, karena dia
mengembalikan jam itu ke sakunya
dan berkata, "Hagrid terlambat.
Kurasa dia yang memberitahumu
bahwa aku akan ada di sini, kan?"
"Ya," jawab Profesor McGonagall.
"Dan kurasa kau tidak akan
memberitahuku kenapa kau sampai
berada di sini?"
"Aku datang untuk mengantar Harry
kepada bibi dan pamannya. Hanya
merekalah keluarganya yang tinggal
sekarang."
"Kau tidak—yang kaumaksudkan tak
mungkin orang-orang yang tinggal
di sini?" seru Profesor McGonagall
seraya melompat berdiri dan
menunjuk rumah nomor empat.
"Dumbledore—jangan. Aku sudah
mengamati mereka sepanjang hari.
Takkan bisa kautemukan dua orang
yang sangat berbeda dari kita
seperti mereka. Dan mereka punya
anak—kulihat anak ini menendang-
nendang ibunya sepanjang jalan ini,
menjerit-jerit minta permen. Harry
Potter akan tinggal di sini?"
"Ini tempat paling baik untuknya,"
kata Dumbledore tegas. "Bibi dan
pamannya akan bisa menjelaskan
segalanya kepadanya kalau dia sudah
lebih besar. Aku sudah menulis
surat kepada mereka."
"Surat?" Profesor McGonagall
mengulangi dengan lesu, kembali
duduk di atas tembok. "Astaga,
Dumbledore, kaupikir kau bisa
menjelaskan semua ini dalam surat?
Orang-orang ini tak akan pernah
memahami Harry! Dia akan jadi
orang terkenal—jadi legenda—aku
tak akan heran jika di masa depan
nanti, hari ini akan dijadikan Hari
Harry Potter—akan ada buku-buku
tentang Harry yang ditulis—semua
anak di dunia kita akan mengenal
namanya!"
"Justru itu," kata Dumbledore,
memandang dengan sangat serius di
atas lensa kacamatanya yang
berbentuk bulan-separo. "Semua itu
bisa membuat sombong anak mana
pun. Sudah terkenal sebelum dia
bisa berjalan dan bicara! Terkenal
gara-gara sesuatu yang ingat pun
dia tidak! Tak bisakah kaulihat, akan
jauh lebih baik baginya jika dia
dibesarkan jauh dari semua itu,
sampai dia sudah siap
menerimanya."
Profesor McGonagall membuka
mulut, berubah pikiran, menelan
ludah, dan kemudian berkata, "Ya—
ya, kau benar, tentu saja. Tetapi
bagaimana anak itu bisa tiba di sini,
Dumbledore?" Mendadak diamatinya
jubah Dumbledore, seakan dia
mengira Dumbledore mungkin saja
menyembunyikan anak itu di balik
jubahnya.
"Hagrid yang akan mengantarnya."
"Kaupikir—bijaksana
mempercayakan hal sepenting ini
kepada Hagrid?"
"Aku akan mempercayakan hidupku
kepada Hagrid," kata Dumbledore.
"Aku tidak bermaksud mengatakan
hatinya tidak berada di tempatnya
yang benar," kata Profesor
McGonagall menggerundel, "tetapi
kau tak bisa berpura-pura tak tahu
dia ceroboh. Dia kan cenderung…
apa itu?"
Derum rendah memecah kesunyian
di sekitar mereka. Derum itu makin
lama makin keras sementara mereka
memandang ke ujung jalan,
mencari-cari lampu kendaraan.
Bunyi itu membesar seperti raungan
sementara mereka bedua
mendongak ke langit—dan sebuah
motor luar biasa besar jatuh dari
angkasa, mendarat di jalan di depan
mereka.
Sepeda motor besar itu masih belum
apa-apa jika dibandingkan dengan
laki-laki yang duduk di atasnya.
Tingginya nyaris dua kali laki-laki
dewasa dan lima kali lebih lebar.
Besarnya sungguh kelewatan, dan
dia begitu liar—rambut panjangnya
yang hitam dan lebat kusut dan
jenggotnya yang juga lebat
menyembunyikan sebagian besar
wajahnya. Tangannya sebesar tutup
tempat sampah dan kakinya yang
memakai sepatu bot kulit seperti
lumba-lumba kecil. Lengannya yang
besar dan berotot memeluk
bungkusan selimut.
"Hagrid," kata Dumbledore lega.
"Akhirnya. Dan dari mana kaudapat
sepeda motor itu?"
"Pinjam, Profesor Dumbledore,"
jawab si raksasa, sambil turun
dengan hati-hati dari motor itu.
"Sirius Black muda pinjamkan
padaku. Aku dapat dia, Sir."
"Tidak ada kesulitan, kan?"
"Tidak, Sir—rumah nyaris hancur,
tapi aku berhasil ambil dia sebelum
para Muggle berdatangan. Dia
tertidur ketika kami terbang
melewati Bristol."
Dumbledore dan Profesor
McGonagall membungkuk ke arah
bungkusan selimut. Di dalamnya ada
seorang bayi laki-laki, tertidur
nyenyak. Di balik sejumput rambut
hitam pekat di atas dahinya mereka
bisa melihat luka berbentuk aneh,
seperti sambaran kilat.
"Itukah…?" bisik Profesor
McGonagall.
"Ya," kata Dumbledore. "Bekas
lukanya tak akan hilang selamanya."
"Tak bisakah kau melakukan sesuatu,
Dumbledore?"
"Kalaupun bisa, aku tak mau. Bekas
luka kadang-kadang ada gunanya.
Aku sendiri punya bekas luka di atas
lutut kiri yang berupa peta jalur
kereta api bawah tanah London.
Nah, berikan anak itu, Hagrid. Lebih
baik segera kita bereskan."
Dumbledore menggendong Harry
dan berbalik menuju rumah
keluarga Dursley.
"Bolehkah—bolehkah aku ucapkan
selamat tinggal padanya, Sir?" tanya
Hagrid.
Dia menundukkan kepalanya yang
besar berambut lebat dan memberi
si bayi kecupan yang pastilah
membuat gatal gara-gara gesekan
kumisnya. Kemudian mendadak
Hagrid melolong seperti anjing yang
terluka.
"Shhh!" desah Profesor McGonagall.
"Kau akan membangunkan para
Muggle!"
"M-m-maaf," isak Hagrid, seraya
mengeluarkan saputangan besar
berbintik-bintik dan membenamkan
wajahnya di dalamnya. "Tapi aku t-t-
tak tahan—Lily dan James meninggal
—dan kasihan Harry harus tinggal
dengan Muggle…"
"Ya, ya, memang sangat
menyedihkan, tetapi kendalikan
dirimu, Hagrid. Kalau tidak, kita
bisa ketahuan," bisik Profesor
McGonagall sambil membelai-belai
lengan Hagrid dengan amat hati-
hati, sementara Dumbledore
melangkahi tembok halaman yang
rendah dan berjalan ke pintu depan.
Dengan hati-hati dibaringkannya
Harry di depan pintu. Diambilnya
sehelai surat dari dalam jubahnya
dan diselipkannya di balik selimut
Harry. Setelah itu dia kembali
bergabung dengan dua orang
lainnya. Selama semenit penuh
ketiganya memandang bungkusan
kecil itu. Bahu Hagrid berguncang,
Profesor McGonagall berkali-kali
mengejapkan matanya, dan kilat
yang biasanya ada di mata
Dumbledore seakan telah padam.
"Nah," kata Dumbledore akhirnya,
"begitulah. Tak ada gunanya lagi kita
tinggal di sini. Lebih baik kita pergi
dan ikut perayaan."
"Yeah," kata Hagrid sengau. "Aku
akan kembalikan motor Sirius.
Malam, Profesor McGonagall…
Profesor Dumbledore."
Sambil menyeka air matanya yang
mengucur terus dengan lengan
jaketnya, Hagrid melompat ke atas
motornya dan menstarternya.
Diiringi deruman, motor itu
terangkat ke angkasa dan meluncur
dalam kegelapan malam.
"Kita akan segera bertemu lagi,
Profesor McGonagall," kata
Dumbledore sambil mengangguk
kepadanya. Sebagai jawaban,
Profesor McGonagall membuang
ingus.
Dumbledore berbalik dan berjalan
pergi. Di sudut dia berhenti dan
mengeluarkan Pemadam-Lampu
peraknya. Dijetreknya sekali, dan
dua belas bola cahaya serentak
meluncur menuju lampu-lampu
jalanan, sehingga Privet Drive
mendadak terang dan dia bisa
melihat seekor kucing betina
menyelinap ke sudut di ujung jalan
lainnya. Dia juga masih bisa melihat
bungkusan selimut di depan pintu
rumah nomor empat.
"Semoga semua baik, Harry,"
gumamnya. Dia memutar tumitnya
dan dengan kebutan jubahnya, dia
lenyap.
Angin sepoi meniup pagar-pagar
tanaman di Privet Drive yang rapi,
yang berjajar diam dan teratur di
bawah langit kelam. Di tempat
setenang ini tidak akan pernah
kausangka akan terjadi hal-hal
menakjubkan. Harry Potter
berguling dalam selimutnya tanpa
terbangun. Dengan salah satu
tangan kecilnya memegang surat
yang ada di sampingnya, dia tidur
terus. Tanpa menyadari bahwa dia
istimewa, tanpa menyadari bahwa
dia terkenal, tanpa menyadari
bahwa beberapa jam lagi dia akan
terbangun mendengar jeritan Mrs
Dursley saat membuka pintu depan
untuk menaruh botol-botol susu,
atau bahwa dia akan melewatkan
beberapa minggu mendatang
didorong-dorong dan dicubiti oleh
sepupunya, Dudley… Dia tak
mungkin tahu bahwa pada saat ini,
orang-orang yang berkumpul secara
rahasia di seluruh negeri, semua
mengangkat gelas dan berkata
dengan suara pelan, "Untuk Harry
Potter—anak laki-laki yang bertahan
hidup!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar