Selamat datang di blog gue

Sabtu, 15 Juni 2013

harry potter dan batu bertuah bab 5


Chapter 5 : DIAGON ALLEY
KEESOKAN harinya, pagi-pagi Harry
sudah terbangun. Meskipun dia tahu
hari sudah pagi, dipejamkannya
matanya rapat-rapat.
"Aku mimpi," katanya kepada diri
sendiri. "Aku mimpi raksasa
bernama Hagrid datang
memberitahuku bahwa aku akan
masuk sekolah sihir. Kalau kubuka
mataku, aku akan berada di rumah
dalam lemariku."
Tiba-tiba terdengar ketukan keras.
Nah, ini dia Bibi Petunia mengetuk
pintu, pikir Harry dengan kecewa.
Tetapi dia tetap tidak membuka
mata. Mimpinya indah sekali.
Tok. Tok. Tok.
"Ya," gumam Harry. "Aku bangun."
Dia duduk dan mantel berat Hagrid
merosot dari tubuhnya. Gubuk
dipenuhi sinar matahari. Badai telah
berlalu. Hagrid sendiri tertidur di
sofa yang melesak dan ada burung
hantu mengetuk-ngetukkan cakarnya
di jendela, paruhnya menggigit
koran.
Harry terhuyung berdiri. Dia senang
sekali, seakan ada balon besar
melembung di dalam tubuhnya. Dia
langsung ke jendela dan
mengentaknya hingga terbuka.
Burung hantu itu meluncur masuk
dan menjatuhkan koran ke atas
Hagrid, yang tidak terbangun. Si
burung hantu kemudian terbang ke
lantai dan mulai menyerang mantel
Hagrid.
"Jangan."
Harry berusaha menyingkirkan si
burung hantu, tetapi burung itu
mengatupkan paruhnya dengan
galak ke arahnya dan terus saja
menyerang mantel itu.
"Hagrid!" kata Harry keras-keras.
"Ada burung hantu…"
"Bayar dia," Hagrid bergumam ke
sofa.
"Apa?"
"Dia minta dibayar karena antar
koran. Cari dalam saku."
Mantel Hagrid kelihatannya terbuat
dari hanya saku-saku saja—
bergebung-gebung kunci, peluru-
peluru gotri, bergulung-gulung tali,
permen, kantong-kantong teh…
akhirnya Harry menarik keluar
segenggam koin yang tampaknya
aneh.
"Beri dia lima Knut," kata Hagrid
mengantuk.
"Knut?"
"Koin perunggu kecil."
Harry menghitung lima koin
perunggu kecil dan si burung hantu
mengulurkan kakinya, supaya Harry
bisa memasukkan uangnya ke dalam
kantong kulit kecil yang terikat di
kaki itu. Kemudian dia terbang
keluar lewat jendela yang terbuka.
Hagrid menguap keras-keras, duduk,
dan menggeliat.
"Lebih baik berangkat sekarang,
Harry, kita harus ke London dan beli
semua keperluan sekolahmu."
Harry sedang membalik-balik koin
penyihir dan memandangnya. Dia
baru saja teringat sesuatu yang
membuat balon kebahagiaan di
dalam tubuhnya bocor.
"Um—Hagrid?"
"Mm?" kata Hagrid, yang sedang
menarik bot raksasanya.
"Aku tak punya uang—dan kau
sudah mendengar apa kata Paman
Vernon semalam—dia tak mau
membayariku belajar sihir."
"Jangan khawatir soal itu," kata
Hagrid, seraya berdiri dan
menggaruk kepalanya. "Apa kaupikir
orangtuamu tidak tinggalkan sesuatu
untukmu?"
"Tetapi kalau rumah mereka
hancur…"
"Mereka tidak simpan uang mereka
di rumah, Nak! Nah, pertama-tama
kita ke Gringotts. Bank penyihir.
Makan sosis dulu. Dingin enak juga
—dan aku juga tidak tolak sepotong
kue ulang tahunmu."
"Penyihir punya bank?"
"Cuma satu. Gringotts. Yang
menjalankan goblin, hantu kecil
bertampang seram."
Sosis yang dipegang Harry sampai
terjatuh.
"Goblin?"
"Yeah—jadi kau gila kalau coba
merampoknya, kuberitahu kau.
Jangan main-main dengan goblin,
Harry. Gringotts tempat paling aman
di dunia, kalau kau mau simpan
sesuatu—bandingannya mungkin
cuma Hogwarts. Aku kebetulan
harus ke Gringotts. Untuk
Dumbledore. Urusan Hogwarts."
Hagrid menegapkan diri dengan
bangga. "Dia biasa suruh aku
lakukan hal-hal penting untuknya.
Jemput kau—ambil sesuatu dari
Gringotts—tahu dia, bisa percayai
aku."
"Semua siap? Ayo kita berangkat."
Harry mengikuti Hagrid keluar,
menuju karang. Langit cukup cerah
sekarang dan laut berkilau ditimpa
cahaya matahari. Perahu yang
disewa Paman Vernon masih ada,
dengan banyak air di dasarnya.
"Bagaimana kau datang kemari?"
Harry bertanya, mencari-cari perahu
lain.
"Terbang," jawab Hagrid.
"Terbang?"
"Yeah—tapi kita harus kembali
dengan ini. Tak boleh gunakan sihir
setelah aku bersamamu."
Mereka duduk di perahu. Harry
masih memandang Hagrid, berusaha
membayangkan dia terbang.
"Repot kalau harus mendayung,"
kata Hagrid, lagi-lagi melirik Harry.
"Kalau aku mau—ehm—percepat
sedikit perjalanan kita, kau
keberatan kalau kuminta jangan
bilang-bilang di Hogwarts?"
"Tentu saja tidak," kata Harry, yang
ingin sekali melihat lebih banyak
ilmu sihir. Hagrid menarik keluar
lagi payung merah jambunya,
mengetukkannya dua kali di sisi
perahu, dan mereka meluncur
menuju daratan.
"Kenapa kita gila kalau mau
mencoba merampok Gringotts?"
tanya Harry.
"Mantra-mantra—jampi-jampi," kata
Hagrid, seraya membuka korannya.
"Katanya ruangan-ruangan besinya
dijaga naga-naga. Lagi pula, kau
akan susah cari jalan keluar.
Gringotts letaknya beratus-ratus kilo
di bawah London. Jauh di bawah
stasiun kereta bawah tanah.
Sebelum bisa keluar, kau sudah
keburu mati kelaparan duluan,
walaupun kau berhasil dapat
sesuatu."
Harry duduk diam memikirkan ini,
sementara Hagrid membaca
korannya, Daily Prophet—Harian
Peramal. Harry sudah tahu dari
Paman Vernon bahwa orang lebih
suka tidak diganggu kalau sedang
baca koran, tetapi susah sekali.
Seumur hidup belum pernah dia
punya pertanyaan sebanyak ini.
"Kementerian Sihir bikin kacau-
balau, seperti biasanya," gumam
Hagrid sambil membalik halaman
korannya.
"Ada Kementerian Sihir?" tanya
Harry tanpa bisa menahan diri.
"Tentu saja," kata Hagrid. "Mereka
inginkan Dumbledore menjadi
Menteri, tentu saja, tetapi dia tidak
mau tinggalkan Hogwarts, jadi si
Cornelius Fudge yang dapat jabatan
ini. Ceroboh dan bego. Dia kirim
burung hantu ke Dumbledore tiap
hari, minta nasihat."
"Tapi apa yang dilakukan
Kementerian Sihir?"
"Yah, tugas utamanya adalah
menjaga jangan sampai Muggle tahu
ada banyak penyihir di negeri ini."
"Kenapa?"
"Kenapa? Astaga, Harry, semua
orang akan inginkan pemecahan
masalah mereka secara gaib. Nah,
kan lebih baik kita tidak diganggu."
Saat itu perahu pelan membentur
tembok pelabuhan. Hagrid melipat
korannya dan mereka berdua
menaiki undakan batu menuju ke
jalan.
Orang-orang yang berpapasan
dengan mereka sepanjang jalan
menuju stasiun kota kecil itu
memandang Hagrid dengan
keheranan. Harry tidak menyalahkan
mereka. Hagrid bukan hanya dua
kali lebih tinggi dari manusia
normal, dia juga terus-menerus
menunjuk-nunjuk hal biasa seperti
meteran di tempat parkir dan
berkata keras, "Lihat itu, Harry?
Benda-benda yang dicari-cari
Muggle, eh?"
"Hagrid," kata Harry, agak terengah-
engah karena berlari agar tidak
ketinggalan, "tadi kaubilang ada
naga di Gringotts?"
"Katanya sih begitu," kata Hagrid.
"Wah, aku ingin sekali punya naga."
"Kau ingin punya naga?"
"Dari kecil sudah kepingin—nah,
kita sampai."
Mereka telah tiba di stasiun. Ada
kereta ke London yang berangkat
lima menit lagi. Hagrid, yang tidak
memahami "uang Muggle",
menyerahkan uangnya ke Harry
supaya dia bisa membeli karcisnya.
Di atas kereta, orang-orang
memandang dengan lebih heran lagi.
Hagrid duduk di dua kursi dan
merajut sesuatu yang kelihatannya
seperti tenda sirkus warna kuning
kenari.
"Suratmu masih ada, Harry?"
tanyanya sambil terus merajut.
Harry mengeluarkan amplop
perkamen dari dalam kantongnya.
"Bagus," kata Hagrid. "Di situ ada
daftar semua keperluanmu."
Harry membuka lipatan kertas satu
lagi yang semalam tidak
diperhatikannya dan membaca:
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Seragam
Siswa kelas satu memerlukan:
Tiga setel jubah kerja sederhana
(hitam)
Satu topi berujung runcing (hitam)
untuk dipakai setiap hari
Sepasang sarung tangan pelindung
(dari kulit naga atau sejenisnya)
Satu mantel musim dingin (hitam,
kancing perak)
Tolong diperhatikan bahwa semua
pakaian siswa harus ada label
namanya.
Buku
Semua siswa harus memiliki buku-
buku berikut:
Kitab Mantra Standar (Tingkat 1)
oleh Miranda Goshawk
Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot
Teori Ilmu Gaib oleh Adalbert
Waffling
Pengantar Transfigurasi bagi Pemula
oleh Emeric Switch
Seribu Satu Tanaman dan Jamur
Gaib oleh Phyllida Spore
Cairan dan Ramuan Ajaib oleh
Arsenius Jigger
Hewan-hewan Fantastis dan di Mana
Mereka Bisa Ditemukan oleh Newt
Scamander
Kekuatan Gelap: Penuntun
Perlindungan Diri oleh Quentin
Trimble
Peralatan lain
1 tongkat
1 kuali (bahan campuran timah
putih-timah hitam, ukuran standar
2)
1 set tabung kaca atau kristal
1 teleskop
1 set timbangan kuningan
Siswa diizinkan membawa burung
hantu ATAU kucing ATAU kodok
ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA
SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH
MEMILIKI SAPU SENDIRI
"Apa semua ini bisa dibeli di
London?" tanya Harry keheranan.
"Kalau kau tahu belinya di mana,"
jawab Hagrid.
* * *
Harry belum pernah ke London.
Meskipun Hagrid tampaknya tahu ke
mana dia akan pergi, jelas bahwa
dia tidak terbiasa menuju ke sana
dengan cara biasa. Dia tersangkut
pembatas tempat pembelian karcis
bawah tanah dan mengeluh keras-
keras bahwa tempat duduknya
terlalu sempit dan keretanya terlalu
lambat.
"Aku tak mengerti bagaimana
Muggle bisa bertahan tanpa
kekuatan sihir," katanya, sementara
mereka menuruni escalator macet
menuju jalan ramai yang di kanan-
kirinya dipenuhi deretan toko.
Hagrid besar sekali sehingga dengan
mudah dia menyibakkan orang-
orang yang lewat. Harry tinggal
berjalan merapat kepadanya saja.
Mereka melewati toko-toko buku
dan toko-toko musik, restoran
hamburger dan gedung bioskop, tapi
kelihatannya tak ada yang menjual
tongkat ajaib. Ini cuma jalan biasa,
penuh orang-orang biasa pula.
Mungkinkah benar-benar ada
gundukan emas penyihir terkubur
berkilo-kilometer di bawah mereka?
Betulkah ada toko yang menjual
buku mantra dan sapu terbang?
Jangan-jangan semua ini cuma
lelucon besar buatan keluarga
Dursley. Kalau Harry tidak tahu
bahwa keluarga Dursley tak punya
rasa humor, dia pasti sudah
mengira begitu. Bagaimanapun juga,
kendati semua yang dikatakan
Hagrid sejauh ini memang tidak
masuk akal, Harry toh
mempercayainya.
"Ini dia," kata Hagrid berhenti,
"Leaky Cauldron—Kuali Bocor. Ini
tempat terkenal."
Tempat itu tempat minum kecil dan
kotor. Jika Hagrid tidak
menunjuknya, Harry tidak akan
melihatnya. Orang-orang yang
melewatinya sama sekali tidak
meliriknya. Mata mereka bergulir
dari toko buku besar di sisi yang
satu ke toko musik di sisi lainnya,
seakan mereka sama sekali tidak
bisa melihat Leaky Cauldron.
Sejujurnya, Harry punya perasaan
aneh, hanya dia dan Hagrid yang
bisa melihatnya. Sebelum dia bisa
mengutarakan ini, Hagrid sudah
mendorongnya masuk.
Untuk tempat terkenal, tempat ini
sangat gelap dan kumuh. Beberapa
wanita tua duduk di sudut, minum
sherry dalam gelas-gelas kecil. Salah
satu di antara mereka mengisap pipa
panjang. Seorang pria kecil memakai
topi tinggi dari sutra hitam sedang
bicara dengan pelayan bar yang
sudah tua dan botak, dan kepalanya
kelihatan seperti kenari dari permen
karet. Dengung obrolan pelan
berhenti ketika mereka melangkah
masuk. Semua orang kelihatannya
kenal Hagrid. Mereka melambai dan
tersenyum kepadanya, dan pelayan
bar meraih gelas, seraya berkata,
"Biasa, Hagrid?"
"Tidak bisa, Tom. Sedang ada urusan
Hogwarts," kata Hagrid, sambil
menepukkan tangannya yang besar
ke bahu Harry dan membuat lutut
Harry tertekuk.
"Astaga," celetuk pelayan bar,
memandang Harry. "Apakah ini…
mungkinkah ini…?"
Leaky Cauldron mendadak sunyi
senyap.
"Beruntungnya aku," bisik pak tua
pelayan bar. "Harry Potter—
sungguh kehormatan besar."
Dia bergegas keluar dari balik meja
barnya, buru-buru mendekati Harry
dan meraih tangannya, dengan air
mata bercucuran.
"Selamat datang kembali, Mr Potter,
selamat datang kembali."
Harry tidak tahu harus bilang apa.
Semua orang memandangnya. Si
wanita tua yang mengisap pipa terus
mengisapnya, tanpa menyadari
apinya sudah padam. Hagrid
berseri-seri.
Kemudian terdengar derit-derit
kursi yang digeser dan saat
berikutnya Harry sudah bersalaman
dengan semua orang yang ada di
Leaky Cauldron.
"Doris Crockford, Mr Potter. Saya
tak percaya akhirnya bisa bertemu
Anda."
"Sungguh bangga, Mr Potter, saya
sungguh bangga."
"Dari dulu sudah ingin menjabat
tangan Anda—saya jadi salah
tingkah."
"Senang sekali, Mr Potter, tak bisa
terkatakan. Diggle nama saya.
Dedalus Diggle."
"Saya pernah melihat Anda
sebelumnya," kata Harry, bersamaan
dengan jatuhnya topi tinggi Dedalus
Diggle saking bersemangatnya dia.
"Anda pernah membungkuk pada
saya di toko."
"Dia ingat!" pekik Dedalus Diggle,
seraya memandang berkeliling.
"Kalian dengar itu? Dia ingat aku!"
Harry berjabat tangan tak henti-
hentinya—Doris Crockford bolak-
balik ingin berjabat tangan
dengannya lagi.
Seorang pemuda berwajah pucat
maju, sangat tegang. Sebelah
matanya berkedut-kedut.
"Profesor Quirrell!" sapa Hagrid.
"Harry, Profesor Quirrell akan jadi
salah satu gurumu di Hogwarts."
"P-p-potter," Profesor Quirrell
berkata gagap, seraya menjabat
tangan Harry, "t-t-tak b-b-bisa
kukatakan b-b-betapa senangnya
aku b-b-bertemu denganmu."
"Ilmu gaib apa yang Anda ajarkan,
Profesor Quirrell?"
"P-p-pertahanan t-t-terhadap Ilmu
Hitam," gumam Profesor Quirrell,
seakan dia lebih suka tidak
membicarakan itu. "K-kau sih
sebetulnya t-t-tidak perlu, eh, P-p-
potter?" Dia tertawa gugup. "K-kau
akan mem-membeli
perlengkapanmu, kan? Aku sendiri
harus mem-membeli buku tentang
vampir." Dia kelihatannya ngeri
sendiri.
Tetapi yang lain tidak membiarkan
Harry dikuasai Profesor Quirrell
sendiri. Perlu hampir sepuluh menit
untuk melepaskan diri dari mereka.
Akhirnya Hagrid berhasil membuat
suaranya mengalahkan keributan
mereka.
"Harus pergi—banyak yang harus
dibeli. Ayo, Harry."
Doris Crockford menjabat tangan
Harry untuk terakhir kali, dan
Hagrid mengajaknya keluar melewati
bar, menuju halaman kecil yang
dikelilingi tembok. Tak ada apa-apa
di halaman itu kecuali sebuah
tempat sampah dan ilalang.
Hagrid menyeringai kepada Harry.
"Apa kataku! Aku sudah bilang, kan,
kau ini terkenal. Bahkan Profesor
Quirrell pun gemetar ketemu kau—
tapi dia memang selalu gemetar."
"Apa dia selalu gugup begitu?"
"Oh, yeah. Kasihan. Otaknya brilian.
Dulunya sih baik-baik saja waktu
masih belajar dari buku, tapi
kemudian dia cuti setahun mau
alami sendiri… Orang bilang dia
ketemu vampir di Black Forest dan
sempat ribut dengan nenek sihir
jahat—sejak itu dia berubah. Takut
pada muridnya, takut pada mata
pelajaran yang diajarkannya—eh,
mana payungku?"
Vampir? Nenek sihir jahat? Kepala
Harry serasa berputar. Hagrid,
sementara itu, menghitung batu
bata pada tembok di atas tempat
sampah.
"Ke atas tiga… ke samping dua…,"
dia bergumam. "Ini dia. Mundur,
Harry."
Dia mengetuk tembok tiga kali
dengan ujung payungnya.
Batu bata yang disentuhnya
bergetar—meliuk malah—di
tengahnya, muncul lubang kecil—
makin lama makin besar—sedetik
kemudian mereka sudah berhadapan
dengan gerbang yang bahkan cukup
besar untuk Hagrid. Gerbang masuk
ke jalan berbatu yang berkelok-
kelok dan membelok lenyap dari
pandangan.
"Selamat datang," kata Hagrid, "di
Diagon Alley."
Dia menyeringai melihat Harry
terpana. Mereka melangkahi
gerbang. Harry cepat-cepat menoleh
dan melihat gerbang terbuka itu
langsung menyusut kembali menjadi
tembok padat.
Matahari bersinar cerah, sinarnya
menimpa setumpuk kuali di depan
toko paling dekat. Kuali—Segala
Ukuran—Tembaga, Kuningan, Timah
putih-Timah hitam, Perak—
Mengaduk-Sendiri—Dapat Dilipat,
begitu bunyi papan yang tergantung
di atasnya.
"Yeah, kau perlu satu," kata Hagrid,
"tapi kita harus ambil uangmu
dulu."
Harry berharap dia punya delapan
mata tambahan. Kepalanya menoleh
ke segala jurusan ketika mereka
menyusuri jalan itu, mencoba
melihat segalanya sekaligus: toko-
toko, barang-barang yang terpajang
di depannya, orang-orang yang
sedang berbelanja. Seorang wanita
gemuk di depan toko obat sedang
menggelengkan kepala ketika mereka
lewat, sambil berkata, "Hati naga,
tujuh belas Sickle per ons, gila
mereka…"
Dekut uhu-uhu pelan terdengar dari
toko gelap dengan tulisan berbunyi
Toko Burung Hantu Serbaada
Eeylops—Kuning-kecokelatan,
Pekikan-keras, Burung Hantu Serak,
Cokelat, dan Putih Bersih. Beberapa
anak laki-laki seumur Harry
menempelkan hidung di kaca etalase
toko sapu. "Lihat," Harry
mendengar salah satu dari mereka
berkata, "Nimbus Dua Ribu yang
baru—yang paling cepat…" Ada
toko-toko yang menjual jubah, toko-
toko yang menjual teleskop, dan
peralatan perak aneh-aneh yang tak
pernah dilihat Harry sebelumnya,
etalase yang memajang tong-tong
berisi limpa kelelawar dan mata
belut, tumpukan buku-buku mantra
dan bergulung-gulung perkamen,
botol-botol ramuan, globe bulan…
"Gringotts," kata Hagrid.
Mereka telah tiba di depan
bangunan putih-bersih yang
menjulang di antara toko-toko kecil
yang lain. Di sebelah pintu perunggu
mengilap berdiri tegak makhluk
berseragam merah dan emas.
"Yeah, itu goblin," kata Hagrid pelan
sementara mereka mendaki undakan
batu putih menuju ke tempatnya. Si
goblin kira-kira sekepala lebih
rendah dari Harry. Wajahnya yang
hitam tampak cerdas, dengan
janggut runcing dan, Harry
memperhatikan, jari-jari tangan dan
kaki yang panjang. Dia membungkuk
ketika mereka masuk. Sekarang
mereka menghadapi sepasang pintu
kedua, yang ini perak, dengan kata-
kata berikut terpahat di atasnya:
Masuklah, orang asing, tetapi
berhati-hatilah
Terhadap dosa yang harus
ditanggung orang serakah,
Karena mereka yang mengambil apa-
apa yang bukan haknya,
Harus membayar semahal-mahalny
a,
Jadi jika kau mencari di bawah lantai
kami
Harta yang tak berhak kaumiliki,
Pencuri, kau telah diperingatkan,
Bukan harta yang kaudapat,
melainkan ganjaran.
"Seperti sudah kubilang, gila kau
kalau berani merampok di sini," kata
Hagrid.
Sepasang goblin membungkuk ketika
mereka memasuki pintu perak, dan
mereka berada di aula pualam
besar. Kira-kira lebih dari seratus
goblin duduk di atas bangku tinggi
di belakang meja panjang, sibuk
menulis di buku kas besar,
menimbang koin di timbangan
kuningan, memeriksa batu-batu
mulia dengan kaca pembesar. Ada
terlalu banyak pintu keluar dari aula
itu hingga tak bisa dihitung, tapi ada
lebih banyak lagi goblin yang
mengantar orang-orang keluar
masuk pintu-pintu ini. Hagrid dan
Harry menuju meja.
"Pagi," kata Hagrid kepada goblin
yang sedang kosong. "Kami datang
untuk ambil uang dari lemari besi
Mr Harry Potter."
"Punya kuncinya, Sir?"
"Ada," kata Hagrid dan dia mulai
mengeluarkan isi saku-sakunya di
atas meja. Beberapa biskuit-anjing
yang sudah bulukan tertebar di atas
buku kas si goblin, membuat si
goblin mengernyitkan hidung. Harry
melihat goblin di sebelah kanannya
sedang menimbang setumpuk batu
mirah besar-besar, sebesar batu
bara yang menyala.
"Ini dia," kata Hagrid akhirnya,
seraya mengacungkan kunci emas
kecil mungil.
Si goblin memeriksanya dengan
teliti.
"Kelihatannya oke."
"Dan aku juga bawa surat dari
Profesor Dumbledore," kata Hagrid
sok penting sambil membusungkan
dada. "Ini tentang Kau-Tahu-Apa di
ruangan tujuh ratus tiga belas."
Si goblin membaca surat itu dengan
cermat.
"Baiklah," katanya, mengembalikan
surat itu kepada Hagrid. "Akan
kusuruh petugas mengantar Anda
berdua ke kedua tempat simpanan
itu. Griphook!"
Griphook adalah nama goblin lain.
Begitu Hagrid selesai menjejalkan
biskuit-anjingnya ke dalam sakunya
kembali, dia dan Harry mengikuti
Griphook menuju salah satu pintu ke
luar aula.
"Apa sih Kau-Tahu-Apa di ruang
tujuh ratus tiga belas itu?" tanya
Harry.
"Tak bisa kuberitahu," jawab Hagrid
misterius. "Sangat rahasia. Urusan
Hogwarts. Dumbledore percayai aku.
Bisa dikeluarkan dari pekerjaanku
kalau aku beritahu kau."
Griphook membukakan pintu untuk
mereka. Harry, yang mengharapkan
ruangan pualam lagi, tercengang.
Mereka berada di lorong batu
sempit yang diterangi cahaya obor-
obor. Lorong itu menurun curam
dan ada bekas rel kecil di lantainya.
Griphook bersiul, lalu muncul kereta
kecil yang meluncur ke arah
mereka. Mereka naik—Hagrid
dengan susah payah—dan kereta
pun berangkat.
Awalnya mereka cuma berbelok-
belok melewati lorong berbelit-belit.
Harry mencoba mengingat, kiri,
kanan, kanan, kiri, garpu tengah,
kanan, kiri, tapi tak mungkin. Kereta
yang berderak-derak itu
kelihatannya tahu sendiri jalannya,
sebab Griphook tidak
mengemudikannya.
Mata Harry pedas diterpa udara
dingin, tetapi dia tetap membukanya
lebar-lebar. Sekali dia merasa
melihat semburan api di ujung
lorong dan membalik untuk melihat
apakah itu naga, tetapi terlambat—
mereka meluncur turun semakin
dalam, melewati danau bawah tanah
dengan stalaktit dan stalagmit besar-
besar bermunculan dari atap dan
dasarnya.
"Aku tak pernah tahu," Harry
berteriak kepada Hagrid mengatasi
bunyi kereta, "apa sih bedanya
stalagmit dan stalaktit?"
"Stalagmit pakai ‘m’," kata Hagrid.
"Dan jangan tanya-tanya aku dulu.
Aku pusing, mau muntah."
Wajahnya memang tampak sangat
pucat, dan ketika kereta akhirnya
berhenti di sebelah pintu kecil di
dinding lorong, Hagrid turun dan
harus bersandar di dinding,
menunggu lututnya berhenti
gemetar.
Griphook membuka kunci pintu.
Asap tebal hijau mengepul keluar,
dan setelah asap menipis, Harry
ternganga. Di dalam ruangan tampak
gundukan-gundukan uang emas.
Tumpukan uang perak. Timbunan
Knut perunggu kecil-kecil.
"Semua milikmu," Hagrid
tersenyum.
Semua milik Harry—bukan main.
Keluarga Dursley pastilah tidak tahu
tentang ini, kalau tidak pasti sudah
mereka rebut dalam sekejap. Betapa
seringnya mereka mengeluhkan
besarnya biaya yang harus mereka
keluarkan untuk membesarkan
Harry. Padahal selama ini ada harta
begitu banyak miliknya, terkubur
dalam-dalam di bawah kota London.
Hagrid membantu Harry
memasukkan uang ke dalam tas.
"Yang emas ini Galleon," dia
menjelaskan. "Tujuh belas Sickle
perak sama dengan satu Galleon,
dan dua puluh sembilan Knut sama
dengan satu Sickle. Gampang, kan.
Sudah, ini sudah cukup untuk dua
semester, sisanya biar aman di sini."
Dia menoleh pada Griphook. "Ruang
tujuh ratus tiga belas sekarang, dan
bisa tidak keretanya lebih pelan
sedikit?"
"Cuma satu kecepatan," kata
Griphook.
Mereka masuk semakin dalam
sekarang, dan semakin cepat. Udara
semakin lama semakin dingin ketika
mereka membelok di tikungan-
tikungan tajam. Mereka melewati
jurang bawah tanah dan Harry
membungkuk di tepi kereta untuk
melihat apa yang ada di dasarnya
yang gelap, tetapi Hagrid
menggeram dan menarik tengkuknya
masuk kereta.
Ruang besi tujuh ratus tiga belas
tidak ada lubang kuncinya.
"Mundur," kata Griphook sok
penting. Dia membelai lembut
pintunya dengan satu jarinya dan
pintu itu meleleh begitu saja.
"Kalau orang lain—bukan goblin
Gringotts—yang melakukan itu,
mereka akan tersedot lewat pintu
dan terperangkap di dalam," kata
Griphook.
"Berapa sering kau mengecek kalau-
kalau ada orang terperangkap di
dalam?" tanya Harry.
"Kira-kira sekali dalam sepuluh
tahun," kata Griphook, dengan
seringai agak menyebalkan.
Sesuatu yang betul-betul luar biasa
pastilah ada dalam ruang besi
dengan pengamanan istimewa ini.
Harry yakin, maka dia melongok
dengan penuh semangat, berharap
melihat permata-permata hebat,
paling tidak. Tetapi awalnya dia
mengira ruangan itu kosong.
Kemudian dilihatnya bungkusan
kertas cokelat kecil kumal tergeletak
di lantai. Hagrid memungutnya dan
memasukkannya hati-hati ke dalam
mantelnya. Harry ingin sekali tahu
apa isi bungkusan itu, tetapi dia
tahu sebaiknya tidak bertanya.
"Ayo, naik kereta celaka ini lagi, dan
jangan bicara padaku dalam
perjalanan pulang. Paling baik aku
tutup mulut," kata Hagrid
* * *
Setelah perjalanan naik kereta gila-
gilaan, mereka berdiri kesilauan
dalam cahaya matahari di luar
Gringotts. Harry tak tahu harus ke
mana dulu sekarang setelah dia
punya satu tas penuh uang. Dia tak
perlu tahu berapa Galleon senilai
dengan satu pound untuk
mengetahui bahwa dia sedang
memegang lebih banyak uang
daripada yang pernah dimilikinya
selama hidupnya—bahkan lebih
banyak daripada yang dimiliki
Dudley.
"Lebih baik beli seragammu dulu,"
kata Hagrid, seraya mengangguk ke
arah Jubah untuk Segala Kesempatan
Kreasi Madam Malkin. "Eh, Harry,
kau keberatan tidak kalau aku pergi
sebentar ke Leaky Cauldron untuk
beli minuman? Aku benci kereta
Gringotts." Dia masih kelihatan
sedikit pucat, maka Harry masuk ke
toko Madam Malkin sendirian,
merasa gugup.
Madam Malkin adalah penyihir
bertubuh pendek gemuk, penuh
senyum, berpakaian serba-
lembayung muda.
"Hogwarts, Nak?" katanya, ketika
Harry baru mau bicara. "Banyak
yang ke sini—sekarang malah ada
satu yang sedang ngepas."
Di bagian belakang toko, seorang
anak laki-laki dengan wajah runcing
pucat berdiri di atas bangku pendek
kecil, sementara ada penyihir kedua
yang melipat jubah hitam
panjangnya dan menyematnya
dengan jarum pentul. Madam
Malkin, menyuruh Harry berdiri di
atas bangku di sebelahnya,
memasukkan jubah panjang
melewati kepalanya, dan mulai
menyematnya sampai panjangnya
pas.
"Halo," sapa si anak laki-laki.
"Hogwarts juga?"
"Ya," jawab Harry.
"Ayahku di sebelah, membelikan
bukuku, dan ibuku di toko lain
mencari tongkat," kata anak itu.
Suaranya membosankan dan seperti
dipanjang-panjangkan. "Sesudah itu
nanti aku akan menarik mereka
melihat sapu balap. Aku tak
mengerti kenapa anak-anak kelas
satu tidak boleh punya sapu sendiri.
Kurasa aku akan memaksa Ayah
supaya membelikan aku sapu dan
akan kuselundupkan."
Harry jadi langsung ingat Dudley.
"Apa kau sudah punya sapu?" si
anak melanjutkan.
"Belum," jawab Harry.
"Main Quidditch?"
"Tidak," kata Harry lagi, sementara
dalam hati bertanya-tanya sendiri,
apa gerangan Quidditch itu.
"Aku sih main—Ayah bilang
kelewatan kalau aku tidak terpilih
dalam tim asramaku, dan harus
kukatakan, aku sepakat. Sudah tahu
kau akan di rumah mana?"
"Tidak," jawab Harry, yang makin
lama merasa semakin bodoh.
"Yah, memang tak ada yang tahu
sampai mereka tiba di sana, kan,
tapi aku tahu aku akan masuk ke
Slytherin, semua keluarga kami di
sana—bayangkan kalau sampai di
Hufflepuff. Kurasa aku akan pindah,
iya, kan?"
"Mmm," jawab Harry, yang
berharap bisa mengatakan sesuatu
yang lebih menarik.
"Eh, lihat orang itu," kata anak itu
tiba-tiba, mengangguk ke arah
jendela depan. Hagrid berdiri di
sana, menyeringai kepada Harry dan
menunjuk dua es krim besar untuk
memberitahukan itulah sebabnya dia
tak bisa masuk.
"Itu Hagrid," kata Harry, senang
mengetahui sesuatu yang tidak
diketahui anak itu. "Dia bekerja di
Hogwarts."
"Oh," kata anak itu. "Aku sudah
dengar tentang dia. Dia semacam
pelayan, kan?"
"Dia pengawas binatang liar," kata
Harry. Makin lama dia semakin
tidak menyukai anak itu.
"Ya, itulah. Kudengar dia semacam
orang liar—tinggal di gubuk di
halaman sekolah dan dari waktu ke
waktu dia mabuk, mencoba
menyihir, tapi hasilnya malah
membakar tempat tidurnya sendiri."
"Menurut aku dia hebat," kata Harry
dingin.
"Begitu?" kata si anak sedikit
melecehkan. "Kenapa dia
bersamamu? Di mana orangtuamu?"
"Sudah meninggal," kata Harry
pendek. Dia tidak ingin
membicarakan hal ini dengan anak
itu.
"Oh, maaf," kata si anak, tapi
kedengarannya tidak menyesal sama
sekali. "Tapi mereka bangsa kita,
kan?"
"Mereka penyihir, kalau itu
maksudmu."
"Menurut aku sih bangsa lain
sebaiknya jangan diizinkan
bergabung. Iya, kan? Mereka tidak
sama, mereka tidak pernah
dibesarkan dengan cara-cara kita.
Beberapa di antara mereka bahkan
tidak pernah mendengar tentang
Hogwarts sampai menerima surat.
Bayangkan. Menurut aku sih
sebaiknya mereka cuma menerima
keluarga penyihir saja. Siapa sih
nama keluargamu?"
Tetapi sebelum Harry sempat
menjawab, Madam Malkin berkata,
"Sudah selesai, Nak," dan Harry,
yang malah senang bisa menghindari
si anak, langsung meloncat turun
dari bangku.
"Sampai ketemu di Hogwarts, ya,"
kata anak itu.
Harry agak diam ketika dia
memakan es krim yang dibelikan
Hagrid untuknya (cokelat dan
rasberi dengan cacahan kacang).
"Ada apa?" tanya Hagrid.
"Tidak ada apa-apa," Harry
berbohong. Mereka berhenti untuk
membeli perkamen dan pena bulu.
Harry agak gembira ketika dia
menemukan sebotol tinta yang
warnanya berubah ketika dipakai
menulis. Ketika mereka telah
meninggalkan toko, dia nyeletuk,
"Hagrid, Quidditch itu apa sih?"
"Astaga, Harry, aku lupa terus
bahwa belum banyak yang kau tahu
—bahkan Quidditch pun kau belum
tahu!"
"Jangan membuatku merasa lebih
parah," kata Harry. Dia
memberitahu Hagrid tentang anak
pucat di toko Madam Malkin.
"… dan dia bilang orang-orang dari
keluarga Muggle seharusnya tidak
diterima di…"
"Kau bukan dari keluarga Muggle.
Kalau saja dia tahu siapa sebetulnya
kau—sejak kecil pastilah dia sudah
diberitahu namamu jika orangtuanya
memang penyihir—kau sudah lihat
sendiri di Leaky Cauldron. Lagi pula,
dia tahu apa sih, beberapa dari
penyihir terbaik malah orang-orang
yang memang diberi bakat sihir tapi
berasal dari keluarga Muggle—lihat
saja ibumu! Lihat bagaimana
kakaknya!"
"Jadi, Quidditch itu apa?"
"Itu olahraga kita. Olahraga
penyihir. Semacam—semacam sepak
bola kalau di dunia Muggle—semua
orang senang nonton Quidditch—
dimainkan di udara dengan naik
sapu terbang dan ada empat bola—
agak susah menjelaskan aturannya."
"Dan apa itu Slytherin dan
Hufflepuff?"
"Nama-nama rumah asrama di
sekolah. Ada empat. Semua bilang
Hufflepuff isinya anak-anak yang
canggung, tapi…"
"Kalau begitu pastilah aku masuk
Hufflepuff," kata Harry muram.
"Lebih baik Hufflepuff daripada
Slytherin," kata Hagrid keras.
"Semua penyihir yang jadi jahat
dulunya tinggal di Slytherin. Kau-
Tahu-Siapa salah satunya."
"Vol—maaf—Kau-Tahu-Siapa
dulunya di Hogwarts?"
"Bertahun-tahun yang lalu," kata
Hagrid.
Mereka membeli buku-buku Harry
di Flourish and Blotts. Di toko buku
itu rak-raknya penuh sampai ke
langit-langit dengan berbagai buku,
dari buku setebal batu bata
bersampul kulit sampai buku
sebesar prangko dengan sampul
sutra; buku-buku dengan gambar
aneh-aneh, dan beberapa buku yang
sama sekali kosong melompong.
Bahkan Dudley, yang sama sekali tak
pernah membaca apa-apa, akan
senang memiliki beberapa buku
yang ada di sini. Hagrid nyaris
sampai harus menyeret Harry dari
buku Kutukan dan Kontra-Kutukan
(Pikat Kawan dan Kutuk Lawan
dengan Pembalasan Dendam
Mutakhir: Rambut Rontok, Kaki
Lemas, Lidah Beku, dan banyak
macam lagi) oleh Profesor Vindictus
Viridian.
"Aku sedang mencoba mencari cara
mengutuk Dudley."
"Aku tidak bilang itu bukan ide yang
baik, tapi kau tak boleh gunakan
sihir di dunia Muggle, kecuali dalam
keadaan sangat istimewa," kata
Hagrid. "Lagi pula kau belum bisa
gunakan kutukan itu, kau masih
perlu belajar banyak sebelum
mencapai tingkat itu."
Hagrid juga tidak mengizinkan Harry
membeli kuali emas ("menurut
daftarmu harus timah campuran,")
tetapi mereka mendapat satu set
timbangan bagus untuk menimbang
bahan-bahan ramuan dan teleskop
kuningan yang bisa dilipat.
Kemudian mereka ke toko bahan
ramuan, yang untungnya cukup
menarik, soalnya baunya busuk
bukan main, campuran antara telur
busuk dan kol busuk. Tong-tong
berisi lendir berjajar di lantai,
stoples-stoples berisi ramuan, akar-
akar kering, dan bubuk berwarna
cerah berderet di dinding,
bergebung bulu-bulu, untaian
taring, dan cakar-cakar melengkung
bergantungan dari langit-langit.
Sementara Hagrid minta si penjaga
toko menyiapkan bahan-bahan dasar
ramuan untuk Harry, Harry sendiri
sibuk mengamati tanduk perak
unicorn yang harganya dua puluh
satu Galleon sebuah dan mata
kumbang yang hitam kecil-kecil dan
berkilat (lima Knut sesendok).
Di luar toko, Hagrid memeriksa
daftar Harry lagi.
"Tinggal kurang tongkatmu—oh
yeah, dan aku belum beli hadiah
ulang tahun buatmu."
Harry merasa mukanya merah.
"Tak usah…"
"Aku tahu. Begini saja, kuhadiahi
kau binatang. Bukan kodok, kodok
sudah ketinggalan mode bertahun-
tahun yang lalu. Kau akan
ditertawakan—dan aku tak suka
kucing, mereka membuatku bersin.
Kau akan kubelikan burung hantu.
Semua anak kepingin punya burung
hantu, mereka berguna sekali,
mengantar suratmu dan macam-
macam lagi."
Dua puluh menit kemudian mereka
meninggalkan Toko Burung Hantu
Serbaada Eeylops, yang gelap dan
penuh bunyi gesekan bulu dan mata
berkilat yang berkelap-kelip. Harry
sekarang menenteng sangkar besar
berisi burung hantu seputih salju,
yang tengah tidur nyenyak dengan
kepala menyusup ke balik sayap. Dia
tak bisa berhenti menyampaikan
ucapan terima kasihnya dengan
terbata-bata, seperti Profesor
Quirrell.
"Ya, ya, kembali," kata Hagrid
parau. "Kupikir kau tak banyak
dapat hadiah dari keluarga Dursley.
Tinggal ke Ollivanders sekarang—
satu-satunya tempat untuk beli
tongkat. Ollivanders, dan kau akan
mendapatkan tongkat yang terbaik."
Tongkat sihir… ini sudah ditunggu-
tunggu Harry.
Toko terakhir ini sempit dan kumuh.
Huruf-huruf emas yang sudah
mengelupas di atas pintunya
berbunyi, Ollivanders: Pembuat
Tongkat Bagus Sejak 382 SM.
Sebatang tongkat tergeletak di atas
bantal ungu kusam di etalase
berdebu.
Denting bel berbunyi di kedalaman
toko ketika mereka melangkah
masuk. Tempat itu kecil sekali,
kosong, hanya ada satu kursi tinggi
kurus. Hagrid duduk menunggu di
kursi itu. Harry merasa aneh,
seakan dia memasuki perpustakaan
yang peraturannya sangat ketat. Dia
menelan banyak pertanyaan baru
yang bermunculan di benaknya dan
melihat-lihat saja ribuan kotak pipih
yang bertumpuk rapi sampai ke
langit-langit. Entah kenapa, bulu
tengkuknya berdiri. Debu dan
kesunyian di toko ini rasanya
mengandung sihir rahasia.
"Selamat sore," terdengar suara
lembut. Harry melonjak. Hagrid
pastilah melonjak juga, sebab
terdengar bunyi derit keras dan dia
cepat-cepat bangkit dari kursi
kurusnya.
Seorang laki-laki tua berdiri di
hadapan mereka. Matanya yang
lebar dan pucat, bercahaya bagai
bulan di dalam toko yang suram itu.
"Halo," kata Harry salah tingkah.
"Ah ya," kata laki-laki itu. "Ya, ya.
Sudah kuduga aku akan segera
bertemu kau, Harry Potter," katanya
yakin. "Matamu mirip mata ibumu.
Rasanya baru kemarin dia di sini,
membeli tongkat pertamanya. Dua
puluh lima setengah senti, mendesir
jika digerakkan, terbuat dari dahan
dedalu. Tongkat bagus untuk
menyihir."
Mr Ollivander mendekati Harry.
Harry berharap dia berkedip.
Matanya yang keperakan itu agak
mengerikan.
"Ayahmu, sebaliknya, lebih suka
tongkat mahogany. Dua puluh tujuh
setengah senti. Lentur. Sakti dan
cocok sekali untuk transfigurasi.
Yah, tadi kubilang ayahmu lebih
suka tongkat itu—sebetulnya
tongkatnyalah yang memilih si
penyihir tentu saja."
Mr Ollivander sudah dekat sekali,
sehingga hidungnya dan hidung
Harry nyaris bersentuhan. Harry
bisa melihat bayangan dirinya di
dalam mata berkabut itu.
"Dan ini rupanya…"
Mr Ollivander menyentuh bekas luka
berbentuk kilat menyambar di dahi
Harry dengan jarinya yang putih
panjang.
"Aku minta maaf karena aku yang
menjual tongkat yang menyebabkan
luka ini," katanya lembut. "Tiga
puluh tiga setengah senti. Kayu
cemara. Sakti, sangat sakti dan jatuh
ke tangan yang salah… Yah, kalau
saja aku tahu apa yang akan
dilakukan tongkat itu di luar…"
Dia menggelengkan kepala dan
kemudian, betapa leganya Harry, Mr
Ollivander melihat Hagrid.
"Rubeus! Rubeus Hagrid! Senang
sekali bertemu kau lagi… Ek, empat
puluh senti, agak bengkok, kan?"
"Betul, Sir. Ya," kata Hagrid.
"Tongkat bagus. Tapi kuduga mereka
mematahkannya jadi dua waktu kau
dikeluarkan?" kata Mr Ollivander,
mendadak galak.
"Er, ya, betul," kata Hagrid, kakinya
bergerak-gerak gelisah. "Tapi saya
masih simpan potongannya," dia
menambahkan dengan riang.
"Tapi kau tidak memakainya?" kata
Mr Ollivander tajam.
"Oh, tidak, Sir," jawab Hagrid
cepat-cepat. Harry melihat Hagrid
mencengkeram payung merah
jambunya erat-erat ketika berbicara.
"Hmmm," kata Mr Ollivander,
menatap tajam Hagrid. "Nah, Mr
Potter. Coba kita lihat." Dia menarik
keluar meteran panjang dengan
tanda-tanda perak dari dalam
kantongnya. "Tangan mana tangan
pemegang tongkatmu?"
"Er—tangan kanan," kata Harry.
"Julurkan tanganmu. Bagus." Dia
mengukur Harry dari bahu ke jari,
kemudian pergelangan tangan ke
siku, bahu ke lantai, lutut ke ketiak,
dan sekeliling kepalanya. Sementara
mengukur, dia berkata, "Semua
tongkat Ollivander punya intisari
kegaiban, Mr Potter. Kami
menggunakan rambut unicorn, bulu
ekor burung phoenix, dan nadi
jantung naga. Tak ada dua tongkat
Ollivander yang sama. Seperti
halnya tak ada dua unicorn, naga
atau phoenix yang persis sama. Dan
tentu saja kau tak akan
mendapatkan hasil baik dengan
tongkat penyihir lain."
Harry mendadak menyadari bahwa
meteran yang sedang mengukur
jarak antara kedua lubang
hidungnya, mengukur sendiri. Mr
Ollivander berkeliling di depan rak-
rak, menurunkan kotak-kotak.
"Sudah cukup," katanya, dan
meteran itu langsung terpuruk
menggunuk di lantai. "Baik, Mr
Potter, cobalah yang ini. Beechwood
dan nadi jantung naga. Dua puluh
dua setengah senti. Bagus dan
fleksibel. Ambil dan cobalah
menggoyangkannya."
Harry meraih tongkat itu dan
(merasa bego) menggoyangkannya
sedikit, tetapi Mr Ollivander
langsung merebutnya.
"Mapel dan bulu phoenix. Tujuh
belas setengah senti. Sabetannya
oke. Cobalah…"
Harry mencoba—tapi baru saja dia
mengangkatnya, tongkat itu juga
direbut balik oleh Mr Ollivander.
"Tidak, tidak—ini, eboni dan rambut
unicorn, dua puluh satu
seperempat, elastis. Ayo, ayo, coba
yang ini."
Harry mencobanya. Dan mencoba
yang lain. Dia sama sekali tak tahu
apa yang dinantikan Mr Ollivander.
Tumpukan tongkat yang sudah
dicoba menggunung makin lama
makin tinggi di atas kursi kurus,
tetapi semakin banyak tongkat yang
diambilnya dari rak, semakin senang
tampaknya Mr Ollivander.
"Pembeli pemilih, eh? Jangan
khawatir, kita akan menemukan
tongkat yang pas di sini—bagaimana
kalau—ya, kenapa tidak—kombinasi
yang tidak biasa—holly dan bulu
phoenix, dua puluh tujuh setengah
senti, bagus dan lentur."
Harry mengambil tongkat itu.
Mendadak jari-jarinya terasa
hangat. Diangkatnya tongkat ke atas
kepala, diayunkannya ke bawah di
udara berdebu, dan semburat bunga
api merah dan keemasan meluncur
dari ujungnya seperti kembang api,
membuat bayang-bayang yang
menari-nari di dinding. Hagrid
berteriak dan bertepuk tangan, dan
Mr Ollivander berseru, "Oh, bravo!
Ya, sungguh, bagus sekali. Wah,
wah, wah, sungguh aneh… sungguh
aneh sekali…"
Diletakkannya kembali tongkat Harry
ke dalam kotaknya dan
dibungkusnya dengan kertas cokelat,
sambil terus bergumam, "Aneh…
aneh…"
"Maaf," kata Harry, "tapi apa yang
aneh?"
Mr Ollivander menatap Harry
dengan matanya yang pucat.
"Aku ingat semua tongkat yang
pernah kujual, Mr Potter. Satu per
satu. Kebetulan phoenix yang bulu
ekornya ada di tongkatmu,
menghasilkan satu bulu lagi—hanya
satu. Sungguh aneh sekali kau
ditakdirkan menjadi pemilik tongkat
ini, sementara saudaranya—wah,
saudaranyalah yang memberimu
bekas luka itu."
Harry menelan ludah.
"Ya, tiga puluh tiga setengah senti.
Yew. Sungguh aneh hal-hal semacam
ini terjadi. Tongkat yang memilih
penyihir, ingat… Kurasa kami harus
mengharap kau melakukan hal-hal
luar biasa, Mr Potter… Lagi pula,
Dia yang Namanya Tak Boleh
Disebut melakukan hal-hal yang luar
biasa—mengerikan, ya, tapi luar
biasa."
Harry bergidik. Dia tak yakin apakah
dia sangat menyukai Mr Ollivander.
Dia membayar tujuh Galleon emas
untuk tongkatnya dan Mr Ollivander
membungkuk, mengantar mereka
meninggalkan tokonya.
* * *
Matahari sore menggantung rendah
di langit. Harry dan Hagrid kembali
ke Diagon Alley, kembali menembus
tembok, kembali ke Leaky Cauldron,
yang sekarang kosong. Sepanjang
jalan Harry tidak bicara sama sekali.
Dia bahkan tidak menyadari betapa
orang-orang di kereta bawah tanah
terheran-heran melihat mereka,
yang membawa begitu banyak
belanjaan yang bentuk dan
bungkusnya aneh-aneh, dengan
burung hantu seputih salju tertidur
di pangkuan Harry. Naik eskalator
lagi, keluar ke stasiun Paddington.
Harry baru menyadari di mana
mereka berada ketika Hagrid
menjawil bahunya.
"Masih sempat makan sebentar
sebelum keretamu berangkat,"
katanya.
Dia membeli hamburger dan mereka
duduk di kursi plastik untuk
memakannya. Berkali-kali Harry
memandang berkeliling. Segala
sesuatu terasa aneh.
"Kau tak apa-apa, Harry? Kau dari
tadi diam saja," kata Hagrid.
Harry tak yakin dia bisa
menjelaskan. Hari ini hari ulang
tahun paling menyenangkan dalam
hidupnya—tapi—dia mengunyah
hamburgernya, mencoba
menemukan kata-kata.
"Semua orang menganggapku
istimewa," katanya akhirnya.
"Semua orang di Leaky Cauldron,
Profesor Quirrell, Mr Ollivander…
tetapi aku sama sekali tak tahu apa-
apa tentang sihir. Bagaimana mereka
mengharap aku melakukan hal-hal
luar biasa? Aku terkenal dan aku
bahkan tak ingat aku terkenal
karena apa. Aku tak tahu apa yang
terjadi ketika Vol—maaf—maksud
ku, pada malam orangtuaku
meninggal."
Hagrid mencondongkan tubuh di
atas meja. Di balik jenggot liar dan
alis tebalnya, senyumnya ramah
sekali.
"Jangan khawatir, Harry. Kau akan
belajar dengan cepat. Semua orang
mulai dari awal di Hogwarts, kau tak
akan dapat masalah. Jadilah saja
dirimu sendiri. Aku tahu ini berat.
Kau telah dipilih, dan ini selalu
berat. Tetapi kau akan senang di
Hogwarts—dulu aku juga—bahkan
sampai sekarang pun masih."
Hagrid membantu Harry naik kereta
yang akan membawanya kembali ke
keluarga Dursley, kemudian
menyerahkan amplop.
"Karcis keretamu ke Hogwarts,"
katanya. "Tanggal satu September—
King’s Cross—semua tercantum di
karcismu. Kalau ada masalah dengan
keluarga Dursley, kirimi aku surat
lewat burung hantumu, dia akan
tahu di mana temukan aku… Sampai
ketemu lagi, Harry."
Kereta bergerak meninggalkan
stasiun. Harry ingin memandang
Hagrid sampai dia tak kelihatan lagi.
Dia bangkit dari tempat duduknya
dan menempelkan hidungnya di
kaca jendela, tetapi begitu dia
mengejapkan mata, Hagrid sudah
lenyap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar