Selamat datang di blog gue

Sabtu, 15 Juni 2013

harry potter dan batu bertuah bab 4


Chapter 4 : SI PEMEGANG KUNCI
BOOM! Mereka menggedor lagi.
Dudley terbangun dengan kaget.
"Di mana meriamnya?" tanyanya
bego.
Terdengar gubrakan di belakang
mereka dan Paman Vernon muncul
dengan tergopoh-gopoh ke dalam
ruangan. Tangannya memegang
senapan—sekarang mereka tahu apa
yang ada dalam bungkusan kurus
panjang yang tadi dibawanya.
"Siapa itu?" teriaknya.
"Kuperingatkan kau… aku
bersenjata!"
Sunyi sesaat. Kemudian…
GUBRAAAK!
Pintu dihantam begitu keras sampai
terlepas dari engselnya, dan dengan
bunyi memekakkan telinga pintu itu
terempas ke lantai.
Sesosok raksasa berdiri di depan
pintu. Wajahnya nyaris tersembunyi
di balik rambut panjangnya yang
awut-awutan dan berewok liar yang
berantakan. Tetapi kau bisa melihat
matanya, berkilauan bagai dua
kumbang hitam di balik rambut
awut-awutan itu.
Si raksasa memaksakan diri masuk,
menunduk sehingga kepalanya cuma
menyentuh langit-langit. Dia
membungkuk, memungut pintu, dan
dengan mudah memasangnya
kembali ke engselnya. Deru badai di
luar teredam sedikit. Dia menoleh
memandang mereka semua.
"Bisa bikinkan teh, kan? Tidak
gampang datang ke sini…"
Dia melangkah ke sofa. Dudley
duduk membeku ketakutan.
"Minggir, karung besar," kata orang
asing itu.
Dudley mencicit dan bersembunyi di
belakang punggung ibunya. Bibi
Petunia sendiri berjongkok
ketakutan di belakang Paman
Vernon.
"Nah, ini dia Harry!" kata si raksasa.
Harry mendongak memandang
wajah liar dan galak itu, dan melihat
sudut mata kumbangnya berkerut
penuh senyum.
"Terakhir kali aku melihatmu, kau
masih bayi," kata si raksasa. "Kau
mirip sekali ayahmu, tapi matamu
mata ibumu."
Paman Vernon mengeluarkan suara
serak yang aneh.
"Saya meminta Anda segera pergi,
Sir!" katanya. "Anda menjebol pintu
dan masuk tanpa izin."
"Ah, tutup mulut, Dursley, jangan
sok," kata si raksasa. Tangannya
menjangkau ke belakang sofa,
menjambret senapan dari tangan
Paman Vernon, membengkokkannya
seakan senapan itu terbuat dari
karet saja, lalu melemparkannya ke
sudut ruangan.
Paman Vernon mengeluarkan suara
aneh lagi, seperti cicit tikus yang
terinjak.
"Yang jelas, Harry," kata si raksasa,
berbalik membelakangi keluarga
Dursley, "selamat ulang tahun
untukmu, selamat panjang umur.
Bawa sesuatu buatmu—mungkin tadi
kududuki, tapi rasanya pasti masih
enak."
Dari saku dalam mantel hitamnya
dia mengeluarkan kotak yang agak
penyok. Harry membuka dengan
tangan gemetar. Di dalam kotak itu
ada kue cokelat besar dengan tulisan
Selamat Ulang Tahun, Harry dari
gula hijau.
Harry menengadah menatap si
raksasa. Dia bermaksud
mengucapkan terima kasih, tetapi
kata-katanya menghilang dalam
perjalanan ke mulutnya, dan yang
dikatakannya malah, "Siapa kau?"
Si raksasa tertawa.
"Betul, aku belum perkenalkan diri.
Rubeus Hagrid, pemegang kunci dan
pengawas binatang liar di
Hogwarts."
Dia mengulurkan tangan yang besar
sekali dan mengguncang seluruh
lengan Harry.
"Bagaimana tehnya tadi, eh?"
katanya, seraya menggosok-gosok
kan tangannya. "Aku juga tidak tolak
minuman yang lebih keras, kalau
memang ada."
Pandangannya tertuju ke perapian
dengan bungkus keripik yang sudah
mengerut dan dia mendengus. Dia
membungkuk ke perapian. Mereka
tidak bisa melihat apa yang
dilakukannya, tetapi ketika dia tegak
lagi sedetik kemudian, api sudah
menyala-nyala. Api itu memenuhi
pondok yang lembap dengan
cahayanya yang bergerak-gerak dan
Harry merasa kehangatan
menyelubunginya, seakan dia masuk
ke dalam bak berisi air panas.
Si raksasa duduk kembali di sofa,
yang langsung melesak keberatan
dan mulai mengeluarkan berbagai
benda dari dalam sakunya: ceret
tembaga, satu pak sosis lezat,
tusukan panjang, teko, beberapa
cangkir yang sudah somplak, dan
sebotol cairan kuning-kecokelatan
yang diteguknya dulu sebelum dia
menyiapkan makanan. Segera saja
pondok dipenuhi bunyi dan bau
sosis panggang yang lezat. Tak
seorang pun bicara ketika si raksasa
bekerja, tetapi ketika dia melepas
enam sosis gemuk berminyak yang
sedikit gosong dari tusukannya,
Dudley mulai gelisah. Paman Vernon
berkata tajam, "Jangan sentuh apa
pun yang diberikannya padamu,
Dudley."
Si raksasa tertawa seram.
"Anakmu yang sudah sebulat bola
tidak perlu digemukkan lagi,
Dursley, jangan khawatir."
Dia menyerahkan sosis-sosis itu
kepada Harry. Harry, yang sudah
lapar sekali, belum pernah makan
makanan selezat itu, tetapi dia tetap
tak bisa melepas pandangannya dari
si raksasa. Akhirnya, karena tak
seorang pun kelihatannya akan
menjelaskan, dia berkata, "Maaf,
tapi saya tetap belum tahu siapa
Anda."
Si raksasa menghirup tehnya dalam
tegukan besar, dan melap mulut
dengan punggung tangannya.
"Panggil aku Hagrid," katanya.
"Semua panggil aku begitu. Dan
seperti sudah kubilang, aku
pemegang kunci di Hogwarts—kau
tentunya sudah tahu tentang
Hogwarts."
"Eh… belum," kata Harry.
Hagrid kelihatannya terperangah.
"Maaf," kata Harry cepat-cepat.
"Maaf?" balas Hagrid, menoleh
menatap keluarga Dursley yang
mengerut dalam bayangan
kegelapan. "Merekalah yang harus
minta maaf! Aku tahu suratmu tidak
kauterima, tapi tak pernah kuduga
kau tidak tahu tentang Hogwarts.
Astaga! Tak pernahkah kau ingin
tahu di mana orangtuamu belajar
semua itu?"
"Semua apa?" tanya Harry.
"SEMUA APA?" gelegar Hagrid.
"Tunggu dulu!"
Dia melompat berdiri. Dalam
kemarahannya dia seolah memenuhi
seluruh pondok. Keluarga Dursley
merapat ketakutan ke tembok.
"Apa ini berarti," dia menggeram
kepada keluarga Dursley, "bahwa
anak ini… anak ini!… tidak tahu
tentang… tidak tahu APA-APA?"
Harry merasa ini sudah kelewatan.
Dia kan sekolah, dan angka-
angkanya juga tidak buruk.
"Aku tahu beberapa hal," katanya.
"Aku bisa Matematika dan pelajaran-
pelajaran lain."
Tetapi Hagrid hanya mengibaskan
tangannya dan berkata, "Tentang
dunia kita, maksudku. Duniamu,
duniaku. Dunia orangtuamu."
"Dunia apa?"
Hagrid kelihatannya sudah siap
meledak.
"DURSLEY!" teriakannya
mengguntur.
Paman Vernon, yang sudah pucat
pasi, menggumamkan sesuatu yang
kedengarannya seperti
"Mimbelwimbel!" Hagrid menatap
liar pada Harry.
"Tapi kau pasti tahu tentang ayah
dan ibumu," katanya. "Maksudku,
mereka terkenal. Kau terkenal."
"Apa? Ja-jadi, ayah dan ibuku
terkenal?
"Kau tak tahu… kau tak tahu…"
Hagrid menyisir rambut dengan jari-
jarinya, memandang Harry
keheranan.
"Kau tak tahu kau ini apa?" katanya
akhirnya.
Paman Vernon mendadak
menemukan suaranya.
"Stop!" perintahnya. "Stop di sini,
Sir. Saya larang Anda memberitahu
anak ini apa pun!"
Orang yang lebih berani dari Vernon
Dursley pastilah sudah gemetar
menerima pandangan marah Hagrid.
Ketika Hagrid bicara, setiap suku
katanya gemetar saking marahnya
dia.
"Kau tak pernah bilang padanya?
Tak pernah beritahu dia apa yang
ada dalam surat yang ditinggalkan
Dumbledore untuknya? Aku ada di
sana! Aku lihat sendiri Dumbledore
tinggalkan surat itu, Dursley! Dan
kausembunyikan itu darinya selama
bertahun-tahun ini?"
"Menyembunyikan apa dariku?"
tanya Harry tak sabar.
"STOP! KULARANG KAU!" teriak
Paman Vernon panik.
Bibi Petunia tersedak kaget.
"Ah, peduli amat kalian berdua,"
kata Hagrid. "Harry—kau penyihir."
Sunyi senyap di dalam pondok.
Hanya debur ombak dan deru angin
yang terdengar.
"Aku apa?" tanya Harry kaget.
"Penyihir, tentu saja," kata Hagrid
yang kembali duduk di sofa,
sehingga sofanya berderit dan
melesak lebih dalam lagi. "Dan
penyihir yang hebat, kalau dilatih
sedikit. Dengan ayah dan ibu
sehebat itu, mana bisa lain lagi? Dan
kurasa sudah waktunya kaubaca
suratmu."
Harry mengulurkan tangan,
akhirnya, untuk mengambil amplop
kekuningan dengan alamat ditulis
dengan tinta hijau ditujukan kepada
Mr H. Potter, Lantai, Pondok-di-
Atas-Karang, Laut. Harry menarik
keluar suratnya dan membacanya.
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Kepala Sekolah: Albus Dumbledore
(Order of Merlin, Kelas Pertama,
Penyihir Hebat, Kepala Penyihir,
Konfederasi Sihir Internasional)
Mr Potter yang baik,
Dengan gembira kami mengabarkan
bahwa kami menyediakan tempat
untuk Anda di Sekolah Sihir
Hogwarts. Terlampir daftar semua
buku dan peralatan yang
dibutuhkan.
Tahun ajaran baru mulai 1
September. Kami menunggu burung
hantu Anda paling lambat 31 Juli.
Hormat saya,
Minerva McGonagall
Wakil Kepala Sekolah
Berbagai pertanyaan meledak-ledak
dalam kepala Harry seperti kembang
api dan dia tak dapat memutuskan
mana yang akan ditanyakan lebih
dulu. Sesudah lewat beberapa menit,
dia bertanya tergagap, "Apa
maksudnya mereka menunggu
burung hantuku?"
"Gordon bloon, aku jadi ingat," kata
Hagrid sembari menepakkan tangan
ke dahinya dengan kekuatan yang
cukup untuk membalikkan kereta
kuda. Dan dari dalam saku lain di
balik mantelnya, dia menarik keluar
burung hantu—betul-betul burung
hantu hidup, yang bulunya agak
berantakan—pena bulu panjang, dan
gulungan kertas. Dengan menggigit
lidah dia menulis pesan yang bisa
dibaca Harry dengan terbalik:
Mr Dumbledore yang terhormat,
Surat Harry sudah kusampaikan.
Akan bawa dia beli perlengkapan
besok. Cuaca buruk sekali. Mudah-
mudahan Anda baik.
Hagrid
Hagrid menggulung pesannya,
menyerahkannya kepada si burung
hantu, yang menggigitnya di
paruhnya, lalu melangkah ke pintu
dan melontarkan si burung hantu ke
dalam badai. Kemudian dia kembali
dan duduk lagi seakan tindakannya
tadi sewajar orang bicara di telepon.
Harry sadar mulutnya ternganga.
Cepat-cepat dikatupkannya.
"Sampai mana aku tadi?" kata
Hagrid. Tetapi saat itu Paman
Vernon, wajahnya masih pucat pasi
tapi tampangnya sangat marah,
maju ke depan perapian.
"Dia tidak boleh pergi," katanya.
Hagrid menggerutu.
"Aku mau lihat Muggle hebat
sepertimu halangi kepergiannya,"
katanya.
"Apa?" tanya Harry tertarik.
"Muggle," kata Hagrid. "Itu sebutan
kami untuk manusia-manusia yang
bukan penyihir. Dan sungguh buruk
nasibmu dibesarkan dalam keluarga
Muggle paling sok yang pernah
kulihat."
"Waktu mengambilnya kami sudah
bersumpah kami akan menghentikan
semua omong kosong ini," kata
Paman Vernon. "Bersumpah untuk
membelanya! Penyihir? Mana ada!"
"Paman dan Bibi tahu?" tanya
Harry. "Paman dan Bibi tahu aku
pe-penyihir?"
"Tahu!" pekik Bibi Petunia tiba-tiba.
"Tahu! Tentu saja kami tahu!
Bagaimana tidak, kalau adikku yang
brengsek juga begitu? Oh, dia juga
menerima surat seperti itu dan
menghilang ke… ke sekolah itu… dan
pulang setiap liburan dengan
kantong penuh telur katak dan
mengubah cangkir menjadi tikus.
Aku satu-satunya yang tahu dia
seperti apa—dia aneh! Tetapi ibu
dan ayahku… uh, apa-apa Lily… Lily
begini dan Lily begitu. Mereka
bangga punya anak penyihir!"
Dia berhenti untuk menarik napas
dalam-dalam, dan kemudian
merepet lagi. Kelihatannya sudah
bertahun-tahun dia ingin
mengeluarkan semua ini.
"Kemudian dia bertemu si Potter itu
di sekolah, lalu mereka menikah dan
punya anak kau, dan tentu saja aku
tahu kau pasti sama anehnya,
sama… abnormalnya, dan kemudian
si Lily itu kena ledakan dan terpaksa
kami kebebanan kau!"
Harry sudah menjadi pucat. Segera
setelah dapat bicara dia berkata,
"Ledakan? Kalian bilang mereka
meninggal dalam kecelakaan mobil!"
"KECELAKAAN MOBIL!" raung
Hagrid, melompat bangun dengan
amat marah sehingga Mr dan Mrs
Dursley cepat-cepat kembali ke
sudut mereka. "Bagaimana mungkin
kecelakaan mobil bisa bunuh Lily
dan James Potter? Sungguh
penghinaan besar. Skandal! Harry
Potter tidak tahu kisah hidupnya
sendiri, sementara semua anak di
dunia kami tahu namanya!"
"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?"
desak Harry.
Kemarahan memudar dari wajah
Hagrid. Tiba-tiba dia kelihatan
khawatir.
"Tak kusangka akan begini," katanya
cemas dengan suara rendah. "Waktu
Dumbledore bilang mungkin akan
ada kesulitan ambil kau, tak kukira
kau serba-tak-tahu begini. Ah,
Harry, aku tak tahu apakah aku
orang yang tepat untuk beritahu kau
—tapi harus ada yang kasih tahu—
tak mungkin kau berangkat ke
Hogwarts tanpa tahu ini."
Hagrid memandang sebal pada
keluarga Dursley.
"Yah, ada baiknya kau tahu sejauh
yang bisa kuceritakan padamu—aku
tak bisa ceritakan semuanya,
soalnya sebagian di antaranya
misteri besar…"
Dia duduk, memandang api selama
beberapa detik, kemudian berkata,
"Semua ini, menurutku, dimulai
oleh orang yang bernama—kelewat
an sekali kau tidak tahu namanya,
semua orang di dunia kita tahu…"
"Siapa?"
"Yah—aku tak mau sebut namanya,
kalau bisa. Tak seorang pun berani
sebut namanya."
"Kenapa tidak?"
"Astaganaga, Harry, orang kan masih
takut. Wah, susah jadinya. Begini,
ada penyihir yang… jadi jahat. Jahat
sekali. Bahkan lebih dari jahat. Jauh
lebih jahat daripada sekadar lebih
jahat. Namanya…"
Hagrid menelan ludah, tapi tak ada
suara yang keluar.
"Bagaimana kalau ditulis saja?"
Harry mengusulkan.
"Tidak—aku tidak bisa eja. Baiklah—
Voldemort." Hagrid bergidik.
"Jangan suruh aku sebut sekali lagi.
Pendeknya, penyihir ini kira-kira
dua puluh tahun yang lalu mulai cari
pengikut. Dan dapat, lagi—sebagian
karena takut, sebagian lagi karena
inginkan cipratan kekuasaannya,
karena dia memang punya
kekuasaan. Sungguh hari-hari
suram, Harry. Kita tak tahu siapa
yang bisa dipercaya, tak berani
bersikap ramah pada penyihir
asing… Hal-hal mengerikan terjadi.
Dia mulai ambil alih kekuasaan.
Tentu saja beberapa berusaha lawan
dia—dan mereka dibunuh. Dengan
sangat mengerikan. Salah satu
tempat yang masih aman adalah
Hogwarts. Kurasa Dumbledore
adalah satu-satunya yang ditakuti
Kau-Tahu-Siapa. Tidak berani ambil
alih sekolah, dulu paling tidak."
"Ibu dan ayahmu penyihir hebat.
Dua-duanya Ketua Murid semasa
mereka sekolah! Kurasa misterinya
adalah kenapa Kau-Tahu-Siapa tidak
coba tarik ibu dan ayahmu ke
pihaknya sebelumnya… mungkin dia
tahu mereka terlalu dekat dengan
Dumbledore, sehingga pasti tidak
tertarik pada Sihir Hitam."
"Mungkin dia kira bisa bujuk
mereka… mungkin dia cuma ingin
mereka menyingkir. Yang orang tahu
hanyalah, dia muncul di desa tempat
kalian tinggal di malam Halloween
sepuluh tahun lalu. Kau baru
berumur satu tahun. Dia datang ke
rumahmu dan… dan…"
Hagrid tiba-tiba menarik keluar
saputangan yang sangat kotor dan
membuang ingus dengan bunyi
seperti terompet.
"Maaf," katanya. "Tetapi aku sedih
sekali—aku kenal ibu dan ayahmu—
tak ada orang lain sebaik mereka—
pendeknya…"
"Kau-Tahu-Siapa bunuh mereka. Dan
kemudian—dan ini misteri yang
sesungguhnya—dia mencoba bunuh
kau juga. Mau habisi kalian sampai
tuntas, kurasa, atau mungkin dia
memang senang membunuh. Tetapi
dia tak bisa bunuh kau. Pernahkah
kau bertanya-tanya bagaimana
kaudapat bekas luka di dahimu? Itu
bukan luka biasa. Itu yang kaudapat
jika kekuatan sihir jahat sentuh kau
—berhasil tewaskan ibu dan
ayahmu, bahkan hancurkan
rumahmu—tetapi tidak mempan
untukmu. Itulah sebabnya kau
terkenal, Harry. Tak seorang pun
bisa hidup setelah dia putuskan
untuk membunuhnya. Tak seorang
pun, kecuali kau, dan dia telah
berhasil bunuh penyihir-penyihir
terbaik pada zaman ini—keluarga
McKinnon, keluarga Bone, keluarga
Prewett—padahal kau masih bayi,
dan kau hidup."
Sesuatu yang menyakitkan berpusar
dalam benak Harry. Ketika cerita
Hagrid hampir tamat, dia melihat
kembali cahaya hijau menyilaukan,
lebih jelas daripada yang selama ini
diingatnya. Dan dia juga ingat
sesuatu yang lain, untuk pertama
kali dalam hidupnya—tawa nyaring,
dingin, dan bengis.
Hagrid menatapnya dengan sedih.
"Aku sendiri yang ambil kau dari
rumahmu yang hancur, atas
perintah Dumbledore. Kubawa kau
ke keluarga ini…"
"Omong kosong besar," kata Paman
Vernon. Harry melompat. Dia nyaris
lupa keluarga Dursley ada di situ.
Paman Vernon kelihatannya sudah
mendapatkan kembali
keberaniannya. Dia mendelik kepada
Hagrid dan tangannya terkepal.
"Dengarkan aku, Harry," geramnya.
"Kuakui kau memang agak aneh,
tapi mungkin bisa dibereskan
dengan dihajar. Sedangkan tentang
orangtuamu, mereka memang aneh,
tak bisa dibantah, dan menurutku
dunia ini lebih baik tanpa mereka—
yang terjadi itu salah mereka
sendiri, bergaul dengan tukang-
tukang sihir. Mau apa lagi, sudah
kuduga mereka akan berakhir
begitu…"
Tetapi saat itu Hagrid melompat
bangun dari sofa dan menarik
payung butut merah jambu dari
dalam sakunya. Sambil
mengacungkan payung itu ke arah
Paman Vernon seperti pedang, dia
berkata, "Kuperingatkan kau,
Dursley—kuperingatkan kau—satu
kata lagi saja…"
Menghadapi bahaya ditombak
dengan ujung payung, keberanian
Paman Vernon melempem lagi. Dia
merapatkan diri ke dinding dan
diam.
"Itu lebih baik," kata Hagrid,
bernapas berat dan duduk lagi di
sofa, yang kali ini melesak sampai ke
lantai.
Harry, sementara itu, masih
penasaran, masih ingin mengajukan
ratusan pertanyaan.
"Tetapi apa yang terjadi pada Vol—
maaf—maksudku, Kau-Tahu-Siapa?"
"Pertanyaan bagus, Harry. Hilang.
Lenyap. Malam yang sama dia coba
bunuh kau. Membuat kau tambah
terkenal. Itulah misteri yang paling
besar. Soalnya… belakangan makin
lama dia makin kuat—jadi kenapa
dia harus pergi?"
"Ada yang bilang dia mati. Omong
kosong, menurutku. Tak tahu apakah
masih ada cukup manusia di
tubuhnya untuk bisa mati. Yang lain
lagi bilang dia masih sembunyi,
tunggu waktu yang tepat, tapi aku
tidak percaya. Orang-orang yang
tadinya jadi pengikutnya telah
kembali ke kami. Beberapa di
antaranya seperti kerasukan. Mana
mungkin mereka balik ke kami kalau
dia akan datang lagi."
"Kebanyakan dari kami duga dia
masih ada entah di mana, tapi sudah
kehilangan kekuatannya. Terlalu
lemah untuk terus merajalela.
Karena sesuatu pada dirimu
menghabisi dia, Harry. Ada yang
terjadi malam itu yang di luar
perhitungannya—aku tak tahu apa
itu, tak ada yang tahu—tetapi
sesuatu pada dirimu membuat dia
takluk."
Hagrid memandang Harry dengan
hangat dan rasa hormat. Tetapi
Harry, alih-alih merasa senang dan
bangga, merasa yakin ada kekeliruan
besar. Penyihir? Dia? Bagaimana
mungkin dia penyihir? Dia telah
melewatkan hidupnya dijadikan
bulan-bulanan oleh Dudley dan
ditindas oleh Bibi Petunia dan
Paman Vernon. Kalau memang dia
penyihir, kenapa mereka tidak
berubah jadi kodok setiap kali
mereka mencoba menguncinya di
dalam lemari? Jika dia pernah
mengalahkan penyihir paling hebat
di dunia, bagaimana mungkin
Dudley selalu bisa menendang-
nendangnya ke sana kemari seperti
bola?
"Hagrid," katanya cemas. "Kurasa
kau pasti keliru. Tidak mungkin aku
ini penyihir."
Betapa herannya dia, Hagrid
tertawa.
"Tidak mungkin penyihir, eh? Tidak
pernahkan ada peristiwa-peristiwa
yang terjadi setiap kali kau takut
atau marah?"
Harry memandang perapian. Kalau
dipikir-pikir… semua kejadian aneh
yang membuat bibi dan pamannya
marah kepadanya terjadi ketika dia,
Harry, sedang marah atau sedih.
Ketika dikejar-kejar oleh geng
Dudley, entah bagaimana dia selalu
bisa meloloskan diri… waktu cemas
karena harus ke sekolah dengan
potongan rambut yang konyol,
rambutnya tiba-tiba tumbuh
sendiri… dan ketika Dudley terakhir
kali memukulnya, bukankah dia
telah berhasil membalasnya, tanpa
sadar? Bukankah dia yang melepas
ular boa yang menakutkan Dudley?
Harry kembali memandang Hagrid,
tersenyum, dan dilihatnya Hagrid
nyengir senang kepadanya.
"Lihat sendiri, kan?" kata Hagrid.
"Harry Potter tidak mungkin
penyihir—tunggu saja, kau akan
terkenal di Hogwarts."
Tetapi Paman Vernon tak akan mau
menyerah tanpa perlawanan.
"Kan sudah kubilang dia tidak boleh
pergi?" desisnya. "Dia akan ke
Stonewall High dan dia akan
berterima kasih karenanya. Aku
sudah membaca surat-surat itu dan
katanya dia memerlukan segala
macam sampah—buku mantra dan
tongkat dan…"
"Kalau dia mau pergi, Muggle hebat
seperti kau tidak akan bisa larang
dia," geram Hagrid. "Melarang anak
Lily dan James Potter masuk
Hogwarts! Kau gila. Namanya sudah
terdaftar di sana sejak dia
dilahirkan. Dia akan masuk sekolah
sihir paling terkenal di dunia. Tujuh
tahun di sana, dia tak akan kenal
dirinya lagi. Dia akan bergaul
dengan anak-anak sejenisnya, kali
ini, dan di bawah bimbingan kepala
sekolah paling hebat yang dimiliki
Hogwarts, Albus Dumbled…"
"AKU TIDAK MAU MEMBAYAR LAKI-
LAKI TUA SINTING UNTUK
MENGAJARINYA TIPUAN SIHIR!"
teriak Paman Vernon.
Tetapi dia sudah kelewatan. Hagrid
menyambar payungnya dan
memutar-mutarnya di atas kepala.
"JANGAN BERANI-BERANI…,"
gelegarnya, "… HINA… ALBUS…
DUMBLEDORE… DI… DEPANKU!"
Diayunkannya payungnya turun
untuk menunjuk Dudley. Ada kilatan
cahaya ungu, bunyi seperti petasan,
jeritan nyaring, dan detik berikutnya
Dudley menarik-nari di tempat
dengan tangan memegangi
pantatnya yang gemuk, menjerit-
jerit kesakitan. Ketika dia berbalik
membelakangi mereka, Harry
melihat ekor babi melingkar nongol
dari lubang di celananya.
Paman Vernon menggerung. Seraya
menarik Bibi Petunia dan Dudley ke
kamar satunya, dia melempar
pandangan ketakutan untuk terakhir
kali kepada Hagrid, lalu membanting
pintu menutup di belakang mereka.
Hagrid menunduk menatap
payungnya dan membelai
jenggotnya.
"Harusnya tak boleh marah,"
katanya menyesal, "tapi kan tidak
berhasil. Maksudku mau ubah dia
jadi babi, tapi kurasa dia sudah
mirip sekali babi, tak banyak lagi
yang bisa dilakukan."
Dia melirik Harry dari bawah alisnya
yang lebat.
"Aku akan berterima kasih kalau kau
tidak sebut-sebut kejadian ini pada
siapa pun di Hogwarts," katanya.
"Aku… ehm… sebetulnya tidak boleh
menyihir. Hanya boleh sedikit saja
untuk ikuti kau dan antar surat-
surat kepadamu dan belanja—salah
satu alasan aku ingin sekali dapatkan
tugas ini…"
"Kenapa kau tidak boleh menyihir?"
tanya Harry.
"Oh, yah… aku dulunya sekolah di
Hogwarts juga, tapi… ehm… aku
dikeluarkan, jujur saja. Waktu kelas
tiga. Mereka patahkan tongkatku jadi
dua dan macam-macam lagi. Tetapi
Dumbledore izinkan aku tinggal
sebagai pengawas binatang liar.
Orang hebat, Dumbledore."
"Kenapa kau dikeluarkan?"
"Sudah malam dan banyak yang
harus kita lakukan besok," kata
Hagrid keras-keras. "Harus ke kota,
beli buku-buku dan peralatanmu."
Hagrid melepas mantel hitamnya
yang tebal dan melemparkannya
kepada Harry.
"Bisa kaujadikan selimut," katanya.
"Jangan pedulikan kalau sedikit
meronta-ronta. Kurasa masih ada
sepasang tikus di salah satu
sakunya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar