Selamat datang di blog gue

Sabtu, 15 Juni 2013

harry potter dan batu bertuah bab 3


Chapter 3 : SURAT DARI ENTAH
SIAPA
KABURNYA ular boa pembelit
membuat Harry menerima hukuman
kurungan paling lama. Saat dia
diizinkan keluar lemari lagi, liburan
musim panas telah mulai dan
kamera baru Dudley sudah rusak,
pesawat terbang mainannya sudah
menabrak sesuatu dan jatuh hancur,
dan pertama kali menaiki sepeda
balapnya, dia menabrak jatuh Mrs
Figg yang sedang menyeberang jalan
raya Privet Drive dengan tongkat
ketiaknya.
Harry senang sekolah libur, tetapi
dia tak bisa menghindari geng
Dudley yang setiap hari datang.
Piers, Dennis, Malcolm, dan Gordon
semuanya bertubuh besar dan
bodoh, tetapi karena Dudley
bertubuh paling besar dan paling
bodoh, dia jadi pemimpin geng.
Mereka semua senang ikut
permainan yang paling disukai
Dudley: berburu-Harry.
Inilah sebabnya Harry melewatkan
waktu sebanyak mungkin di luar
rumah, berjalan-jalan dan
memikirkan akhir liburan, saat dia
bisa melihat secercah kecil harapan.
Dengan datangnya bulan September
nanti, dia akan masuk SMP, dan
untuk pertama kali dalam hidupnya,
dia tidak akan bersekolah bersama-
sama Dudley. Dudley akan masuk
sekolah Paman Vernon dulu,
Smeltings. Piers Polkiss akan masuk
ke sana juga. Harry, sebaliknya,
akan bersekolah di Stonewall High,
SMP lokal. Dudley menganggap ini
sangat lucu.
"Hari pertama, mereka memasukkan
kepala anak-anak baru ke toilet di
Stonewall," katanya kepada Harry.
"Mau latihan dulu di atas?"
"Tidak, terima kasih," kata Harry.
"Kasihan toilet, belum pernah
kemasukan benda lain yang lebih
mengerikan daripada kepalamu—
jangan-jangan toilet itu sekarang
sedang mual." Kemudian Harry lari,
sebelum Dudley bisa mencerna
ucapannya tadi.
Pada suatu hari di bulan Juli, Bibi
Petunia membawa Dudley ke London
untuk membeli seragam Smeltings-
nya. Harry dititipkan di rumah Mrs
Figg. Mrs Figg tidak separah
biasanya. Ternyata kakinya patah
gara-gara dia tersandung salah satu
kucingnya, jadi sekarang dia tak
begitu suka kucing seperti
sebelumnya. Dibiarkannya Harry
menonton TV dan diberinya Harry
sepotong kue cokelat yang rasanya
sudah tengik.
Malam itu Dudley berparade
memakai seragam barunya di ruang
keluarga. Murid-murid Smeltings
memakai jas buntut merah tua,
celana jingga selutut, dan topi
jerami rata. Mereka juga membawa
tongkat, yang digunakan untuk
saling pukul kalau guru mereka
sedang tidak melihat. Ini diandaikan
sebagai latihan bagus untuk masa
depan mereka.
Ketika memandang Dudley dalam
seragam barunya, Paman Vernon
berkata parau bahwa ini saat paling
membanggakan dalam hidupnya.
Bibi Petunia menangis dan berkata
dia tak percaya pemuda gagah dan
tampan ini si Ickle Dudleykins.
Harry tak bisa bicara. Dia pikir
mungkin dua tulang iganya sudah
retak gara-gara menahan tawa.
Dapur berbau busuk ketika Harry
esok paginya turun untuk sarapan.
Bau itu datangnya dari ember metal
besar di tempat cuci piring. Harry
melongoknya. Ember itu penuh
gombal kotor yang mengapung di air
berwarna abu-abu.
"Apa ini?" tanyanya kepada Bibi
Petunia. Bibir Bibi Petunia langsung
cemberut, seperti biasanya jika
Harry berani mengajukan
pertanyaan.
"Seragam sekolahmu yang baru,"
jawabnya.
Harry memandang ke dalam ember
lagi.
"Oh," komentarnya. "Tak kusangka
harus basah begitu."
"Jangan bego," tukas Bibi Petunia.
"Aku sedang mencelup pakaian lama
Dudley dengan wenter abu-abu
untukmu. Kalau sudah selesai nanti,
akan sama seperti punya yang lain."
Harry jelas meragukan ini, tetapi dia
pikir lebih baik tidak membantah.
Dia duduk di depan meja makan dan
mencoba tidak memikirkan
bagaimana penampilannya pada hari
pertamanya di Stonewall High nanti
—seperti memakai potongan-potong
an kulit gajah tua, mungkin.
Dudley dan Paman Vernon muncul,
keduanya mengernyitkan hidung
gara-gara bau seragam Harry yang
baru. Paman Vernon seperti biasa
membuka korannya dan Dudley
memukul-mukulkan tongkat
Smeltings-nya—yang selalu
dibawanya ke mana-mana—di atas
meja.
Mereka mendengar bunyi klik kotak
surat dan jatuhnya surat-surat di
keset.
"Ambil surat, Dudley," kata Paman
Vernon dari balik korannya.
"Suruh saja Harry."
"Ambil surat, Harry."
"Suruh saja Dudley."
"Sodok dia dengan tongkat
Smeltings-mu, Dudley."
Harry menghindari sodokan tongkat
Smeltings dan keluar untuk
mengambil surat. Ada tiga benda
tergeletak di keset: kartu pos dari
adik perempuan Paman Vernon,
Marge, yang sedang berlibur di
Pulau Wight, sebuah amplop cokelat
yang kelihatannya berisi tagihan,
dan—surat untuk Harry.
Harry mengambil dan menatapnya,
jantungnya berdentang-dentang
seperti elastik besar yang
dilentingkan. Tak seorang pun,
sepanjang hidupnya, pernah menulis
kepadanya. Siapa yang akan
menyuratinya? Dia tak punya teman,
tak punya keluarga lain—dia juga
bukan anggota perpustakaan mana
pun, jadi dia bahkan belum pernah
dapat surat teguran kasar untuk
segera mengembalikan buku yang
dipinjamnya. Tetapi ternyata, ini ada
surat yang jelas-jelas ditujukan
kepadanya:
Mr H. Potter
Lemari di Bawah Tangga
Privet Drive no. 4
Little Whinging
Surrey
Amplopnya tebal dan berat, terbuat
dari perkamen—kulit yang
digunakan sebagai pengganti kertas.
Warnanya kekuningan dan nama
serta alamatnya ditulis dengan tinta
hijau zamrud. Tak ada prangkonya.
Membalik amplop itu dengan tangan
gemetar, Harry melihat segel ungu
bergambar lambang huruf "H" besar
yang dikelilingi singa, elang,
musang, dan ular.
"Cepat sedikit, Harry!" teriak Paman
Vernon dari dapur. "Buat apa kau
memeriksa kalau-kalau ada bom-
surat?" Dia menertawakan
leluconnya sendiri.
Harry kembali ke dapur, masih
menatap suratnya. Diserahkannya
tagihan dan kartu pos pada Paman
Vernon, lalu dia duduk dan pelan-
pelan mulai membuka amplop
kuningnya.
Paman Vernon merobek surat
tagihan, mendengus jijik, dan
membalik kartu pos.
"Marge sakit," dia memberitahu Bibi
Petunia. "Makan kerang aneh…"
"Dad!" mendadak Dudley berkata.
"Dad, Harry dapat apa tuh!"
Harry sedang akan membuka lipatan
suratnya, yang ditulis di atas kertas
perkamen tebal yang sama dengan
amplopnya, ketika tiba-tiba surat itu
disentakkan dari tangannya oleh
Paman Vernon.
"Itu suratku!" kata Harry, berusaha
merebutnya kembali.
"Siapa yang menulis padamu?"
seringai Paman Vernon, sambil
mengibaskan surat itu dengan satu
tangan agar membuka. Dan melirik
isinya. Wajahnya berubah warna
dari merah ke hijau lebih cepat
daripada lampu lalu lintas. Dan tidak
berhenti di situ. Dalam sekejap saja
wajahnya sudah putih abu-abu
seperti bubur busuk.
"P-P-Petunia!" gagapnya.
Dudley berusaha merebut surat itu
untuk membacanya, tetapi Paman
Vernon mengangkatnya tinggi-tinggi
hingga jauh dari jangkauannya. Bibi
Petunia mengambilnya dengan ingin
tahu dan membaca kalimat
pertamanya. Sesaat kelihatannya dia
akan pingsan. Dia memegangi
lehernya dan mengeluarkan suara
seperti tercekik.
"Vernon! Oh, astaga… Vernon!"
Mereka berpandangan, tampaknya
lupa bahwa Harry dan Dudley masih
berada di ruangan yang sama.
Dudley tidak biasa diabaikan.
Diketuknya kepala ayahnya keras-
keras dengan tongkat Smeltings-nya.
"Aku mau membaca surat itu,"
teriaknya.
"Aku mau membacanya," kata Harry
marah, "karena itu suratku."
"Keluar, kalian berdua," kata Paman
Vernon parau, seraya memasukkan
kembali surat itu ke dalam
amplopnya.
Harry bergeming.
"AKU MAU SURATKU!" teriaknya.
"Sini aku lihat!" Dudley memaksa.
"KELUAR!" gerung Paman Vernon.
Dicengkeramnya kerah baju Harry
dan Dudley dan dicampakkannya
mereka ke lorong, lalu dibantingnya
pintu dapur menutup. Harry dan
Dudley segera berkelahi seru, tanpa
suara, memperebutkan siapa yang
boleh mendengarkan lewat lubang
kunci. Dudley menang, maka Harry,
kacamatanya tergantung pada satu
telinga, berbaring tengkurap untuk
mendengarkan dari celah antara
pintu dan lantai.
"Vernon," Bibi Petunia berkata
dengan suara gemetar, "lihat
alamatnya. Bagaimana mungkin
mereka tahu di mana dia tidur? Apa
menurutmu mereka mengawasi
rumah kita?"
"Mengawasi—memata-matai—
mungkin juga membuntuti kita,"
gumam Paman Vernon cemas.
"Tapi apa yang harus kita lakukan,
Vernon? Apakah sebaiknya kita
balas? Kita katakan bahwa kita tak
ingin…"
Harry bisa melihat sepatu Paman
Vernon yang hitam mengilap
mondar-mandir di dapur.
"Tidak," katanya akhirnya. "Tidak,
kita abaikan saja. Jika mereka tidak
mendapat balasan… ya, itu yang
paling baik… kita tak akan
melakukan apa-apa…"
"Tetapi…"
"Aku tak mau dengar, Petunia!
Bukankah kita sudah bersumpah
waktu mengambilnya bahwa kita
akan membasmi omong kosong yang
berbahaya itu?"
* * *
Sore itu sepulang kerja, Paman
Vernon melakukan sesuatu yang
belum pernah dilakukannya. Dia
mengunjungi Harry di dalam
lemarinya.
"Mana suratku?" tanya Harry begitu
Paman Vernon berhasil menjejalkan
diri melewati pintu. "Siapa yang
menulis padaku?"
"Tidak ada. Surat itu keliru
dialamatkan padamu," kata Paman
Vernon pendek. "Sudah kubakar."
"Tidak keliru," kata Harry berang.
"Di alamatnya tertulis lemariku."
"DIAM!" raung Paman Vernon dan
dua ekor labah-labah terjatuh dari
langit-langit lemari. Dia menarik
napas dalam beberapa kali dan
kemudian memaksakan wajahnya
tersenyum, kelihatannya memelas
sekali.
"Er… ya, Harry… tentang lemari ini.
Bibimu dan aku sudah berpikir-
pikir… kau sebetulnya sudah terlalu
besar untuk tinggal di sini… kami
rasa lebih enak jika kau pindah ke
kamar Dudley yang satunya."
"Kenapa?" tanya Harry.
"Jangan tanya-tanya!" tukas
pamannya. "Bawa barang-barangmu
ke atas, sekarang."
Rumah keluarga Dursley punya
empat kamar: satu untuk Paman
Vernon dan Bibi Petunia, satu untuk
tamu (biasanya adik Paman Vernon,
Marge), satu adalah kamar tidur
Dudley, dan satunya lagi tempat
Dudley menyimpan mainan dan
barang-barangnya yang tidak muat
ditaruh di kamar tidurnya. Harry
hanya perlu sekali angkut untuk
memindahkan barang-barangnya
dari lemari ke kamar ini. Dia duduk
di tempat tidur dan memandang
berkeliling. Hampir semua barang di
kamar ini rusak. Kamera yang baru
sebulan tergeletak di atas tank kecil
yang ketika dikendarai Dudley
pernah melindas anjing tetangga. Di
sudut ada televisi pertama Dudley,
yang ditendangnya sampai bolong
ketika acara favoritnya batal
ditayangkan. Ada sangkar burung
besar, dulunya sangkar seekor
burung nuri yang kemudian ditukar
Dudley di sekolah dengan senapan
angin betulan. Senapan itu sekarang
ada di rak, larasnya bengkok
kedudukan Dudley. Rak-rak lain
penuh buku. Hanya buku-buku
itulah yang tampaknya tak pernah
disentuh.
Dari bawah terdengar Dudley
berteriak-teriak kepada ibunya, "Aku
tak mau dia di sana… aku butuh
kamar itu… suruh dia keluar…"
Harry menghela napas dan
membaringkan diri di tempat tidur.
Kemarin dia akan bersedia
memberikan apa saja untuk bisa
berada di kamar ini. Hari ini dia
lebih memilih berada kembali di
lemarinya dengan surat itu daripada
di sini tanpa surat.
Paginya saat sarapan, semua agak
diam. Dudley uring-uringan. Dia
sudah menjerit-jerit, memukuli
ayahnya dengan tongkat Smeltings-
nya, pura-pura sakit, menendang
ibunya, dan melempar kura-kuranya
ke atap rumah kaca sampai atap itu
berlubang, tapi tetap saja dia tidak
memperoleh kembali kamarnya.
Harry merenungkan saat jam begini
kemarin dan menyesal sekali kenapa
dia tidak membuka suratnya
sewaktu masih di lorong. Paman
Vernon dan Bibi Petunia saling
pandang dengan wajah keruh.
Ketika tukang pos tiba, Paman
Vernon, yang kelihatannya mencoba
berbaik-baik kepada Harry,
menyuruh Dudley mengambil surat.
Mereka mendengar Dudley
memukul-mukulkan tongkat
Smeltings-nya sambil turun ke
lorong. Kemudian dia berteriak,
"Ada surat lagi! Mr H. Potter, Kamar
Paling Kecil, Privet Drive nomor
4…"
Dengan pekik tertahan Paman
Vernon melompat dari kursinya dan
berlari turun. Harry di belakangnya.
Paman Vernon harus memiting
Dudley ke lantai untuk merebut
surat itu, dan itu makin sulit
dilakukannya karena Harry
mengalungkan tangan ke leher
Paman Vernon dari belakang.
Setelah semenit pergulatan kalang
kabut, dan semuanya kena pukul
tongkat Smeltings, Paman Vernon
bangkit berdiri, tersengal-sengal,
dengan surat Harry terpegang erat
di tangan.
"Kembali ke lemarimu—maksudku,
kamarmu," desisnya kepada Harry.
"Dudley… pergi… pergi."
Harry berjalan bolak-balik mengitari
kamar barunya. Ada yang tahu dia
sudah pindah dari lemarinya dan
mereka rupanya tahu dia belum
menerima surat pertamanya. Jelas
itu berarti mereka akan mencoba
lagi. Dan kali ini dia akan
memastikan mereka tidak akan
gagal. Dia punya rencana.
* * *
Jam weker yang sudah dibetulkan
berdering pukul enam keesokan
paginya. Harry cepat-cepat
mematikannya dan berganti pakaian
tanpa menimbulkan suara. Jangan
sampai keluarga Dursley terbangun.
Diam-diam dia turun tanpa
menyalakan lampu satu pun.
Dia akan menunggu tukang pos di
sudut Privet Drive dan mengambil
surat-surat untuk rumah nomor
empat lebih dulu. Jantungnya
berdegup kencang saat dia merayap
di lorong gelap menuju pintu
depan…
"AAAAARRRGH!"
Harry kaget dan terlonjak—dia
menginjak sesuatu yang besar dan
empuk di keset—sesuatu yang
hidup!
Lampu menyala di loteng dan
betapa kagetnya Harry, benda
empuk yang diinjaknya tadi ternyata
wajah pamannya. Paman Vernon
sengaja tidur di depan pintu dalam
kantong tidur. Jelas dia bermaksud
menghalangi Harry melakukan apa
yang akan dilakukannya. Selama
kira-kira setengah jam dia memarahi
Harry, kemudian menyuruhnya
membuat secangkir teh. Harry
terseok sedih ke dapur, dan pada
saat dia kembali, surat sudah
datang, jatuh persis di pangkuan
Paman Vernon. Harry bisa melihat
tiga surat yang alamatnya ditulis
dengan tinta hijau.
"Berikan…," dia baru mau bicara,
Paman Vernon sudah merobek-
robek surat-surat itu di depan
matanya.
Paman Vernon tidak ke kantor hari
itu. Dia tinggal di rumah dan
memaku kotak suratnya.
"Kalau mereka tidak bisa mengirim
surat, mereka akan menyerah," dia
menjelaskan kepada Bibi Petunia
dengan mulut penuh paku.
"Aku tidak yakin, Vernon."
"Oh, cara berpikir orang-orang ini
aneh, Petunia, tidak seperti kita,"
kata Paman Vernon sambil memukul
paku dengan sepotong kue buah
yang baru saja dibawakan Bibi
Petunia.
* * *
Hari Jumatnya, tak kurang dari dua
belas surat untuk Harry datang.
Karena tak bisa dimasukkan ke
dalam kotak surat, surat-surat itu
disorongkan di bawah pintu,
disisipkan ke celah pintu, dan
beberapa di antaranya bahkan
dijejalkan lewat jendela kecil toilet
bawah.
Paman Vernon tinggal di rumah lagi.
Setelah membakar semua surat itu,
dia mengeluarkan palu dan paku dan
menutup semua celah di pintu
depan dan belakang dengan papan,
sehingga tak seorang pun bisa
keluar. Dia bersenandung Berjingkat
di Antara Tulip-tulip sambil bekerja,
dan terlonjak jika ada bunyi sekecil
apa pun.
* * *
Hari Sabtunya, yang terjadi sudah di
luar kendali. Dua puluh empat
pucuk surat untuk Harry berhasil
diselundupkan masuk rumah,
digulung dan disembunyikan dalam
dua lusin telur yang dijulurkan
tukang susu mereka yang sangat
kebingungan kepada Bibi Petunia
lewat jendela ruang keluarga.
Sementara Paman Vernon marah-
marah menelepon kantor pos dan
perusahaan susu mencari orang
yang bisa disalahkan, Bibi Petunia
menghancurkan surat-surat itu
dalam mixer makanannya.
"Siapa sih yang begitu ingin bicara
denganmu?" Dudley bertanya kepada
Harry dengan keheranan.
* * *
Pada hari Minggu pagi, Paman
Vernon duduk di meja untuk
sarapan, kelihatan lelah tetapi
senang.
"Tukang pos tidak datang pada hari
Minggu," dia mengingatkan mereka
dengan riang seraya mengoleskan
selai pada korannya, "jadi tak ada
surat sialan hari ini…"
Ada yang berdesis meluncur turun
dalam cerobong asap ketika Paman
Vernon bicara, dan mengemplang
belakang kepalanya. Detik
berikutnya tiga puluh atau empat
puluh surat meluncur-luncur dari
perapian seperti peluru. Keluarga
Dursley menunduk menghindar,
tetapi Harry melompat mencoba
menangkap satu di antaranya…
"Keluar! KELUAR!"
Paman Vernon menangkap pinggang
Harry dan melemparkannya ke
lorong di luar. Setelah Bibi Petunia
dan Dudley keluar dengan lengan
menutupi muka, Paman Vernon
membanting pintu menutup. Mereka
bisa mendengar surat-surat masih
mengalir ke dalam ruangan,
melenting-lenting mengenai dinding
dan lantai.
"Sudah kelewatan," kata Paman
Vernon, berusaha berbicara dengan
tenang, tapi pada saat bersamaan
mencabuti kumisnya dengan panik.
"Aku mau kalian semua kembali ke
sini lima menit lagi, siap berangkat.
Kita akan pergi. Bawa saja pakaian
secukupnya. Jangan membantah!"
Paman Vernon kelihatan berbahaya
sekali dengan separo kumisnya
lenyap, sehingga tak seorang pun
berani membantah. Sepuluh menit
kemudian mereka berhasil keluar
dari pintu yang sudah dipaku rapat
dan berada dalam mobil, yang
ngebut menuju jalan tol. Dudley
terisak-isak di jok belakang. Ayahnya
tadi memukul kepalanya gara-gara
mereka harus menunggunya
mencoba menjejalkan televisi, video,
dan komputernya ke dalam tas
olahraganya.
Mobil terus meluncur. Terus
meluncur. Bahkan Bibi Petunia pun
tak berani bertanya ke mana mereka
pergi. Sekali-sekali Paman Vernon
tiba-tiba menikung tajam dan
meluncurkan mobilnya ke arah
berlawanan.
"Sesatkan mereka… sesatkan
mereka," gumam Paman Vernon
setiap kali dia melakukan ini.
Mereka bahkan tidak berhenti untuk
makan sepanjang hari. Saat malam
tiba, Dudley sudah menangis
meraung-raung. Belum pernah dia
mengalami hari seburuk ini. Dia
lapar, dia tidak bisa menonton lima
acara televisi yang ingin
ditontonnya, dan belum pernah dia
melewatkan waktu selama itu tanpa
meledakkan alien di layar
komputernya.
Paman Vernon akhirnya berhenti di
depan hotel suram di luar sebuah
kota besar. Dudley dan Harry
berbagi kamar dengan dua tempat
tidur dan seprai lembap yang
berbau lumut. Dudley mendengkur,
tetapi Harry tak bisa tidur. Dia
duduk di ambang jendela,
memandang lampu-lampu mobil
yang lewat dan bertanya-tanya
dalam hati…
* * *
Mereka makan cornflake melempem
dan tengik serta tomat kalengan di
atas roti panggang sebagai sarapan
keesokan harinya. Baru saja mereka
selesai, pemilik hotel mendatangi
meja mereka.
"Maaf, tapi apakah salah satu dari
kalian Mr H. Potter? Ada kira-kira
seratus surat begini di meja
resepsionis."
Wanita itu mengangkat surat itu
sehingga mereka bisa membaca
alamatnya yang ditulis dengan tinta
hijau:
Mr H. Potter
Kamar 17
Hotel Railview
Cokeworth
Harry mau meraih surat itu, tetapi
Paman Vernon menampar
tangannya. Wanita itu terbelalak.
"Akan saya ambil," kata Paman
Vernon, cepat-cepat berdiri dan
mengikutinya meninggalkan ruang
makan.
* * *
"Apakah tidak sebaiknya kita pulang
saja, Sayang?" Bibi Petunia
menyarankan dengan takut-takut
beberapa jam kemudian, tetapi
Paman Vernon kelihatannya tidak
mendengarnya. Entah apa yang
dicarinya, tak seorang pun tahu. Dia
membawa mereka ke tengah hutan,
keluar dari mobilnya, memandang
berkeliling, menggelengkan kepala,
masuk lagi ke dalam mobil, dan
mobil pun meluncur lagi. Hal yang
sama terjadi di tengah sawah yang
sedang dibajak, di tengah jembatan
gantung, dan di atas tempat parkir
mobil yang bertingkat.
"Daddy sudah gila, ya?" Dudley
bertanya kepada Bibi Petunia sore
itu. Paman Vernon telah memarkir
mobilnya di tepi pantai, mengunci
mereka bertiga di dalamnya, lalu
menghilang.
Hujan mulai turun. Tetesnya yang
besar-besar mengetuk-ngetuk atap
mobil. Dudley tersedu-sedu.
"Ini hari Senin," katanya kepada
ibunya. "Ada acara si Hebat
Humberto di televisi malam ini. Aku
mau nonton."
Senin. Harry jadi ingat sesuatu.
Kalau hari ini Senin, dan Dudley bisa
diandalkan dalam hal ini,
sehubungan dengan kegemarannya
nonton televisi—maka besok, Selasa,
adalah hari ulang tahun Harry yang
kesebelas. Tentu saja hari-hari ulang
tahunnya yang telah lewat bukanlah
hari yang menyenangkan. Tahun
lalu, misalnya, keluarga Dursley
menghadiahinya satu gantungan
mantel dan sepasang kaus kaki bekas
Paman Vernon. Tapi, kita kan tidak
berumur sebelas tiap hari.
Paman Vernon kembali sambil
tersenyum. Dia juga membawa
bungkusan kecil panjang dan tidak
menjawab ketika ditanya Bibi
Petunia apa yang dibawanya itu.
"Sudah kutemukan tempat yang
sempurna!" katanya. "Ayo, semua
keluar!"
Di luar mobil udara dingin sekali.
Paman Vernon menunjuk sesuatu
yang kelihatan seperti batu karang
besar yang menjorok ke laut.
Bertengger di atas karang itu ada
gubuk kecil yang sangat kumuh dan
bobrok. Kelihatan menyedihkan
sekali. Satu hal sudah jelas, tak ada
televisi di gubuk itu.
"Malam ini diramalkan akan ada
badai!" kata Paman Vernon senang,
sambil menepukkan tangan. "Dan
Bapak ini sudah berbaik hati mau
meminjamkan perahunya!"
Seorang laki-laki tua ompong
berjalan santai mendekati mereka.
Sambil menyeringai agak jahat, dia
menunjuk perahu dayung tua yang
terapung-apung di air abu-abu gelap
di bawah mereka.
"Aku sudah beli bekal untuk kita,"
kata Paman Vernon, "jadi, semua
naik!"
Dingin sekali di perahu, sampai
mereka serasa membeku. Cipratan
air laut dan tetes hujan sedingin es
merayap menuruni tengkuk dan
angin dingin menerpa wajah mereka.
Setelah rasanya berjam-jam
kemudian, tibalah mereka di batu
karang. Paman Vernon, terpeleset-
peleset, memimpin menuju ke gubuk
reyot itu.
Bagian dalam gubuk sungguh
menjijikkan. Bau ganggang laut
menyengat, angin bersuit-suit
menembus lewat celah-celah di
dinding papan. Perapiannya lembap
dan kosong. Hanya ada satu kamar.
Bekal Paman Vernon ternyata
sebungkus keripik dan empat pisang
untuk setiap orang. Dia mencoba
menyalakan api, tetapi keempat
bungkus keripik yang kini sudah
kosong itu cuma mengerut dan
berasap.
"Surat-surat itu sekarang bisa
digunakan, eh?" katanya riang.
Paman Vernon sedang senang sekali.
Jelas dia mengira tak akan ada orang
yang bisa mengejar mereka dalam
badai untuk mengantar surat. Harry
dalam hati mengakui, dan ini
membuatnya sedih.
Ketika malam tiba, badai yang
dijanjikan menerjang di sekitar
mereka. Cipratan air dari ombak-
ombak yang bergulung tinggi
menyembur ke dinding pondok dan
angin kencang mengguncangkan
jendela-jendela yang kotor. Bibi
Petunia menemukan beberapa
selimut apak bulukan dari kamar
dan menyiapkan tempat tidur untuk
Dudley di sofa yang sudah
berlubang-lubang dimakan ngengat.
Dia dan Paman Vernon tidur di
tempat tidur reyot di kamar dan
Harry dibiarkan mencari sendiri
tempat yang paling empuk di lantai
dan meringkuk di bawah selimut
paling tipis dan paling compang-
camping.
Semakinmalam badai mengamuk
semakin hebat. Harry tak bisa tidur.
Dia gemetar kedinginan dan
membalikkan tubuh, mencoba
mencari posisi yang lebih nyaman.
Perutnya yang lapar
berkeroncongan. Dengkur Dudley
teredam oleh gemuruh guruh yang
mulai menggelegar menjelang
tengah malam. Jarum arloji Dudley
yang menyala—tangan gemuknya
yang memakai arloji berjuntai ke
bawah sofa—menunjukkan bahwa
sepuluh menit lagi Harry akan
berusia sebelas tahun. Dia berbaring
memandangi saat ulang tahunnya
yang berdetik-detik semakin dekat,
bertanya-tanya apakah keluarga
Dursley akan ingat soal ulang
tahunnya, bertanya-tanya di
manakah gerangan orang yang
menulis surat padanya sekarang.
Lima menit lagi. Harry mendengar
sesuatu yang berkeriut di luar. Dia
berharap atap gubuk tidak akan
runtuh, walaupun kalau iya, dia
mungkin akan lebih hangat. Empat
menit lagi. Mungkin rumah di Privet
Drive akan penuh surat kalau
mereka pulang nanti, sehingga dia
bisa mencuri satu.
Tiga menit lagi. Ombakkah itu, yang
menghantam karang begitu keras?
Dan (dua menit lagi) bunyi derak
aneh apa itu? Apa karangnya remuk
dan berjatuhan ke laut?
Semenit lagi dia akan berusia
sebelas tahun. Tiga puluh detik…
dua puluh… sepuluh… sembilan,
mungkin dia akan membangunkan
Dudley, sekadar supaya Dudley
marah saja… tiga… dua… satu…
BOOM!
Seluruh gubuk bergetar dan Harry
langsung duduk tegak, memandang
pintu. Ada orang di luar pintu,
menggedor-gedor mau masuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar