Selamat datang di blog gue

Jumat, 14 Juni 2013

harry potter dan batu bertuah bab 2


Chapter 2 : KACA YANG LENYAP
SUDAH hampir sepuluh tahun
berlalu sejak suami-istri Dursley
terbangun dan menemukan
keponakan mereka di depan pintu,
tetapi Privet Drive hampir tak
berubah. Matahari terbit menyinari
halaman-halaman depan yang rapi
dan membuat berkilau angka empat
dari kuningan di pintu depan rumah
keluarga Dursley. Sinar matahari
merayap ke dalam ruang keluarga
mereka, yang masih nyaris sama
dengan pada malam Mr Dursley
menonton berita penting tentang
burung-burung hantu dulu. Hanya
foto-foto di rak di atas perapian
yang betul-betul menunjukkan
berapa lama waktu yang telah
berlalu. Sepuluh tahun yang lalu,
ada banyak foto anak yang tampak
seperti bola pantai besar merah
jambu memakai topi yang warnanya
berbeda-beda. Tetapi sekarang
Dudley Dursley sudah bukan bayi
lagi, dan sekarang foto-foto itu
menunjukkan anak gemuk berambut
pirang menaiki sepeda roda tiga
pertamanya, naik komidi putar,
bermain komputer dengan ayahnya,
dipeluk dan dicium ibunya. Dalam
ruang itu sama sekali tak ada tanda-
tanda bahwa ada anak lain yang
tinggal di rumah itu.
Padahal Harry Potter masih di situ,
saat ini sedang tidur, tapi tak akan
lama lagi. Bibinya, Petunia, sudah
bangun, dan suara nyaringnyalah
yang pertama memecah kesunyian
pagi itu.
"Bangun! Bangun! Cepat!"
Harry terbangun dengan kaget.
Bibinya menggedor pintu lagi.
"Banguuun!" lengkingnya. Harry
mendengarnya melangkah menuju
dapur, lalu bunyi wajan yang
diletakkan di atas kompor. Harry
berguling telentang lagi dan
berusaha mengingat-ingat mimpinya
yang terputus tadi. Mimpinya
menyenangkan. Ada motor terbang.
Dia merasa dia pernah mimpi yang
sama sebelumnya.
Bibinya sudah kembali berada di
depan pintu kamarnya.
"Kau sudah bangun belum?"
tuntutnya.
"Hampir," jawab Harry.
"Ayo, cepat. Aku mau kau yang
menggoreng daging asap. Jangan
sampai gosong. Aku ingin segalanya
sempurna pada hari ulang tahun
Dudley."
Harry mengeluh.
"Apa katamu?"
"Tidak, tidak apa-apa…"
Ulang tahun Dudley—bagaimana
mungkin dia bisa lupa? Dengan
enggan Harry turun dari tempat
tidur dan mencari-cari kaus kaki.
Ditemukannya sepasang di bawah
tempat tidur, dan setelah menarik
labah-labah dari salah satu di
antaranya, dipakainya kaus kaki itu.
Harry sudah terbiasa dengan labah-
labah, karena lemari di bawah
tangga penuh labah-labah, dan di
situlah dia tidur.
Setelah berpakaian, dia pergi ke
dapur. Meja dapur nyaris
tersembunyi di bawah tumpukan
hadiah untuk Dudley. Tampaknya
Dudley mendapatkan komputer baru
yang diinginkannya, belum lagi
televisi baru, dan sepeda balap.
Kenapa persisnya Dudley ingin
sepeda balap, sungguh suatu misteri
bagi Harry, karena Dudley gemuk
dan benci olahraga—kecuali, tentu
saja, bentuk olahraganya adalah
meninju orang lain. Kantong-tinju
favorit Dudley adalah Harry, tetapi
Dudley jarang berhasil mengenainya.
Harry memang tidak kelihatan gesit,
tetapi dia gesit sekali.
Mungkin ada hubungannya dengan
tinggal di dalam lemari yang gelap,
tetapi Harry termasuk kecil dan
kurus untuk umurnya. Dia bahkan
kelihatan lebih kecil dan lebih kurus
dari yang sesungguhnya karena
semua pakaiannya lungsuran
Dudley, dan Dudley empat kali lebih
besar daripadanya. Harry berwajah
kurus, lututnya menonjol,
rambutnya hitam, dan matanya
hijau cemerlang. Dia memakai
kacamata bulat yang bingkainya
dilekat dengan banyak selotip
karena seringnya Dudley memukul
hidungnya. Satu-satunya yang
disukai Harry penampilannya adalah
bekas luka tipis pada dahinya yang
berbentuk sambaran kilat. Sejauh
yang dia ingat, dari dulu bekas litu
sudah ada dan pertanyaan pertama
yang seingatnya dia tanyakan kepada
Bibi Petunia adalah bagaimana dia
mendapatkan bekas luka itu.
"Dalam kecelakaan waktu
orangtuamu meninggal," katanya.
"Dan jangan tanya-tanya lagi."
Jangan tanya-tanya—itu peraturan
pertama jika mau hidup tenang
bersama keluarga Dursley.
Paman Vernon masuk dapur ketika
Harry sedang membalik daging.
"Sisir rambutmu!" perintahnya,
sebagai ucapan selamat paginya.
Sekali seminggu, Paman Vernon
memandang dari atas korannya dan
berteriak bahwa Harry harus potong
rambut. Harry pastilah sudah
potong rambut lebih sering
dibanding seluruh teman sekelasnya
sekaligus. Tetapi sama saja,
rambutnya tetap saja tumbuh begitu
—berantakan.
Harry sedang menggoreng telur
ketika Dudley muncul di dapur
dengan ibunya. Dudley mirip sekali
dengan Paman Vernon. Wajahnya
lebar dan merah jambu, lehernya
pendek, matanya kecil, biru, berair.
Rambutnya yang tebal pirang
menempel rapi pada kepalanya yang
gemuk. Bibi Petunia sering
mengatakan bahwa Dudley kelihatan
seperti bayi malaikat. Sedangkan
Harry sering mengatakan Dudley
seperti babi pakai wig.
Harry menaruh piring berisi daging
dan telur ke atas meja. Ini susah,
karena nyaris tak ada tempat.
Dudley, sementara itu, menghitung
hadiahnya. Wajahnya langsung
cemberut.
"Tiga puluh enam," katanya sambil
memandang ayah dan ibunya.
"Kurang dua dibanding tahun lalu."
"Sayang, kau belum menghitung
hadiah Bibi Marge, lihat, ini dia di
bawah hadiah dari Mummy dan
Daddy."
"Baik, tiga puluh tujuh, kalau
begitu," kata Dudley, yang wajahnya
sudah merah. Harry yang sudah bisa
menduga kemarahan Dudley akan
meledak, cepat-cepat mengunyah
dagingnya. Siapa tahu Dudley akan
menjungkirkan meja.
Bibi Petunia rupanya menyadari
datangnya bahaya juga, karena dia
cepat-cepat berkata, "Dan kami akan
membelikan untukmu dua hadiah
lagi kalau kita jalan-jalan nanti.
Bagaimana, Manis? Dua hadiah
tambahan. Oke, kan?"
Sejenak Dudley berpikir.
Kelihatannya susah baginya.
Akhirnya dia berkata pelan-pelan,
"Jadi aku akan punya tiga puluh…
tiga puluh…"
"Tiga puluh sembilan, anak pintar,"
kata Bibi Petunia.
"Oh." Dudley duduk dengan keras
dan menjangkau bungkusan
terdekat. "Baiklah."
Paman Vernon tertawa.
"Si kecil ini tak mau rugi, persis
ayahnya. Pintar kau, Dudley!" Ia
mengacak rambut Dudley.
Saat itu telepon berdering dan Bibi
Petunia menjawabnya sementara
Harry dan Paman Vernon menonton
Dudley membuka sepeda balap,
kamera, pesawat terbang mainan
yang dikendalikan remote control,
enam belas permainan komputer,
dan perekam video. Dia sedang
merobek kertas pembungkus arloji
emas ketika Bibi Petunia muncul
kembali dengan wajah marah dan
cemas.
"Kabar buruk, Vernon," katanya.
"Mrs Figg kakinya patah. Jadi tak
bisa dititipi dia." Dia mengedikkan
kepala ke arah Harry.
Mulut Dudley melongo ngeri, tetapi
Harry senang. Setiap tahun, pada
hari ulah tahun Dudley, orang
tuanya mengajak Dudley dan
seorang temannya jalan-jalan, ke
taman hiburan, kios hamburger,
atau menonton bioskop. Harry
ditinggal, dititipkan pada Mrs Figg,
wanita tua aneh yang tinggal dua
jalan dari Privet Drive. Harry benci
tinggal di sana. Seluruh rumahnya
bau kol dan Mrs Figg memaksanya
melihat foto-foto semua kucing
yang pernah dimilikinya.
"Jadi bagaimana?" kata Bibi Petunia,
memandang Harry dengan berang,
seakan Harry yang merencanakan
sakitnya Mrs Figg. Harry tahu dia
seharusnya kasihan Mrs Figg kakinya
patah, tetapi dia mengingatkan
dirinya bahwa baru setahun lagi dia
harus melihat foto Tibbles, Snowy,
Mr Paws, dan Tufty.
"Kita bisa menelepon Marge,"
Paman Vernon menyarankan.
"Jangan ngaco, Vernon, dia kan
benci anak itu."
Keluarga Dursley sering
membicarakan Harry seperti ini,
seakan anak ini tidak ada, atau lebih
tepat lagi, seakan dia sesuatu yang
sangat menjijikkan, seperti bekicot.
"Bagaimana kalau siapa-namanya-t
uh, temanmu—Yvonne?"
"Sedang berlibur di Majorca," tukas
Bibi Petunia.
"Kalian bisa meninggalkan aku di
sini," Harry mengusulkan penuh
harap (dia akan bisa menonton
acara yang disukainya di televisi dan
mungkin bahkan mencoba komputer
Dudley).
Bibi Petunia kelihatan seperti
tersedak telur.
"Dan kalau kami pulang nanti rumah
sudah hancur?" geramnya.
"Aku tak akan meledakkan rumah,"
kata Harry, tetapi mereka tidak
memedulikannya.
"Kurasa kita bisa membawanya ke
kebun binatang," kata Bibi Petunia
pelan, "… dan meninggalkannya di
mobil…"
"Mobil kita baru, dia tak boleh
duduk sendirian…"
Dudley mulai menangis meraung-
raung. Sebetulnya sih dia tidak
betul-betul menangis. Sudah
bertahun-tahun dia tidak menangis.
Tetapi dia tahu bahwa kalau dia
mengerutkan mukanya dan meraung,
ibunya akan mengabulkan semua
yang diinginkannya.
"Dinky Duddydums, jangan
menangis, Mummy tak akan
membiarkannya merusak hari
istimewamu!" Bibi Petunia berseru
sambil memeluk Dudley.
"Aku… tak… mau… dia… i-i-ikut!"
Dudley menjerit di antara isak pura-
puranya. "Dia se-selalu merusak
acara!" Dia menyeringai jahat ke
arah Harry dari celah lengan ibunya.
Saat itu bel pintu berbunyi. "Ya
ampun, mereka sudah datang!" kata
Bibi Petunia panik—dan sekejap
kemudian sahabat Dudley, Piers
Polkiss, masuk bersama ibunya.
Piers anak kurus dengan wajah
seperti tikus. Dia biasanya yang
memegangi lengan anak-anak di
belakang punggung, Sementara
Dudley memukuli mereka. Dudley
langsung berhenti berpura-pura
menangis.
Setengah jam kemudian, Harry yang
tak mempercayai keberuntunganny
a, duduk di jok belakang mobil
bersama Piers dan Dudley, menuju
ke kebun binatang untuk pertama
kali dalam hidupnya. Paman dan
bibinya tak tahu lagi apa yang harus
dilakukan, tetapi sebelum mereka
berangkat, Paman Vernon
mengajaknya bicara.
"Kuperingatkan kau," katanya,
wajahnya yang lebar keunguan dekat
sekali dengan wajah Harry.
"Kuperingatkan kau sekarang—kalau
kau melakukan yang aneh-aneh
sedikit saja—kau akan dikurung di
lemari itu sampai Natal."
"Aku tidak akan melakukan apa-
apa," kata Harry, "sungguh…"
Tetapi Paman Vernon tidak percaya.
Yang lain pun tidak.
Susahnya, hal-hal aneh sering
terjadi di sekitar Harry, dan tak ada
gunanya memberitahu keluarga
Dursley bahwa bukan dia yang
menyebabkan hal-hal itu terjadi.
Pernah, Bibi Petunia yang sudah
sebal melihat Harry pulang dari
tukang cukur tetapi rambutnya
kelihatan sama saja, mengambil
gunting dapur dan memotong
rambut Harry sampai pendek sekali,
nyaris gundul, kecuali poninya yang
sengaja tidak dipotongnya untuk
"menyembunyikan bekas luka yang
mengerikan". Dudley terbahak-
bahak menertawakan Harry,
sedangkan Harry sendiri semalaman
tak bisa tidur, membayangkan
bagaimana di sekolah keesokan
harinya. Dia sudah selalu
ditertawakan gara-gara pakaiannya
yang kebesaran dan kacamatanya
yang dilekat dengan selotip. Tapi
paginya, ternyata rambutnya sudah
persis lagi dengan sebelum Bibi
Petunia mencukurnya. Dia dikurung
selama seminggu dalam lemarinya
gara-gara ini, walaupun dia sudah
mencoba menerangkan bahwa dia
tidak bisa menjelaskan bagaimana
rambutnya bisa tumbuh kembali
secepat itu.
Pada kesempatan lain, Bibi Petunia
memaksanya memakai sweter tua
Dudley yang menjijikkan (cokelat
dengan bulatan-bulatan hitam).
Semakin Bibi Petunia memaksa
menariknya melewati kepala Harry,
sweter itu semakin mengecil, sampai
akhirnya cuma seukuran baju
boneka tangan, dan jelas tak akan
cukup dipakai Harry. Bibi Petunia
memutuskan pastilah sweter itu
mengerut ketika dicuci. Dan betapa
leganya Harry, dia tidak dihukum
karena ini.
Tetapi sebaliknya, dia mendapat
kesulitan besar gara-gara ditemukan
di atap dapur sekolah. Seperti biasa
geng Dudley mengejar-ngejarnya,
dan Harry sama kagetnya dengan
yang lain ketika tiba-tiba saja dia
sudah duduk di atas cerobong asap.
Mr dan Mrs Dursley menerima surat
dari Ibu Kepala Sekolah yang sangat
marah, karena Harry telah
memanjat-manjat bangunan sekolah.
Tetapi sebetulnya yang dilakukannya
hanyalah (seperti diteriakkannya
kepada Paman Vernon dari dalam
lemarinya yang terkunci) melompat
ke belakang tempat sampah besar di
luar pintu dapur. Harry menduga
pastilah saat melompat itu dia
terbawa angin ke atas.
Tetapi hari ini semua akan berjalan
mulus. Bahkan duduk bersama
Dudley dan Piers pun diterimanya,
asal dia bisa melewatkan hari bukan
di sekolah, di dalam lemarinya, atau
di ruang tamu Mrs Figg yang bau
kol.
Sementara mengemudi, Paman
Vernon mengeluh kepada Bibi
Petunia. Hobinya memang
mengeluh: orang-orang di
kantornya, Harry, para wakil rakyat,
Harry, bank, dan Harry. Hanya
beberapa saja dari topik favoritnya.
Hari ini sepeda motor.
"… ngebut seperti orang gila,
preman-preman kurang kerjaan,"
komentarnya ketika ada motor yang
menyalip mereka.
"Aku pernah mimpi tentang motor,"
kata Harry yang tiba-tiba ingat
mimpinya. "Motornya terbang."
Paman Vernon nyaris menabrak
mobil di depannya. Dia berbalik di
tempat duduknya dan berteriak
kepada Harry, wajahnya seperti bit
raksasa yang berkumis. "MOTOR
TIDAK TERBANG!"
Dudley dan Piers cekikikan.
"Aku tahu motor tidak terbang,"
kata Harry. "Itu kan cuma mimpi."
Tetapi Harry menyesal sudah
ngomong. Kalau ada hal lain yang
dibenci keluarga Dursley, itu adalah
jika Harry menyebut-nyebut sesuatu
yang tidak semestinya terjadi, tak
peduli peristiwa itu cuma dalam
mimpi atau bahkan film kartun.
Rupanya mereka berpendapat ide-
ide Harry berbahaya.
Hari Sabtu itu cerah sekali dan
kebun binatang penuh dikunjungi
keluarga-keluarga. Mr dan Mrs
Dursley membelikan Dudley dan
Piers es krim cokelat besar di pintu
masuk, dan karena si gadis penuh-
senyum di mobil es krim itu sudah
telanjur menanyai Harry dia ingin es
krim apa sebelum mereka sempat
mengajak Harry pergi, mereka
membelikannya es loli lemon yang
murah. Cukup enak juga, pikir Harry
yang menjilati es lolinya sembari
menonton gorila yang menggaruk-
garuk kepalanya dan bertampang
mirip Dudley, hanya saja rambutnya
tidak pirang.
Belum pernah Harry segembira ini.
Dia berhati-hati, berjalan agak jauh
dari keluarga Dursley, agar Dudley
dan Piers, yang menjelang makan
siang sudah mulai bosan dengan
binatang-binatang, tidak kembali
melakukan hobi favorit mereka,
yaitu memukulinya. Mereka makan
di restoran kebun binatang dan
ketika Dudley marah-marah karena
es krimnya kurang besar, Paman
Vernon membelikannya porsi yang
lebih besar dan Harry diizinkan
menghabiskan pesanan pertamanya.
Harry belakangan merasa, bahwa
seharusnya dia tahu, hal
menyenangkan seperti ini tak
mungkin berlangsung terus.
Setelah makan siang mereka
mengunjungi rumah reptil. Di dalam
rumah reptil sejuk dan gelap,
dengan jendela-jendela berlampu di
sepanjang dindingnya. Di balik kaca,
berjenis-jenis kadal dan ular
merayap dan melata di atas
potongan-potongan kayu dan batu.
Dudley dan Piers ingin melihat
kobra besar beracun dan sanca
raksasa yang bisa meremuk
manusia. Dudley segera menemukan
ular terbesar di tempat itu. Ular itu
bisa membelitkan tubuhnya dua kali
ke mobil Paman Vernon dan
meremuknya seperti kaleng kerupuk
—tetapi saat ini kelihatannya dia
sedang malas. Sebetulnya, dia malah
sedang tidur nyenyak.
Dudley berdiri dengan hidung
menempel di kaca, memandang
gulungan cokelat berkilat itu.
"Suruh dia bergerak," rengeknya
pada ayahnya. Paman Vernon
mengetuk kaca tetapi si ular diam
saja.
"Ketuk lagi," Dudley menyuruh.
Paman Vernon mengetuk keras
dengan buku-buku jarinya, tetapi si
ular tetap saja tidur.
"Sungguh membosankan," keluh
Dudley. Dia pergi.
Harry ganti bergerak ke dekat kaca
dan memandang si ular lekat-lekat.
Dia tak akan heran kalau si ular
mati karena bosannya. Tak ada
teman selain orang-orang bodoh
yang mengetuk-ngetuk kaca,
mencoba mengganggunya sepanjang
hari. Ini lebih parah daripada
menggunakan lemari sebagai kamar
tidur, dengan satu-satunya
pengunjung adalah Bibi Petunia
yang menggedor-gedor pintu untuk
membangunkannya—paling tidak dia
kan bisa ke bagian rumah yang lain.
Ular itu tiba-tiba membuka matanya
yang seperti manik-manik. Pelan,
sangat pelan, ia mengangkat
kepalanya sampai matanya sejajar
dengan mata Harry.
Mata itu mengedip.
Harry terbelalak. Kemudian dia
cepat-cepat memandang berkeliling
untuk memastikan tak ada yang
melihat. Ternyata memang tak ada.
Dia kembali memandang si ular dan
balas mengedip juga.
Si ular mengedikkan kepala ke arah
Paman Vernon dan Dudley,
kemudian mendongak ke langit-
langit. Pandangannya kepada Harry
seakan jelas berkata, "Sepanjang
waktu memang seperti itu."
"Aku tahu," gumam Harry lewat
kaca, meskipun dia tak yakin si ular
bisa mendengarnya. "Pastilah sangat
menyebalkan."
Si ular mengangguk-angguk
bersemangat.
"Kau berasal dari mana sih?" tanya
Harry.
Ular itu menggerakkan ekornya ke
arah papan kecil di sebelah kaca.
Harry membaca tulisannya.
Boa Pembelit, Brasil.
"Enakkah di sana?"
Si boa pembelit menunjuk dengan
ekornya ke papan lagi dan Harry
meneruskan membaca: Ular yang
ada di sini dikembangbiakkan di
kebun binatang. "Oh, begitu—jadi,
kau belum pernah ke Brasil?"
Saat si ular menggelengkan kepala,
teriakan memekakkan telinga di
belakang Harry membuat mereka
berdua terlonjak. "DUDLEY! MR
DURSLEY! SINI LIHAT, ULARNYA
MENGGELENG-GELENG! KALIAN TAK
AKAN PERCAYA!"
Dudley datang tergopoh-gopoh.
"Minggir kau," katanya sambil
meninju dada Harry. Karena tak
menyangka akan diserang, Harry
terjatuh di lantai beton. Apa yang
terjadi berikutnya berlangsung
begitu cepat sehingga tak ada yang
melihat bagaimana terjadinya.
Sesaat Piers dan Dudley berdiri
menempel di kaca, detik berikutnya
mereka melompat mundur sambil
memekik ngeri.
Harry duduk ternganga: kaca bagian
depan kandang si ular telah lenyap.
Ular raksasa itu membuka gulungan
tubuhnya dengan cepat, meluncur di
lantai. Para pengunjung rumah
reptile menjerit-jerit panik dan
berlarian ke pintu keluar.
Saat si ular meluncur cepat
melewatinya, Harry bersedia
bersumpah dia mendengar suara
desis pelan berkata, "Brasil, aku
datang segera… Trimsss, Amigo."
Si penjaga rumah reptile shock dan
bengong.
"Tapi kacanya," katanya terus-
menerus, "ke mana kacanya?"
Direktur kebun binatang sendiri
yang membuatkan secangkir teh
kental manis untuk Bibi Petunia
sambil tak henti-hentinya minta
maaf. Piers dan Dudley cuma bisa
merepet. Sejauh yang Harry lihat,
ular itu tidak melakukan apa-apa,
kecuali dengan main-main
mengatup-ngatupkan mulutnya di
dekat tumit Dudley dan Piers saat
dia lewat. Tetapi ketika mereka
sudah kembali ke mobil Paman
Vernon, Dudley bercerita bagaimana
si ular nyaris menggigit kakinya
sampai putus, sementara Piers
bersumpah si ular mencoba
membelitnya sampai mati. Tetapi
yang paling parah, paling tidak bagi
Harry, adalah Piers sudah cukup
tenang untuk berkata, "Harry tadi
bicara dengan ular itu. Iya, kan,
Harry?"
Paman Vernon menunggu sampai
Piers meninggalkan rumah mereka,
sebelum dia mulai mencecar Harry.
Paman Vernon marah sekali, sampai
nyaris tak bisa bicara. Dia hanya
bisa bilang, "Pergi—lemari—tinggal
sana—tidak makan," sebelum dia
terenyak di kursi dan Bibi Petunia
cepat-cepat lari mengambilkannya
segelas besar brandy.
* * *
Lama kemudian Harry masih
berbaring di dalam lemarinya yang
gelap, ingin sekali rasanya punya
arloji. Dia sama sekali tak tahu jam
berapa sekarang dan dia juga tidak
yakin keluarga Dursley sudah tidur.
Sebelum mereka tidur, riskan sekali
jika dia keluar dan mengendap-
endap ke dapur untuk mengambil
makanan.
Dia telah tinggal bersama keluarga
Dursley selama sepuluh tahun,
sepuluh tahun penuh penderitaan.
Sejauh yang dia ingat, sejak dia
masih bayi dan orangtuanya
meninggal dalam kecelakaan mobil.
Kadang-kadang, jika dia mengingat-
ingat dengan keras selama jam-jam
panjang membosankan di dalam
lemarinya, muncul dalam ingatannya
pemandangan yang aneh: kilat
cahaya hijau menyilaukan dan rasa
sakit yang panas di dahinya. Dia
menganggap ini pastilah saat
tabrakan terjadi, walaupun dia tak
bisa membayangkan dari mana
cahaya hijau itu muncul. Dia sama
sekali tidak bisa mengingat
orangtuanya. Paman dan bibinya
tidak pernah bicara tentang mereka,
dan tentu saja dia dilarang
mengajukan pertanyaan. Tak ada
foto orangtuanya di rumah keluarga
Dursley.
Waktu dia masih lebih kecil, Harry
sering mengkhayalkan ada keluarga
tak dikenal yang datang untuk
membawanya pergi, tetapi ini tak
pernah terjadi. Keluarga Dursley
adalah satu-satunya keluarganya.
Meskipun demikian kadang-kadang
dia mengira (atau berharap) orang-
orang asing di jalan mengenalnya.
Dan mereka juga orang-orang asing
yang sangat aneh. Pernah seorang
laki-laki kecil memakai topi ungu
membungkuk kepadanya ketika dia
sedang berbelanja dengan Bibi
Petunia dan Dudley. Setelah dengan
marah menanyai Harry apakah dia
kenal orang itu, Bibi Petunia buru-
buru menggiring mereka keluar dari
toko itu tanpa membeli apa pun.
Seorang wanita tua bertampang liar
dan berdandan serba-hijau
melambai dengan riang kepadanya
dari bus. Seorang laki-laki botak
memakai mantel panjang ungu
bahkan menjabat tangannya di jalan
kemarin dulu dan kemudian pergi
begitu saja tanpa mengatakan apa-
apa. Yang paling aneh tentang
orang-orang ini adalah, tampaknya
mereka langsung lenyap begitu
Harry ingin melihat lebih jelas.
Di sekolah, Harry tak punya teman.
Semua anak tahu bahwa geng
Dudley membenci Harry Potter yang
aneh dengan pakaian bekasnya yang
kebesaran dan kacamatanya yang
bingkainya patah, dan tak seorang
pun berani menentang geng Dudley.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar