Selamat datang di blog gue

Sabtu, 15 Juni 2013

harry potter dan batu bertuah bab 6


Chapter 6 : PERJALANAN DARI
PERON SEMBILAN TIGA-PEREMPAT
Bulan terakhir Harry bersama
keluarga Dursley tidaklah
menyenangkan. Dudley sekarang
begitu ketakutan pada Harry
sehingga dia tidak mau berada di
ruangan yang sama dengannya
sementara Bibi Petunia dan Paman
Vernon tidak mengurung Harry
dalam lemarinya, tidak memaksanya
melakukan sesuatu ataupun
membentaknya--bahkan, mereka
sama sekali tidak bicara dengan
Harry. Setengah ketakutan, setengah
marah, mereka bersikap seakan-
akan kursi yang diduduki Harry itu
kosong. Meskipun ini perbaikan
dalam banyak hal, setelah beberapa
waktu keadaan begini membuat
Harry agak tertekan juga.
Harry menghabiskan waktu di
kamarnya, hanya ditemani burung
hantunya. Dia memutuskan menamai
burung hantunya Hedwig, nama
yang ditemukannya dalam buku
Sejarah Sihir. Buku-buku sekolahnya
sangat menarik. Dia berbaring di
tempat tidurnya, membaca sampai
jauh malam. Hedwig terbang keluar
masuk jendela sesuka-suka dia.
Untunglah bibi Petunia tidak lagi
datang ke kamar Harry, karena
Hedwig tak henti-hentinya
membawa bangkai tikus. Setiap
malam sebelum tidur, Harry
menandai hari pada sepotong kertas
yang ditempelnya di dinding, sampai
ke tanggal satu September.
Pada hari terakhir bulan Agustus,
dia memutuskan lebih baik bicara
dengan paman dan bibinya soal dia
harus pergi ke Stasiun King’s Cross
hari berikutnya. Maka dia turun ke
ruang keluarga, tempat mereka
sedang menonton acara kuis di
televisi. Harry berdehem untuk
memberitahu bahwa dia datang, dan
Dudley menjerit dan kabur dari
ruangan itu.
"Er, Paman Vernon?"
Paman Vernon menggumamkan
gerutuan tak jelas untuk
menunjukkan dia mendengarkan.
"Er, aku harus ke King’s Cross besok
untuk – untuk ke Hogwarts "
Paman Vernon menggerutu lagi.
"Apakah aku boleh ikut mobil paman
Vernon?"
Gerutuan tak jelas. Harry
menafsirkan itu berarti boleh.
"Terima kasih."
Dia sudah akan kembali ke atas
ketika Paman Vernon benar-benar
bicara.
"Anehjuga, mau ke sekolah sihir
kok naik kereta. Permadani
terbangnya berlubang semua,
rupanya?"
Harry diam saja.
"Di mana sih sekolah ini?"
"Aku tidak tahu," kata Harry baru
menyadarinya saat itu. Dia menarik
keluar tiket yang diberikan Hagrid
dari dalam sakunya.
"Aku cuma diminta naik kereta dari
peron sembilan tiga perempat pukul
sebelas," dia membaca.
Bibi dan pamannya melongo.
"Peron berapa?"
"Sembilan tiga perempat."
"Jangan ngawur," kata paman
Vernon. "Tak ada peron sembilan
tiga perempat."
"Menurut tiketnya begitu."
"Omong kosong," kata paman
Vernon, "Mereka semua sinting.
Lihat saja sendiri nanti. Tunggu saja.
Baiklah, kami akan mengantarmu ke
King’s Cross. Kami toh besok
memang mau ke London, kalau tidak
mana aku mau peduli."
"Kenapa kalian mau ke London?"
tanya harry, berusaha bersikap
ramah.
"Membawa Dudley ke rumah sakit,"
geram paman Vernon. "Ekornya
yang kemerahan harus dipotong
sebelum dia berangkat ke
Smeltings."
Harry terbangun pukul lima esok
paginya dan terlalu gembira
sekaligus tegang, sehingga tak bisa
tidur lagi. Dia bangun dan memakai
celana jinsnya karena tak mau ke
stasiun memakai jubah sihirnya. Dia
akan berganti pakaian di kereta saja.
Sekali lagi diperiksanya daftar
Hogwartnya kalau-kalau yang
diperlukannya masih ada yang
ketinggalan, mengecek apakah
Hedwig sudah aman terkurung di
dalam sangkarnya, dan kemudian
berjalan mondar mandir dalam
kamarnya, menunggu keluarga
Dursley bangun. Dua jam kemudian,
koper Harry sudah dimasukkan ke
dalam mobil keluarga Dursley. Bibi
Petunia sudah membujuk Dudley
agar mau duduk di sebelah Harry
dan mereka pun berangkatlah.
Mereka tiba di King’s Cross pukul
setengah sebelas. Paman Vernon
menjatuhkan koper Harry di atas
troli dan mendorongnya ke dalam
stasiun. Harry berpendapat paman
Vernon baik sekali, sampai paman
Vernon mendadak berhenti di depan
deretan peron dengan seringai
menyebalkan di wajahnya.
"Nah, ini dia, nak. Peron sembilan –
peron sepuluh. Peronmu seharusnya
di antaranya, tetapi rupanya belum
dibangun ya?"
Paman Vernon benar, tentu saja.
Ada angka sembilan plastik besar di
atas satu peron dan angka sepuluh
plastik besar di peron berikutnya,
dan di antaranya sama sekali tak ada
apa-apa.
"Semoga senang di sekolah," kata
paman Vernon dengan seringai yang
lebih menyebalkan. Dia pergi tanpa
berkata apa-apa lagi. Harry menoleh
dan melihat mobil keluarga Dursley
meluncur meninggalkan stasiun.
Mereka bertiga tertawa-tawa. Mulut
Harry jadi agak kering. Apa yang
akan dilakukannya? Orang-orang
mulai memandangnya dengan aneh,
gara-gara Hedwig. Dia harus
bertanya pada seseorang.
Dia menghentikan petugas yang
lewat, tetapi tak berani
menyebutkan peron sembilan tiga
perempat. Si petugas belum pernah
mendengar tentang Hogwarts dan
ketika Harry bahkan tidak bisa
mengatakan di bagian Inggris mana
sekolah ini berada, dia mulai jengkel
seakan Harry sengaja berlagak
bloon. Semakin putus asa, Harry
menanyakan kereta yang akan
berangkat pukul sebelas, tetapi kata
si petugas tidak ada. Akhirnya si
petugas pergi, mengomel soal orang
yang suka buang-buang waktu.
Harry berusaha keras agar tidak
panik. Menurut jam besar di atas
papan kedatangan, dia hanya punya
waktu sepuluh menit lagi untuk naik
kereta ke Hogwarts dan dia sama
sekali tak tahu harus bagaimana. Dia
kebingungan di tengah stasiun
dengan koper yang nyaris tak bisa
diangkatnya, kantong penuh uang
sihir, dan burung hantu besar.
Hagrid pasti lupa memberitahukan
sesuatu yang harus dilakukannya,
seperti misalnya mengetuk batu bata
ketiga di sebelah kiri untuk bisa
masuk ke Diagon Alley. Dia
bertanya-tanya dalam hati apakah
sebaiknya dia mengeluarkan
tongkatnya dan mengetuk boks
penjualan tiket di antara peron
sembilan dan sepuluh.
Saat itu serombongan orang lewat di
belakangnya dan tertangkap olehnya
beberapa kata yang diucapkan.
"...penuh muggle, tentu saja ..."
Harry langsung membalik. Yang
bersuara seorang wanita gemuk,
bicara kepada empat anak laki-laki,
semua dengan rambut merah
menyala. Masing-masing mendorong
koper seperti milik Harry di depan
mereka – dan mereka punya burung
hantu.
Dengan jantung berdegup keras
Harry mendorong trolinya mengikuti
mereka. Mereka berhenti, dia ikut
berhenti, cukup dekat untuk
mendengar apa yang mereka
katakan.
"Peron berapa? " tanya ibu anak-
anak itu.
"Sembilan tiga perempat" terdengar
suara nyaring anak perempuan, juga
berambut merah yang menggandeng
tangannya. "Mum, apakah aku tidak
boleh ..."
"Kau belum cukup umur, Ginny,
sekarang diam dulu. Baiklah Percy,
kau duluan yang masuk."
Anak yang kelihatannya paling tua
berjalan menuju peron sembilan dan
sepuluh. Harry mengawasi, bertahan
tidak berkedip, takut kalau-kalau
ada sesuatu yang tidak dilihatnya--
tetapi pas ketika anak itu tiba di
pembatas antara peron,
serombongan besar turis lewat di
depannya dan ketika ransel terakhir
sudah menyingkir, si anak sudah
lenyap.
"Fred, kau berikutnya," si wanita
gemuk berkata.
"Aku bukan Fred, aku George," kata
si anak. "Astaga, mum! Katanya ibu
kami, masa tidak bisa membedakan
bahwa aku George?"
"Sori, George."
"Cuma bergurau, aku Fred," kata si
anak, lalu langsung pergi.
Kembarannya berteriak agar dia
bergegas, dan pastilah dia bergegas
karena sedetik kemudian dia sudah
lenyap--tetapi bagaimana caranya?
Sekarang saudara ketiga berjalan
cepat menuju palang rintangan
tiket--dia nyaris sampai – dan
mendadak, dia hilang.
Hilang begitu saja.
"Maaf," kata Harry kepada si wanita
gemuk.
"Halo, nak," katanya. "Baru pertama
kali ke Hogwarts ya? Ron juga baru."
dia menunjuk anak lelaki yang
terakhir dan termuda. Dia kurus dan
jangkung, dengan bintik-bintik di
mukanya, kaki tangan besar dan
hidung panjang.
"Ya," kata Harry."Masalahnya--
masalahnya, saya tidak tahu
bagaimana..."
"Bagaimana ke peronnya?" tanyanya
ramah dan Harry mengangguk.
"Jangan khawatir," katanya "yang
harus kaulakukan hanyalah berjalan
saja, menembus palang rintangan
antara peron sembilan dan sepuluh.
Jangan berhenti dan jangan takut
kau akan menabraknya, ini yang
paling penting. Paling baik
melakukannya setengah berlari,
kalau kau cemas. Ayo, masuklah
sekarang, sebelum Ron."
"Er-oke," kata Harry.
Harry memutar trolinya dan
memandang palang rintangan.
Kelihatannya kuat sekali.
Dia mulai berjalan ke arah palang.
Berkali-kali dia tersenggol orang-
orang yang berjalan ke peron
sembilan dan sepuluh. Harry
berjalan semakin cepat. Sebentar
lagi dia akan menabrak boks
penjualan tiket lalu akan mendapat
kesulitan--Harry membungkuk di
atas trolinya, dia berlari – palang
semakin lama semakin dekat--dia
tak akan bisa berhenti--troli sudah
di luar kendali--tinggal tiga puluh
senti lagi – dia memejamkan mata
menunggu saat tabrakan.
Tetapi ternyata dia tidak menabrak
apa-apa... dia masih terus berlari...
dia membuka matanya.
Kereta api berwarna merah
menunggu di sebelah peron yang
penuh orang. Tulisan di atasnya
berbunyi Hogwarts Express, pukul
11:00. Harry menoleh ke belakang
dan melihat gerbong melengkung di
tempat yang tadinya tempat boks
tiket, dengan tulisan Peron Sembilan
Tiga Perempat. Dia telah berhasil.
Asap lokomotif melayang di atas
kepala orang-orang yang ramai
mengobrol, sementara kucing-
kucing dalam berbagai warna
menyusup-nyusup di antara kaki
mereka. Burung-burung hantu saling
bersahutan, ditingkahi suara obrolan
dan derit koper-koper berat yang
diseret.
Rangkaian beberapa gerbong yang di
depan sudah penuh anak-anak.
Beberapa di antaranya menjulurkan
tubuh ke luar jendela untuk
mengobrol dengan keluarga mereka,
yang lain berebut tempat duduk.
Harry mendorong trolinya sepanjang
peron, mencari tempat duduk yang
masih kosong. Dia melewati anak
laki-laki berwajah bulat yang sedang
berkata, "Nek, katakku hilang lagi."
"Oh, Neville," didengarnya
perempuan tua itu menghela napas.
Seorang anak laki-laki berambut
keriting dikerumuni serombongan
anak.
"Coba kami lihat, Lee, ayo dong."
Anak itu mengangkat tutup kotak
yang dipeluknya dan anak-anak yang
merubungnya langsung menjerit dan
berteriak-teriak ketika ada kaki
panjang berbulu keluar dari kotak
itu.
Harry melewati orang-orang yang
berdesakan sampai dia tiba di
gerbong kosong hampir di ujung
kereta. Mula-mula dinaikkannya
Hedwig, kemudian dia mulai
mengangkat dan mendorong
kopernya lewat pintu kereta.
Dicobanya mengangkatnya melewati
undakan, tetapi dia nyaris tidak bisa
mengangkat salah satu ujungnya dan
dua kali koper itu menjatuhi
kakinya. Sakit sekali.
"Perlu bantuan?" ternyata salah satu
dari si kembar berambut merah
yang tadi diikutinya menerobos boks
tiket.
"Ya, tolong dong," jawab Harry
terengah.
"Oi, Fred! Sini, bantu!"
Dengan bantuan si kembar, koper
Harry akhirnya berhasil ditempatkan
di sudut gerbong.
"Terima kasih," kata Harry, seraya
menyeka rambutnya yang
berkeringat dari matanya.
"Apa itu?" kata salah satu dari si
kembar tiba-tiba sambil menunjuk
ke bekas luka Harry yang berbentuk
kilat menyambar.
"Astaga," kata kembar satunya.
"Apakah kau...?"
"Betul dia," kata kembar yang
pertama. "Iya, kan?" tanyanya pada
Harry.
"Apa?" tanya Harry.
"Harry Potter," si kembar menjawab
bersamaan.
"Oh, dia," kata Harry, "maksudku,
ya, aku Harry Potter."
Kedua anak itu melongo
memandangnya dan muka Harry
menjadi merah. Kemudian, betapa
leganya dia, terdengar suara dari
pintu kereta.
"Fred? George? Kalian di dalam?"
"Ya, mum."
Sambil melempar pandang ke arah
Harry, si kembar melompat turun
dari kereta.
Harry duduk di dekat jendela. Dari
situ, setengah tersembunyi, dia bisa
memandang keluarga berambut
merah di peron dan mendengar apa
yang mereka ucapkan. Ibu mereka
baru saja mengeluarkan saputangan.
"Ron, hidungmu ada kotorannya."
Anak laki-laki termuda mencoba
untuk menghindar, tetapi si ibu
menjambretnya dan mulai
menggosok ujung hidungnya.
"Mum--ta’ usah." Dia menggeliat
membebaskan diri.
"Ah, ada apa di ujung hidung si
Ronnie?" kata salah satu dari si
kembar.
"Diam kau," kata Ron.
"Di mana Percy?" Tanya ibu mereka.
"Itu dia."
Anak laki-laki tertua muncul. Dia
sudah berganti pakaian dengan
jubah hitam Hogwarts yang
melambai dan Harry melihat lencana
perak berkilat dengan huruf P
tersemat di dadanya.
"Tidak bisa lama-lama mum,"
katanya. "Aku di depan, untuk para
prefek disediakan dua gerbong
khusus..."
Prefek adalah beberapa murid
senior yang diberikan tanggung
jawab untuk mengatur ketertiban.
"Oh, jadi kau prefek, Percy?" kata
salah satu dari si kembar seolah
kaget sekali. "Mestinya bilang-bilang
dong. Kami tidak tahu sama sekali."
"Tunggu, kurasa aku ingat dia
pernah bilang kok," kata kembar
satunya. "Sekali..."
"Atau dua kali ..."
"Setiap menit ..."
"Sepanjang musim panas..."
"Oh, tutup mulut," kata Percy si
Prefek.
"Bagaimana Percy bisa mendapat
jubah baru sih?" tanya salah seorang
dari si kembar.
"Karena dia Prefek," jawab ibu
mereka penuh kasih sayang.
"Baiklah sayang semoga senang di
sekolah. Kirim burung hantu kalau
kau sudah tiba, ya" diciumnya pipi
Percy dan Percy pergi lagi.
Kemudian si ibu menoleh kepada si
kembar.
"Nah, kalian berdua. Tahun ini
kalian jangan nakal. Kalau sekali lagi
aku menerima burung hantu yang
memberitahu kalian telah--telah
meledakkan toilet atau..."
"Meledakkan toilet? Kami belum
pernah meledakkan toilet."
"Tapi itu ide bagus. Trims, mum."
"Tidak lucu. Dan jaga Ron."
"Jangan khawatir. Ronnie kecil akan
aman bersama kami."
"Diam," kata Ron lagi. Tingginya
sudah hampir sama dengan si
kembar dan hidungnya masih merah
di tempat yang tadi digosok ibunya.
"Hei, mum, tahu tidak? coba tebak
siapa yang baru saja kami temukan
di kereta?"
Harry cepat-cepat bersandar ke
belakang agar mereka tidak bisa
melihatnya sedang mengawasi
mereka.
"Mum tahu siapa anak laki-laki
berambut hitam yang tadi ada di
dekat kita di stasiun? Tahu tidak
siapa dia?"
"Siapa?"
"Harry Potter!"
Harry mendengar suara si anak
perempuan kecil.
"Oh mum, bolehkah aku naik ke
kereta dan melihatnya, mum, oh,
boleh ya..."
"Kau sudah melihatnya, Ginny dan
anak malang itu bukan untuk
dilihat-lihat seperti penghuni kebun
binatang. Benarkah dia Harry
Potter, Fred? Bagaimana kau bisa
tahu?"
"Aku tanya dia. Melihat bekas
lukanya. Bener-bener ada – seperti
sambaran kilat."
"Kasihan--pantas saja dia sendirian.
Aku tadi bertanya-tanya dalam hati.
Dia sopan sekali ketika bertanya
bagaimana bisa sampai ke peron."
"Itu sih tidak penting. Apakah
menurut mum dia masih ingat
seperti apa Kau-Tahu-Siapa?"
Ibu mereka mendadak menjadi
sangat tegas.
"Kularang kau menanyainya, Fred.
Jangan berani-berani bertanya
padanya. Kaupikir dia perlu
diingatkan tentang musibah itu pada
hari pertamanya bersekolah?"
"Baiklah, tenang saja."
Terdengar bunyi pluit.
"Cepatlah! " kata ibu mereka dan
ketiga anak laki-laki itu naik ke
kereta. Mereka menjulurkan badan
ke luar jendela agar bisa mendapat
ciuman selamat tinggal, dan adik
perempuan mereka mulai menangis.
"Jangan nangis, Ginny, kami akan
kirim banyak burung hantu."
"Kami akan mengirimimu
seperangkat toilet Hogwarts."
"George!"
"Cuma bergurau, mum."
Kereta mulai bergerak. Harry
melihat ibu anak-anak itu
melambaikan tangan dan adik
mereka, setengah tertawa, setengah
menangis, berlari mengejar kereta
sampai keretanya bergerak semakin
cepat. Setelah itu barulah dia
berhenti dan melambai.
Harry melihat anak perempuan itu
dan ibunya menghilang ketika kereta
berbelok. Rumah-rumah seperti
berlari melintasi jendela. Harry
merasa bergairah sekali. Dia tidak
tahu apa yang akan segera terjadi,
tetapi pastilah lebih baik daripada
yang sedang ditinggalkannya.
Pintu kompartemennya bergeser
membuka dan anak laki-laki
berambut merah yang termuda
masuk.
"Ada yang duduk di sini?" tanyanya
sambil menunjuk tempat duduk di
depan Harry, "tempat lain sudah
penuh semua."
Harry menggeleng dan anak itu
duduk. Dia melirik Harry, lalu cepat-
cepat memandang keluar jendela,
pura- pura tidak melihat Harry.
Harry melihat di ujung hidungnya
masih ada noda hitam.
"Hei, Ron," si kembar sudah
kembali.
"Dengar, kami akan ke tengah
kereta--Lee Jordan punya tarantula
raksasa."
"Baiklah," gumam Ron.
"Harry, kata kembar satunya, kami
belum memperkenalkan diri, kan?
Fred dan George Weasley. Dan ini
Ron, adik kami. Sampai nanti ya."
"Daah," kata Harry dan Ron. Si
kembar menutup kembali pintu di
belakang mereka.
"Apakah kau benar-benar Harry
Potter?" Ron menyeletuk.
Harry mengangguk.
"Oh-- ah, kukira tadi Fred dan
George cuma bergurau," kata Ron.
"Dan apakah benar-benar ada – kau
tahu kan ..."
Dia menunjuk ke dahi Harry.
Harry menyibak poninya ke belakang
untuk menunjukkan bekas luka
sambaran kilatnya. Ron terbelalak.
"Jadi, di situ Kau-Tahu-Siapa...?"
"Ya," kata Harry, "tapi aku sudah
tak ingat lagi."
"Sama sekali tidak?" tanya Ron ingin
tahu.
"Yah – aku ingat banyak sinar hijau,
tapi hanya itu saja."
"Wow," kata Ron. Selama beberapa
waktu dia terbelalak memandang
Harry, kemudian seakan sadar apa
yang dilakukannya, cepat-cepat dia
memandang ke luar jendela lagi.
"Apakah semua keluargamu
penyihir?" tanya Harry, yang
menganggap Ron sama menariknya,
seperti Ron menganggap dirinya
menarik.
"Er –ya, kurasa begitu," kata Ron.
"Kalau tidak salah ada sepupu Mum
yang akuntan, tapi kami tak pernah
membicarakannya."
"Kalau begitu, pastilah kau sudah
banyak tahu tentang sihir."
Keluarga Weasley pastilah salah satu
keluarga tua penyihir yang disebut-
sebut si anak laki-laki pucat di
Diagon Alley.
"Kudengar kau tinggal dengan
Muggle." kata Ron. "Seperti apa
mereka?"
"Mengerikan – yah, tidak semuanya
sih. Tapi paman, bibi, dan sepepuku
mengerikan. Coba kalau aku punya
tiga kakak laki-laki penyihir."
"Lima" kata Ron. Entah kenapa dia
kelihatan muram. "Aku anak keenam
dalam keluarga kami yang masuk
Hogwarts. Bisa dikatakan banyak
yang diharapkan dariku. Bill dan
Charlie sudah lulus dan
meninggalkan Hogwarts – Bill dulu
Ketua Murid dan Charlie Ketua
Quidditch. Sekarang Percy terpilih
sebagai Prefek. Fred dan George
banyak main-main tetapi nilai
mereka bagus-bagus dan semua
orang menganggap mereka kocak.
Semua orang mengharapkan aku
akan berprestasi sebaik mereka,
tetapi kalaupun aku berhasil, ini
bukan hal istimewa karena mereka
sudah melakukannya lebih dulu. Kau
juga takkan punya barang baru,
kalau punya lima kakak. Jubah dan
pakaianku bekas Bill, tongkatku
bekas Charlie, dan tikusku tikus tua
yang dulu milik Percy. Ron merogoh
ke dalam jaketnya dan mengeluarkan
seekor tikus gemuk abu-abu yang
sedang tidur. "Namanya Scabbers
dan dia tak berguna sama sekali.
Kerjanya tidur melulu. Percy
mendapat burung hantu dari ayahku
karena terpilih sebagai Prefek, tetapi
mereka tidak – maksudku aku jadi
dapat Scabbers."
Telinga Ron menjadi merah.
Rupanya dia berpendapat telah
bicara terlalu banyak, karena dia
kembali memandang ke luar jendela.
Bagi Harry tak ada yang salah kalau
tidak mampu membeli burung
hantu. Lagipula dia sendiri tak
pernah punya uang sepeser pun
sampai sebulan yang lalu. Maka dia
menceritakan semuanya pada Ron
tentang bagaimana dia harus
memakai pakaian bekas Dudley dan
tak pernah dapat hadiah ulang tahun
yang pantas. Ini kelihatannya
membuat Ron senang.
"...dan sampai Hagrid
memberitahuku, aku tak tahu apa-
apa tentang diriku yang penyihir
ataupun tentang orangtuaku atau
Voldemort ..."
Ron terpekik kaget.
"Ada apa?" tanya Harry.
"Kau menyebutkan nama Kau-Tahu-
Siapa!" kata Ron, kedengarannya
shock sekaligus kagum. "Kukira kau,
lebih--lebih..."
"Aku tidak mencoba berani atau
apa, dengan menyebut nama itu,"
kata Harry. "Aku hanya tak pernah
tahu nama itu pantang disebut. Tahu
kan maksudku? Masih banyak sekali
yang harus kupelajari... pasti," dia
menambahkan, mengutarakan untuk
pertama kalinya sesuatu yang
belakangan ini banyak membuatnya
cemas. "Pastilah aku paling bego di
kelas."
"Tidak. Banyak orang yang berasal
dari keluarga Muggle dan mereka
belajar dengan cukup cepat."
Sementara mereka mengobrol,
kereta api telah membawa mereka
meninggalkan London. Sekarang
mereka melewati sawah-sawah
penuh sapi dan biri-biri. Selama
beberapa waktu mereka diam,
memandang sawah-sawah dan jalan
berkelebat cepat.
Sekitar pukul satu siang, terdengar
bunyi berkelontangan di lorong, lalu
seorang wanita berlesung pipit
tersenyum membuka pintu mereka
dan berkata, "Mau membeli sesuatu
dari troli, anak-anak?"
Harry yang belum sarapan langsung
melompat berdiri, tetap telinga Ron
jadi merah lagi dan dia bergumam
bahwa dia sudah membawa bekal
sandwich. Harry keluar lorong.
Harry tak pernah punya uang untuk
membeli permen selama tinggal
dengan keluarga Dursley, dan
sekarang ketika kantongnya penuh
uang emas dan perak dia siap
membeli coklat Mars Bars sebanyak
yang kuat dibawanya--tetapi wanita
itu tidak punya Mars Bars. Yang
dijualnya adalah Kacang Segala Rasa
Bertie Bott, Permen karet Tiup
Paling Hebat Drooble, Cokelat
Kodok, Pastel Labu, Bolu Kuali,
Tongkat Likor, dan beberapa
makanan aneh lain yang belum
pernah dilihat Harry seumur
hidupnya. Karena tak ingin ada yang
ketinggalan, Harry membeli
semuanya dan membayar
perempuan itu sebelas Sickle perak
dan tujuh Knut perunggu.
Ron terbelalak melihat Harry
membawa semua belanjaannya ke
dalam kompartemen mereka dan
menuangnya di atas tempat duduk
kosong.
"Lapar rupanya?"
"Lapar berat," sahut Harry sambil
menggigit sepotong besar pastel
labu.
Ron sudah mengeluarkan bungkusan
besar dan membukanya. Ada empat
sandwich di dalamnya. Ron
membuka satu di antaranya dan
berkata, "Mum selalu lupa aku tidak
suka kornet."
"Tukar saja dengan ini," kata Harry
seraya mengulurkan pastel. "Ayo,
tukar..."
"Kau tak akan mau roti ini, sudah
kering," kata Ron. "Mum tak punya
banyak waktu," dia menambahkan
cepat-cepat, "maklumlah, anaknya
banyak."
"Atau, pastel ini untukmu," kata
Harry, yang belum pernah memiliki
sesuatu untuk dibagikan atau,
malahan orang lain yang bisa diajak
berbagi. Senang rasanya duduk
bersama Ron, makan pastel dan
bolu sepanjang jalan (sandwichnya
tergeletak terlupakan).
"Apa ini?" Harry bertanya kepada
Ron sambil mengangkat satu pak
Coklat Kodok. "Bukan kodok
betulan, kan?" Dia mulai merasa tak
ada lagi yang bisa membuatnya
terkejut.
"Bukan," kata Ron. Tapi lihat apa
kartunya. Aku kurang Agrippa."
"Apa?"
"Oh, tentu saja, kau tidak tahu –
Cokelat Kodok ada kartu di
dalamnya, untuk dikoleksi–Para
penyihir Terkenal.A ku sudah punya
kira-kira lima ratus, aku belum
punya Agrippa atau Ptolemy."
Harry membuka bungkus Cokelat
Kodoknya dan mengambil kartunya.
Ada foto wajah laki-laki. Dia
memakai kacamata bulan separo,
hidungnya bengkok, dan rambut,
jenggot serta kumisnya putih
panjang keperakan. Di bawah foto
itu ada nama Albus Dumbledore.
"Jadi ini Dumbledore!" kata Harry.
"Jangan bilang kau belum pernah
dengar tentang Dumbledore!" kata
Ron. "Boleh aku minta Kodok? Siapa
tahu aku dapat Agrippa--trims..."
Harry membalik kartunya dan
membaca:
Albus Dumbledore saat ini menjabat
Kepala Sekolah Hogwarts.
Banyak yang menganggapnya sebagai
penyihir terbesar di zaman modern
ini. Prof. Dumbledore khususnya
terkenal karena berhasil
mengalahkan penyihir aliran hitam
Gridelwald pada tahun 1945,
penemuannya untuk dua belas
kegunaan darah naga dan karyanya
di bidang alkimia yang
dikerjakannya bersama mitranya,
Nicholas Flamel. Prof Dumbledore
menyukai musik kamar dan boling.
Harry membalik kembali kartunya
dan kaget sekali melihat wajah
Dumbledore sudah lenyap.
"Dia pergi!"
"Ya, kan dia tak bisa di sini
seharian." Kata Ron. "Dia akan
muncul lagi. Aduh aku dapat
Morgana lagi. Padahal aku sudah
punya enam... kau mau. Kau bisa
mulai mengoleksi."
Mata Ron tertuju pada tumpukan
Cokelat Kodok yang menunggu
dibuka bungkusnya.
"Ambil saja," kata Harry, "tapi di
dunia Muggle wajah orang tidak
pergi dari foto."
"Begitu? Apa mereka tidak bergerak
sama sekali?" Ron kedengarannya
heran, "Aneh!"
Harry terbelalak ketika Dumbledore
muncul lagi di kartu yang
dipegangnya dan tersenyum kecil
kepadanya. Ron lebih tertarik makan
cokelatnya daripada melihat-lihat
Penyihir Terkenal, tetapi Harry tak
bisa mengalihkan pandangannya dari
kartu-kartu itu. Segera saja dia tak
hanya punya Dumbledore dan
Morgana, tetapi juga Hengist dari
Woodcroft, Alberic Grunnion, Circle,
Paracelsus dan Merlin. Dia akhirnya
mengalihkan pandang dari pendeta
perempuan Cliodna, yang sedang
menggaruk-garuk hidung, untuk
membuka kantong kacang Segala
Rasa Bertie Bott.
"Hati-hati loh," Ron memperingati
Harry. "Segala Rasa di situ benar-
benar segara rasa--tahu kan, kau
mendapat rasa-rasa biasa seperti
cokelat, mint segar, selai tapi kau
juga bisa mendapat rasa bayam,
hati, dan babat. George bahkan
menduga dia pernah mendapat
kacang rasa setan."
Ron mengambil sebutir kacang
hijau, mengamati dengan teliti dan
menggigit sedikit ujungnya.
"Bleaargh – benar kan? Taoge"
Mereka asyik sekali makan Kacang
Segala Rasa. Harry mendapat roti
bakar, kelapa, kacang panggang,
stroberi, kari, rumput, kopi, sarden,
dan bahkan cukup berani menggigiti
ujung kacang abu-abu yang Ron
bahkan tidak berani menyentuhnya,
dan ternyata itu rasa merica.
Daerah pedesaan yang melayang
melewati mereka semakin liar.
Sawah-sawah yang rapi sekarang
sudah lenyap. Yang ada hutan,
sungai berkelok-kelok dan bukit-
bukit hijau gelap.
Terdengar ketukan di pintu
kompartemen mereka dan anak laki-
laki berwajah bundar, yang tadi
dilewati Harry di peron sembilan
tiga perempat, masuk. Dia
kelihatannya habis menangis.
"Maaf," katanya, "tapi apakah kalian
melihat katak?"
Ketika mereka menggelengkan
kepala, anak itu meratap, "Hilang
deh! Dia kabur terus dariku."
"Dia akan muncul," kata Harry.
"Ya," kata si anak sedih, "yah kalau
kau melihatnya..."
Dia pergi.
"Aku tak tahu kenapa dia sesedih
itu," kata Ron. "Kalau aku membawa
katak, aku akan kehilangan dia
secepat mungkin. Tahu tidak, aku
membawa Scabbers supaya aku
tidak bisa bicara."
Tikus itu masih tidur di pangkuan
Ron. "Dia bisa saja mati dan kau tak
akan tahu perbedaannya," kata Ron
sebal. "Aku mencoba mengubahnya
jadi kuning kemarin, tapi mantranya
tidak manjur. Akan kutunjukkan
padamu, lihat ..."
Dia mengaduk-aduk kopernya dan
menarik keluar tongkat yang sudah
sangat butut. Tongkat itu sudah
tergores dan bocel di mana-mana
dan ada benda putih berkilau di
ujungnya.
"Rambut unicornnya sudah hampir
lepas. Yang jelas..."
Ron baru mengangkat tongkatnya
ketika pintu kompartemen mereka
menggeser terbuka lagi. Anak yang
kehilangan katak muncul lagi, tetapi
kali ini ditemani anak perempuan.
Anak perempuan itu sudah memakai
jubah Hogwarts.
"Ada yang lihat katak? Katak Neville
hilang," katanya. Suaranya
berwibawa, rambut cokelat lebat
dan gigi depannya agak besar-besar.
"Kami sudah bilang padanya, tidak
lihat," kata Ron, tetapi anak
perempuan itu tidak mendengarkan.
Dia malah memandang tongkat di
tangan Ron.
"Oh, kau sedang menyihir ya? Coba
lihat."
Anak perempuan itu duduk. Ron
kelihatannya kaget.
"Er... baiklah."
Ron berdehem.
"Cahaya mentari, mentega,
kemuning. Ubahlah tikus gemuk
bodoh ini jadi kuning."
Ron mengayunkan tongkatnya, tetapi
tak terjadi apa-apa. Scabbers tetap
abu-abu dan tetap tidur nyenyak.
"Kau yakin yang kau ucapkan tadi
mantra?" tanya si anak perempuan,
"tidak begitu manjur, ya. Aku
sendiri sudah mencoba beberapa
mantra sederhana untuk latihan dan
semuanya manjur. Tak seorang pun
dalam keluargaku penyihir. Sungguh
kejutan besar waktu aku menerima
suratku, tetapi aku senang sekali,
tentu saja. Maksudku ini kan sekolah
sihir yang paling bagus, begitu yang
kudengar. Aku sudah hafal isi semua
buku kita, tentu saja kau cuma
berharap itu cukup – oh ya, aku
Hermione Granger, kalian siapa?"
Semua itu dikatakannya dengan
sangat cepat.
Harry memandang Ron dan langsung
lega. Melihat wajahnya yang
tercengang, berarti Ron juga belum
menghafal semua isi buku-bukunya.
"Aku Ron Weasley," gumam Ron
"Harry Potter," kata Harry.
"Kau Harry Potter?" kata Hermione,
"aku tahu segalanya tentang kau,
tentu saja. Aku membeli beberapa
buku lain untuk bacaan tambahan,
dan kau ada di buku Sejarah Sihir
Modern dan Kejayaan dan
Keruntuhan Sihir Hitam dan
Peristiwa-peristiwa Hebat di Dunia
Sihir Abad Dua Puluh."
"Betulkah?" Kata Harry Takjub.
"Astaga, tak tahukah kau?
Seandainya jadi kau, aku pasti sudah
menyelidiki apa saja tentang diriku,"
kata Hermione. "Apakah kalian tahu
kalian masuk asrama mana? Aku
sudah mencari informasi dan aku
berharap aku masuk Gryffindor.
Kedengarannya itu yang paling baik.
Kudengar Dumbledore sendiri juga
dulu di sana. Tetapi kurasa
Ravenclaw juga tidak terlalu
buruk.... tapi sebaiknya kami
mencari katak Neville lagi. Kalian
berdua sebaiknya ganti pakaian,
kurasa tak lama lagi kita sampai."
Dan dia pergi, mengajak si anak
yang kehilangan katak.
"Di rumah asrama mana pun aku
nanti, kuharap tidak serumah
dengan dia," kata Ron.
Dilemparkannya kembali tongkatnya
ke dalam kopernya. "Tongkat bego –
dikasih George, pasti deh dia tahu
tidak manjur."
"Di asrama mana kakak-kakakmu?"
tanya Harry.
"Gryffindor," kata Ron. Kemuraman
menyelimuti wajahnya lagi. "Mum
dan Dad juga di situ. Aku tak tahu
apa yang akan dikatakan mereka
kalau aku tidak bisa masuk situ.
Kurasa Ravenclaw tidak terlalu
buruk, tetapi bayangkan kalau
mereka menempatkan aku di
Slytherin."
"Vol... maksudku Kau-Tahu-Siapa
dulu di asrama itu?"
"Yeah," kata Ron, dia terenyak
kembali di tempat duduknya,
kelihatan tertekan.
"Eh Ron, ujung kumis Scabbers
warnanya lebih muda, ya?" kata
Harry berusaha mengalihkan pikiran
Ron dari asrama-asrama. "Apa yang
dilakukan kedua kakakmu yang
sudah meninggalkan Hogwarts?"
Harry bertanya-tanya dalam hati,
apa yang dilakukan penyihir setelah
sekolahnya selesai.
"Charlie di Rumania mempelajari
tentang naga, dan Bill di Afrika
melakukan sesuatu untuk Gringotts,"
kata Ron. Kau sudah dengar tentang
Gringotts? Beritanya ramai di Daily
Prophet, tetapi kurasa Muggle tidak
membaca koran itu. Ada yang
mencoba merampok ruangan besi
yang pengamanannya sangat ketat."
Harry terbelalak.
"Betul? Apa yang terjadi pada
mereka?"
"Tidak ada. Itulah sebabnya ini jadi
berita besar. Mereka tidak
tertangkap. Ayahku bilang pastilah
penyihir hitam yang hebat kalau bisa
lolos dari Gringotts, tetapi katanya
mereka tidak mengambil apa-apa.
Itu yang aneh. Tentu saja semua
orang jadi takut kalau hal semacam
itu terjadi, siapa tahu Kau-Tahu-
Siapa berada di belakangnya."
Harry mencerna berita ini dalam
benaknya. Dia mulai dirasuki rasa
takut setiap kali Kau-Tahu-Siapa
disebut-sebut. Dia menduga ini
bagian dari memasuki dunia sihir,
tetapi lebih nyaman baginya
mengucapakan "Voldemort" tanpa
perlu cemas.
"Apa tim Quidditch favoritmu?"
tanya Ron.
"Er... aku tak kenal tim Quidditch
mana pun," Harry mengaku.
"Apa! Ron tercengang. "Oh tunggu
saja, ini permainan paling hebat
sedunia..." langsung saja Ron
nyerocos menjelaskan tentang empat
bola dan posisi tujuh pemainnya,
menceritakan pertandingan-
pertandingan besar yang pernah
ditontonnya bersama kakak-
kakaknya dan sapu terbang yang
ingin dibelinya jika dia punya cukup
uang. Dia sedang menerangkan
aturan-aturan mainnya ketika pintu
kompartemen mereka tergeser
kembali. Tetapi kali ini yang datang
bukan Neville yang kehilangan katak
ataupun Hermione Granger.
Tiga anak laki-laki masuk dan Harry
langsung mengenali yang di tengah.
Si anak laki-laki pucat yang ada di
toko jubah Madam Malkin. Dia
memandang Harry dengan lebih
berminat daripada waktu di Diagon
Alley.
"Betulkah?" katanya, "di seluruh
gerbong anak-anak mengatakan
Harry Potter ada di kompartemen
ini. Jadi, rupanya kau, ya?"
"Ya," kata Harry. Dia memandang
dua anak lainnya. Mereka besar dan
kelihatannya sadis sekali. Berdiri di
kanan kiri anak pucat itu, mereka
kelihatannya seperti pengawal.
"Oh, ini Crabbe dan ini Goyle," kata
si pucat sambil lalu, ketika melihat
siapa yang dipandang Harry, "dan
namaku Malfoy, Draco Malfoy."
Ron terbatuk, yang mungkin
dilakukannya untuk menyamarkan
kikikan. Draco Malfoy
memandangnya.
"Kau pikir namaku lucu ya? Aku tak
perlu bertanya siapa kau. Ayahku
bilang semua Weasley berambut
merah, punya bintik-bintik di pipi
dan punya anak lebih banyak
daripada yang sanggup mereka
tanggung.
Dia kembali memandang Harry.
"Kau akan segera tahu beberapa
keluarga penyihir yang jauh lebih
baik daripada yang lain, Potter.
Jangan sampai berteman dengan
orang yang salah. Aku bisa
membantumu dalam hal ini."
Dia mengulurkan tangan untuk
menjabat tangan Harry, tetapi Harry
tidak menyambutnya.
"Kurasa aku bisa menentukan
sendiri mana orang yang salah,
terima kasih" katanya dingin.
Wajah Draco Malfoy tidak berubah
merah, tetapi rona merah jambu
muncul di pipinya yang pucat.
"Aku akan hati-hati kalau jadi kau,
Potter," katanya perlahan. "Kalau
kau tidak lebih sopan sedikit,
nasibmu akan sama dengan
orangtuamu. Mereka juga tak tahu
apa yang baik untuk mereka. Kalau
kau ke sana kemari dengan orang-
orang urakan seperti keluarga
Weasley dan Hagrid, kau pasti
ketularan."
Baik Harry maupun Ron bangkit.
Wajah Ron sudah semerah
rambutnya.
"Coba bilang lagi," katanya.
"Oh kalian mau berkelahi dengan
kami, ya?" Malfoy menyeringai.
"Kalau kalian tidak keluar sekarang
juga," kata Harry, lebih berani
daripada yang dirasakannya, karena
Crabbe dan Goyle jauh lebih besar
daripada dia maupun Ron.
"Tapi kita tak mau pergi kan teman-
teman? Kami sudah menghabiskan
makanan kami sedangkan kalian
masih punya sisa."
Goyle mengulurkan tangan ke
Cokelat Kodok di sebelah Ron. Ron
melompat ke depan tetapi sebelum
dia sempat menyentuh Goyle, Goyle
sudah menjerit menyeramkan.
Scabbers si tikus bergantung pada
Scabbers, gigi-gigi kecil yang tajam
terbenam dalam buku jadi Goyle.
Crabbe dan Malfoy mundur
sementara Goyle mengibas-ibaskan
Scabbers seraya melolong-lolong.
Dan ketika akhirnya Scabbers
terlepas dan menghantam jendela,
mereka bertiga langsung kabur.
Mungkin mereka mengira masih
banyak lagi tikus bersembunyi di
antara cokelat-cokelat atau mungkin
mereka mendengar langkah-langkah
kaki, karena sedetik kemudian
Hermione Granger masuk.
"Apa yang terjadi?" tanyanya seraya
memandang permen yang
berserakan di lantai dan Ron yang
memungut Scabbers pada ekornya.
"Kurasa dia pingsan," kata Ron
kepada Harry. Dia memeriksa
Scabbers dengan teliti. "Astaga aku
tak percaya. Dia sudah tidur lagi."
Scabbers memang tidur.
"Kau sudah pernah bertemu Malfoy
sebelumnya?"
Harry menjelaskan tentang
pertemuan mereka di Diagon Alley.
"Aku sudah dengar tentang
keluarganya," kata Ron muram.
"Mereka termasuk di antara
rombongan pertama yang kembali
memihak kita setelah Kau-Tahu-
Siapa menghilang. Katanya mereka
disihir. Ayahku tidak percaya. Dia
bilang ayah Malfoy tidak perlu
alasan untuk memihak Sihir Hitam."
Ron menoleh kepada Hermione.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Kalian sebaiknya bergegas dan
memakai jubah kalian. Aku baru dari
depan untuk menanyai masinis dan
dia bilang sebentar lagi kita sampai.
Kalian tidak habis berkelahi kan?
Kalian akan dapat kesulitan bahkan
sebelum kita sampai!"
"Scabbers yang berkelahi, bukan
kami," kata Ron sebal. "Silahkan
menyingkir selama kami berganti
pakaian."
"Baiklah, aku datang ke sini cuma
karena orang-orang di luar
bertingkah sangat kekanakan
berlarian sepanjang lorong," kata
Hermione bernada merendahkan,
"dari hidungmu ada kotorannya,
tahukah kau?"
Ron mendelik ke punggung
Hermione. Harry melihat keluar
jendela. Sudah mulai gelap. Dia bisa
melihat pegunungan dan hutan di
bawah langit ungu tua. Kereta api
kelihatannya memang melambat.
Harry dan Ron melepas jaket dan
memakai jubah panjang hitam
mereka. Jubah Ron agak
kependekan. Celana trainingnya
kelihatan di bawah jubah itu.
Terdengar pengumuman yang
dikumandangkan ke seluruh kereta.
"Kita akan tiba di Hogwarts lima
menit lagi, silahkan meninggalkan
barang-barang anda di kereta.
Barang-barang tersebut akan dibawa
ke sekolah secara terpisah."
Perut Harry terasa tegang dan
dilihatnya wajah Ron pucat di bawah
bintik-bintiknya. Mereka
menjejalkan sisa permen ke dalam
kantong dan bergabung dengan
anak-anak yang sudah memenuhi
lorong.
Kereta semakin melambat dan
akhirnya berhenti. Anak-anak
berdesakan ke pintu dan keluar ke
peron kecil gelap. Harry bergidik
dalam udara malam yang dingin.
Kemudian muncul lampu yang
bergoyang-goyang di atas kepala
anak-anak dan Harry mendengar
suara yang sudah dikenalnya, "Kelas
satu! Kelas satu di sini! semua oke,
Harry?"
Wajah Hagrid yang besar berewokan
tersenyum di atas lautan kepala
anak-anak.
"Ayo ikuti aku, masih ada lagi kelas
satu? Hati-hati melangkah. Kelas
satu ikut aku!"
Terpeleset dan terhuyung, mereka
mengikuti Hagrid menyusuri jalan
sempit curam. Di kanan kiri mereka
gelap sekali, sehingga Harry
menduga pepohonan di situ pastilah
lebat. Tak ada yang banyak bicara.
Neville si anak yang kehilangan
katak, terisak satu-dua kali.
"Sedetik lagi kalian akan melihat
Hogwarts untuk pertama kali,"
Hagrid berseru seraya menoleh,
"sesudah belokan ini."
Terdengar seruan "Ooooooh!" keras.
Jalan sempit itu mendadak
membuka ke tepi danau besar gelap.
Di atas gunung tinggi di seberang
danau, jendela-jendelanya berkilau
terang di bawah langit penuh
bintang, bertengger kastil besar
dengan banyak menara besar dan
kecil.
"Satu perahu tak boleh lebih dari
empat anak!" seru Hagrid seraya
menunjuk armada perahu kecil-kecil
yang siap menunggu di dekat tepi
danau. Harry dan Ron menuju ke
perahu mereka diikuti oleh Neville
dan Hermione .
"Semua sudah naik perahu?" teriak
Hagrid, yang sendirian di atas satu
perahu. "Baiklah kalau begitu
BERANGKAT!"
Dan armada perahu kecil-kecil
serentak meluncur di atas
permukaan danau, yang selicin kaca.
Semua diam, memandang kastil
besar di atas. Kastil itu menjulang
tinggi di atas mereka sementara
mereka semakin dekat ke bukit
karang tempatnya berdiri.
"Tundukkan kepala!" teriak Hagrid
ketika deretan pertama perahu tiba
di bukit karang. Mereka semua
menundukkan kepala dan perahu-
perahu kecil itu membawa mereka
melewati tirai sulur yang
menyembunyikan lubang menganga
di dinding bukit. Mereka dibawa
melewati lorong gelap, yang rupanya
berada persis di bawah kastil,
sampai mereka tiba di semacam
pelabuhan bawah tanah. Mereka
naik ke daratan berbatu karang dan
kerikil.
"Oi, kau! Apakah ini katakmu?" kata
Hagrid, yang memeriksa perahu-
perahu setelah anak-anak turun.
"Trevor!" pekik Neville gembira,
seraya mengulurkan tangan.
Kemudian mereka mendaki jalanan
di bukit karang, mengikuti cahaya
lampu Hagrid, sampai akhirnya tiba
di hamparan rumput halus
berembun tepat di depan bayangan
kastil.
Mereka mendaki undakan batu dan
berkerumun di depan pintu depan
besar dari kayu ek.
"Semua sudah di sini? Kau, katakmu
masih ada?"
Hagrid mengangkat kepalan
raksasanya dan mengetuk pintu
kastil tiga kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar