Selamat datang di blog gue

Sabtu, 15 Juni 2013

harry potter dan batu bertuah bab 7

Chapter 7 : TOPI SELEKSI
Pintu langsung membuka. Seorang
penyihir wanita jangkung memakai
jubah hijau zamrud berdiri di sana.
Wajahnya sangat galak dan pikiran
pertama Harry adalah jangan sampai
membuat penyihir ini marah.
"Kelas satu, Profesor McGonagall,"
kata Hagrid.
"Terima kasih, Hagrid. Biar aku
ambil alih sekarang.
Dibukanya pintu lebar-lebar. Aula di
belakang pintu luas sekali, seluruh
rumah keluarga Dursley bisa
dipindahkan ke situ. Dinding
batunya diterangi obor-obor
menyala seperti di Gringotts. Langit-
langitnya tinggi sekali sehingga tak
bisa dilihat, dan ada tangga pualam
megah di depan mereka, menuju ke
lantai atas.
Anak-anak mengikuti Profesor
McGonagall melintasi lantai batu
kotak-kotak. Harry bisa mendengar
dengung ratusan suara dari pintu di
sebelah kanan. Murid-murid lainnya
pastilah sudah di sana tetapi
Profesor McGonagall membawa
murid-murid kelas satu ke kamar
kecil kosong di luar aula. Mereka
bergerombol, berdiri lebih
berdekatan daripada biasanya,
memandang berkeliling dengan
cemas.
"Selamat datang di Hogwarts," kata
Profesor McGonagall. "Pesta awal
tahun ajaran baru akan segera
dimulai, tetapi sebelum kalian
mengambil tempat duduk di Aula
Besar, kalian akan diseleksi masuk
rumah asrama mana. Seleksi ini
upacara yang sangat penting, karena
selama kalian berada di sini, asrama
kalian akan menjadi semacam
keluarga bagi kalian di Hogwarts.
Kalian akan belajar dalam satu kelas
dengan teman-teman seasrama
kalian, tidur di asrama kalian, dan
melewatkan waktu luang di ruang
rekreasi asrama kalian.
"Ada empat asrama di sini,
Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw
dan Slytherin. Masing-masing
asrama punya sejarah luhur dan
masing-masing telah menghasilkan
penyihir hebat. Selama kalian di
Hogwarts, prestasi dan kemenangan
kalian akan menambah angka bagi
asrama kalian, sementara
pelanggaran peraturan akan
membuat angka asrama kalian
dikurangi. Pada akhir tahun, asrama
yang berhasil mengumpulkan angka
paling banyak akan dianugerahi
Piala Asrama, suatu kehormatan
besar. Kuharap kalian semua akan
membawa kebanggaan bagi asrama
mana pun yang akan kalian tempati.
Upacara seleksi akan berlangsung
beberapa menit lagi di hadapan
seluruh penghuni sekolah.
Kusarankan kalian merapikan diri
sebisa mungkin selama menunggu."
Matanya sejenak menatap jubah
Neville, yang dikancingkan di bawah
telinga kirinya dan hidung Ron yang
ada kotoran hitamnya. Harry dengan
gelisah mencoba meratakan
rambutnya.
"Aku akan kembali kalau kami sudah
siap menerima kalian," kata
Profesor McGonagall. "Tunggu di
sini dan jangan ribut."
Dia meninggalkan ruangan. Harry
menelan ludah.
"Bagaimana cara mereka menyeleksi
kita masuk asrama?" tanyanya
kepada Ron.
"Dengan semacam tes, kurasa. Kata
Fred prosesnya menyakitkan sekali,
tetapi kurasa dia cuma bergurau."
Hati Harry mencelos. Tes? Di depan
seluruh sekolah? Tetapi dia sama
sekali tak tahu apa-apa tentang
sihir. Apa yang harus dilakukannya?
Dia tidak menyangka akan ada tes
begitu mereka sampai. Dia
memandang berkeliling dengan
cemas dan melihat bahwa anak-anak
lain juga sama takutnya. Tak ada
yang banyak bicara kecuali
Hermione Granger yang dalam
bisikan mengucapkan dengan cepat
semau mantra yang telah
dipelajarinya. Harry berusaha keras
untuk tidak mendengarkannya.
Belum pernah dia secemas ini,
belum pernah. Bahkan ketika dia
harus membawa laporan dari
sekolah kepada keluarga Dursley
bahwa entah bagaimana dia telah
mengubah wig gurunya menjadi
biru, dia tidak secemas ini. Matanya
diarahkannya ke pintu. Setiap saat
Profesor McGonagall bisa kembali
dan membawanya menyongsong
malapetaka.
Kemudian sesuatu terjadi yang
membuatnya terlonjak sekitar tiga
puluh senti ke atas--beberapa anak
di belakangnya menjerit.
"Ada a...?"
Harry ternganga. Begitu juga anak-
anak di sekitarnya.
Kira-kira dua puluh hantu baru saja
masuk menembus dinding. Putih
berkilau bagai mutiara dan agak
transparan, mereka melayang di
ruangan, sibuk mengobrol dan
nyaris tidak memedulikan murid-
murid kelas satu. Kelihatannya
mereka sedang bertengkar. Hantu
yang kelihatan seperti rahib kecil
gemuk berkata, "Maafkan dan
lupakan. Menurutku kita harus
memberinya kesempatan kedua..."
"Rahibku sayang, bukankah kita
sudah memberi Peeves semua
kesempatan yang layak diterimanya?
Dan membuat kita semua mendapat
nama buruk dan kau tahu, dia
bahkan bukan hantu betulan – eh
ngapain kalian semua di sini?"
Hantu yang memakai kerah rimpel
dan celana ketat tiba-tiba menyadari
ada murid-murid kelas satu.
Tak ada yang menjawab.
"Murid-murid baru!" kata si rahib
gemuk, memandang berkeliling
sambil tersenyum. "Akan segera
diseleksi kan?"
Beberapa anak mengangguk tanpa
suara.
"Mudah-mudahan kita ketemu lagi
di Hufflepuff!" kata si rahib.
"Asramaku dulu di situ."
"Minggir kalian," terdengar suara
tegas, "upacara seleksi akan segera
dimulai."
Profesor McGonagall telah kembali.
Satu demi satu hantu-hantu itu
melayang keluar menembus dinding
yang berhadapan.
"Sekarang berbaris satu-satu." kata
Profesor McGonagall kepada anak-
anak kelas satu, "dan ikuti aku."
Merasa berat seakan kakinya
berubah jadi timah Harry masuk
barisan di belakang anak berambut
kecokelatan, dengan Ron di
belakangnya. Mereka berjalan
meninggalkan ruangan itu, kembali
ke aula depan dan masuk lewat
sepasang pintu ganda ke aula besar.
Harry tak pernah membayangkan
ada tempat seaneh dan sehebat itu.
Aula ini diterangi ribuan lilin yang
melayang-layang di udara di atas
empat meja panjang. Murid-murid
kelas yang lebih tinggi duduk
mengelilingi keempat meja ini.
Meja-meja ini dipenuhi piring dan
piala keemasan berkilau. Di ujung
Aula, di tempat yang lebih tinggi,
ada meja panjang lain, tempat para
guru duduk. Profesor McGonagall
membawa murid-murid kelas satu
ke sana, sehingga mereka berhenti
dalam satu barisan panjang
menghadap murid-murid yang lain
dengan para guru di belakang
mereka. Ratusan wajah yang
memandang mereka seperti lentera
pucat di bawah kelap-kelip cahaya
lilin. Bertebaran di sana sini di
antara para murid, hantu-hantu
berkilau bagai kabut keperakan.
Untuk menghindari begitu banyak
mata yang menatapnya, Harry
memandang ke atas dan melihat
langit-langit hitam bagai beludru
dengan bintang-binatang
bertebaran. Didengarnya Hermione
berbisik, "disihir supaya tampak
seperti langit di luar. Aku baca
dalam buku Sejarah Hogwarts."
Sulit membayangkan bahwa di atas
situ ada langit-langit dan Aula besar
itu tidak langsung membuka ke
langit.
Harry cepat-cepat memandang ke
bawah lagi ketika Profesor
McGonagall meletakkan bangku
berkaki empat di depan murid-
murid kelas satu.
Di atas bangku itu diletakkannya
topi sihir berujung runcing. Topi itu
sudah bertambal, berjumbai dan
kotor sekali. Bibi Petunia tak akan
mengizinkan topi itu dibawa masuk
rumah.
Mungkin mereka harus mencoba
menyihir dan mengeluarkan kelinci
dari topi itu, pikir Harry panik.
Kelihatannya begitu karena semua
orang di Aula sekarang mengarahkan
pandangan ke topi itu. Harry juga
memandangnya. Selama beberapa
detik, hanya ada kesunyian total.
Kemudian topi itu meliuk. Robekan
di dekat tepinya membuka lebar
seperti mulut dan topi itu mulai
menyanyi.
"Oh mungkin menurutmu aku jelek,
Tapi jangan menilaiku dari
penampilanku,
Berani taruhan takkan bisa
kautemukan
Topi yang lebih pandai dariku
Tubuhmu boleh hitam kelam,
Topimu licin dan tinggi,
Aku mengungguli semua itu
Karena di Hogwarts ini aku Topi
Seleksi.
Tak ada apapun dalam pikiranmu
Yang bisa kau sembunyikan dariku
Jadi pakailah aku dan kau akan
kuberitahu
Asrama mana yang cocok untukmu
Mungkin kau sesuai untuk
Gryffindor,
Tempat berkumpul mereka yang
berhati berani dan jujur
Keberanian, keuletan dan
kepahlawanan mereka
Membuat nama Gryffindor masyhur.
Mungkin juga di Hufflepuff-lah
tempatmu
Bersama mereka yang adil dan setia,
Penghuni Hufflepuff sabar dan loyal
Kerja keras bukan beban bagi
mereka.
Atau siapa tahu di Ravenclaw,
Kalau kau cerdas dan mau belajar
Ini tempat para bijak dan cendekia,
Ajang berkumpul mereka yang
pintar,
Atau bisa juga di Slytherin
Kau menemukan teman sehati,
Orang-orang yang licik ini
menggunakan segala cara
Untuk mendapatkan kepuasan
pribadi
Jadi segeralah pakai aku!
Janganlah takut dan jangan ragu!
Dijamin kau akan aman
Karena aku Topi Seleksimu!"
Seluruh aula besar meledak dalam
tepuk tangan riuh rendah ketika topi
itu mengakhiri nyanyiannya. Topi itu
membungkuk ke arah empat meja
dan kemudian diam lagi.
"Jadi kita harus memakai topi itu!"
Ron berbisik pada Harry. "Kubunuh
Fred. Dia bilang kita harus berkelahi
dengan Troll."
Harry tersenyum lemah. Ya,
memakai topi memang jauh lebih
baik dari menyihir, tetapi sebetulnya
dia lebih suka kalau bisa
melakukannya tanpa ditonton semua
orang. Topi itu rasanya menuntut
terlalu banyak. Harry tidak merasa
berani ataupun cerdas atau apa pun
juga pada saat ini. Kalau saja topi
itu menyebutkan asrama bagi
mereka yang merasa gelisah dan
mau muntah, asrama itulah yang
paling cocok untuknya.
Profesor McGonagall maju
memegangi gulungan perkamen
panjang.
"Yang disebutkan namanya harap
maju dan memakai topi, lalu duduk
di atas bangku untuk diseleksi,"
katanya.
"Abbot, Hannah!"
Seorang anak perempuan berwajah
merah dengan rambut pirang
berbuntut kuda keluar dari barisan
untuk memakai topi, yang langsung
melorot menutupi matanya dan
duduk.
Sejenak kemudian....
"Hufflepuff! " teriak si topi.
Meja di sebelah kanan bersorak dan
bertepuk tangan ketika Hannah
mendekat dan duduk di meja
Hufflepuff . Harry melihat Rahib
Gemuk melambai-lambaikan tangan
dengan gembira ke arah Hannah.
"Bones, Susan!"
"Hufflepuff!" teriak si topi lagi dan
Susan berlari untuk duduk di
sebelah Hannah.
"Boot, Terry!"
"Ravenclaw!"
Meja kedua dari kiri ganti bertepuk
kali ini, beberapa anak Ravenclaw
berdiri untuk berjabat tangan
dengan Terry ketika dia telah
bergabung dengan mereka.
"Brocklehurst, Mandy" juga ke
Ravenclaw, tetapi "Brown,
Lavender" menjadi anggota baru
Gryffindor yang pertama dan meja
di ujung kiri meledak bersorak-
sorai. Harry melihat kedua kakak
kembar Ron berteriak-teriak.
Yang berikutnya "Bulstrode,
Millicent" untuk Slytherin. Mungkin
hanya sekedar bayangan Harry
setelah segala sesuatu yang
didengarnya tentang Slytherin, tetapi
baginya anak-anak Slytherin
kelihatannya tidak menyenangkan.
Harry benar-benar mau muntah
sekarang. Dia ingat acara pemilihan
regu olahraga di sekolahnya yang
dulu. Dia selalu dipilih paling
belakangan, bukan karena dia tidak
bisa berolahraga, tetapi karena tak
seorang pun mau Dudley mengira
mereka menyukai Harry.
"Finch-Fletchley, Justin!"
"Hufflepuff!"
Kadang-kadang Harry
memperhatikan si topi langsung
meneriakkan nama asrama, tetapi
bisa juga lama baru memutuskan.
"Finnigan, Seamus" anak laki-laki
berambut cokelat di depan Harry,
duduk di bangku hampir semenit
penuh sebelum si topi memutuskan
Gryffindor untuknya.
"Granger, Hermione!"
Hermione nyaris lari ke bangku dan
dengan bersemangat memasang topi
di kepalanya.
"Gryffindor!" teriak si topi. Ron
mengeluh.
Pikiran mengerikan melintas di
benak Harry. Seperti biasa pikiran
mengerikan selalu muncul bila kau
sedang sangat cemas. Bagaimana
jika dia tidak dipilih? bagaimana
kalau dia duduk terus di atas bangku
dengan topi menutupi kepalanya,
sampai Profesor McGonagall
mencopotkannya dari kepala dan
menyatakan bahwa jelas ada
kekeliruan, lalu menyuruhnya
kembali ke kereta?
Ketika Neville Longbottom, anak
yang selalu kehilangan kataknya
dipanggil namanya, dia terjatuh
waktu berjalan ke bangku. Si topi
perlu waktu lama untuk mengambil
keputusan bagi Neville. Ketika
akhirnya topi itu meneriakkan
"GRYFFINDOR", Neville berlari
masih memakai topi itu, dan
terpaksa kembali di tengah riuhnya
tawa untuk memberikannya kepada
"MacDougal, Morag".
"Malfoy, Draco!"
Malfoy berjalan dengan sok ketika
namanya dipanggil dan keinginannya
langsung terkabul. Begitu
menyentuh kepalanya, di topi
langsung berteriak "Slytherin!"
Malfoy bergabung dengan teman-
temannya, Crabbe dan Goyle,
wajahnya kelihatan puas.
Tidak banyak lagi yang tinggal
sekarang.
"Moon" ... "Nott" ... "Parkinson" ...
kemudian sepasang gadis kembar,
"Patil" dan "Patil" ... kemudian
"Perks, Sally-Anne" ... dan
kemudian, akhirnya ... " Potter,
Harry!"
Sesaat Harry melangkah ke depan,
bisik-bisik tiba-tiba menjalar seperti
api yang mendesis di seluruh aula.
"Potter, dia menyebut begitu?"
"Si Harry Potter yang itu?"
Hal terakhir yang dilihat Harry
sebelum topi menutup matanya
adalah anak-anak seaula
menjulurkan leher agar bisa
melihatnya lebih jelas. Detik
berikutnya yang kelihatan adalah
bagian dalam topi yang hitam.
Dia menunggu.
"Hmmmm", terdengar suara kecil di
telinganya. "Sulit... sangat sulit.
Keberanian besar rupanya. Otak juga
encer. Ada bakat, oh astaga ya dan
kehausan untuk membuktikan diri,
ah ini menarik... jadi sebaiknya di
mana kau kutempatkan?" Harry
mencengkeram tepi bangku dan
membatin, Jangan Slytherin, jangan
Slytherin.
"Jangan Slytherin, eh?" kata suara
kecil itu. "Kau yakin? Kau bisa jadi
penyihir hebat lho, semuanya ada di
kepalamu, dan Slytherin bisa
membantumu mencapai
kemasyhuran, tak diragukan lagi—
tidak? Yah, kalau kau yakin—lebih
baik GRYFFINDOR!"
Harry mendengar si topi
meneriakkan kata terakhir itu ke
aula. Dia mencopot topinya dan
berjalan dengan gemetar menuju
meja Gryffindor. Dia lega sekali
sudah dipilih dan tidak ditempatkan
di Slytherin, sehingga dia nyaris
tidak memperhatikan bahwa dia
mendapat sambutan yang paling
meriah. Percy si Prefek bangkit dan
menjabat tangannya dengan penuh
semangat, sementara si kembar
Weasley memekik,
"Kami dapat Potter! Kami dapat
Potter!" Harry duduk berhadapan
dengan hantu berkerah rimpel yang
sebelumnya sudah dilihatnya. Si
hantu mengelus lengannya,
membuat Harry merasa dia
mendadak dicemplungkan ke dalam
seember air es.
Harry bisa melihat Meja Tinggi
dengan jelas sekarang. Di ujung yang
paling dekat duduk Hagrid, yang
bertatap mata dengannya dan
mengacungkan kedua ibu jarinya.
Harry balas tersenyum. Dan di
tengah Meja Tinggi itu, dalam kursi
besar emas, duduklah Albus
Dumbledore, Harry langsung
mengenalinya dari kartu yang
didapatnya dari Cokelat Kodok di
kereta api tadi. Rambut keperakan
Dumbledore adalah satusatunya di
dalam Aula yang berkilau sama
terangnya dengan para hantu. Harry
melihat Profesor Quirrell juga, si
laki-laki muda gugup yang
ditemuinya di Leaky Cauldron.
Profesor Quirrell kelihatan aneh
sekali dengan memakai turban besar
ungu.
Sekarang tinggal tiga anak lagi untuk
diseleksi. "Thomas, Dean" seorang
anak laki-laki berkulit hitam dan
lebih tinggi dari Ron, bergabung
dengan Harry di meja Gryffindor.
"Turpin, Lisa" menjadi anggota
Ravenclaw, dan kemudian tibalah
giliran Ron. Ron sudah pucat pasi
sekarang. Harry menyilangkan jari di
bawah meja, mengharap
keberuntungan dan sedetik
kemudian si topi berteriak,
"GRYFFINDOR!"
Harry bertepuk keras bersama yang
lain sementara Ron terenyak duduk
di kursi di sebelahnya.
"Bagus sekali, Ron, Hebat!" kata
Percy Weasley bangga sementara
"Zabini, Blaise " dinyatakan masuk
Slytherin. Profesor McGonagall
menggulung perkamennya dan
mengambil kembali si Topi Seleksi.
Harry menatap piring emasnya yang
kosong. Dia baru sadar betapa
laparnya dia. Pastel labu tadi serasa
sudah seabad lamanya.
Albus Dumbledore sudah berdiri.
Dia tersenyum kepada anak-anak,
lengannya terbuka lebar-lebar,
seakan-akan tak ada yang lebih
membuatnya senang daripada
melihat mereka semua ada di sana.
"Selamat datang!" katanya. "Selamat
datang untuk mengikuti tahu ajaran
baru di Hogwarts. Sebelum kita
mulai acara makan kita, aku ingin
menyampaikan beberapa patah kata.
Inilah dia Dungu! Gendut! Aneh!
Jewer!"
"Terima kasih!"
Dia duduk kembali. Semua anak
bertepuk tangan dan bersorak.
Harry tak tahu apakah dia harus
tertawa atau tidak.
"Apa dia – agak sinting?" tanyanya
ragu-ragu pada Percy.
"Sinting?" kata Percy dibuat-buat.
"Dia jenius! Penyihir paling hebat di
dunia! Tapi dia memang agak
sinting, ya. Kentang, Harry?"
Mulut Harry ternganga. Piring-piring
di depannya sekarang penuh berisi
makanan. Belum pernah dia melihat
begitu banyak makanan yang ingin
dimakannya terhidang di satu meja.
Daging sapi panggang, ayam, babi,
kambing, sosis, daging asap, steak,
kentang goreng, kentang rebus,
puding, kacang, wortel, kaldu, saus
tomat, bahkan permen pedes.
Keluarga Dursley memang tidak
membuat Harry kelaparan, tetapi
dia tidak pernah diizinkan makan
sebanyak yang dia inginkan. Dudley
selalu mengambil apa saja yang
diinginkan Harry meskipun itu
membuatnya sakit perut
kekenyangan. Harry mengisi
piringnya dengan semua makanan
sedikit-sedikit, kecuali permen
pedes, lalu mulai makan. Semuanya
enak.
"Kelihatannya enak," kata hantu
berkerah rimpel dengan sedih,
memandang Harry mengiris
steaknya.
"Tak bisakah kau...?"
"Aku sudah tidak makan selama
hampir empat ratus tahun," kata si
hantu. "Tidak perlu sih, memang,
tapi kadang-kadang kepingin juga.
Kurasa aku belum memperkenalkan
diri? Sir Nicholas de Mimsy-
Porpington siap melayani anda.
Hantu menara Gryffindor."
"Aku tahu siapa kau!" kata Ron tiba-
tiba. "Kakak-kakakku sudah
bercerita tentang kau – kau Nick si
Kepala-Nyaris-Putus!"
"Aku lebih suka kalian memanggilku
Sir Nicholas de Mimsy..." kata si
hantu kaku, tetapi Seamus Finnigan
si rambut cokelat menyela.
"Kepala-Nyaris-Putus? Bagaimana
kau bisa disebut Kepala-Nyaris-P
utus?"
Sir Nicholas tampak jengkel sekali,
seakan obrolan kecil mereka tidak
berlangsung seperti yang
diharapkannya.
"Begini," katanya sebal. Dia
memegang telinga kirinya lalu
menariknya. Seluruh kepalanya
terlepas dari lehernya dan jatuh ke
bahunya, seakan tergantung pada
engsel. Jelas ada orang yang
mencoba memenggal kepalanya,
tetapi tidak melakukannya dengan
sempurna. Puas melihat kekagetan
mereka, Nick Si Kepala-Nyaris-Putus
mengembalikan kepala ke lehernya,
berdehem dan berkata, "jadi
anggota baru Gryffindor! kuharap
kalian akan membantu kami
memenangkan Kejuaraan Antar
Asrama tahu ini! Belum pernah
Gryffindor tidak menang selama ini.
Slytherin mendapatkan piala selama
enam tahun berturut-turut! Si Baron
Berdarah sudah jadi sok dan
menyebalkan sekali--dia Hantu
Slytherin."
Harry memandang ke meja Slytherin
dan melihat hantu mengerikan
duduk di sana, dengan mata
menatap kosong, wajah pucat dan
jubah penuh bercak darah
keperakan. Dia duduk di sebelah
Malfoy, dan Harry girang melihat
Malfoy kelihatannya tidak senang
dengan pengaturan tempat duduk
ini.
"Bagaimana dia bisa berlumuran
darah begitu?" tanya Seamus penuh
ingin tahu.
"Aku tak pernah tanya," jawab Nick
Si Kepala-Nyaris-Putus.
Ketika semua sudah makan
sekenyang mungkin, sisa makanan
lenyap begitu saja dari piring-piring,
dan piring-piring langsung bersih
berkilauan seperti semula. Sesaat
kemudian makanan penutup
bermunculan. Aneka puding, es krim
segala rasa, pai apel, kue tar
karamel, sus cokelat, donat cokelat,
selai, kacang, madu, jeli....
Ketika Harry mengambil tar
karamel, pembicaraan beralih ke
keluarga.
"Aku setengah-setengah," kata
Seamus. Ayahku Muggle. Ibuku baru
memberitahu dia sesudah menikah.
Bayangkan, betapa kagetnya ayah."
Mereka semua tertawa.
"Kalau kau bagaimana, Neville?"
"Aku dibesarkan oleh nenek dan dia
penyihir," kata Neville, "tetapi
selama bertahun-tahun seluruh
keluarga mengira aku Muggle. Adik
nenekku, Kakek Algie, berkali-kali
menjebakku untuk memancing
keluarnya sihir dariku – bahkan dia
pernah mendorongku sampai jatuh
dari dermaga, aku nyaris
tenggelam--tapi tak ada yang terjadi
sampai aku berusia delapan tahun.
Kakek Algie datang untuk minum teh
bersama kami dan dia memegangiku
terbaik pada pergelangan kakiku
dari jendela loteng, ketika adiknya,
Nenek Enid menawarinya kue manis,
dan tak sengaja dia melepas
pegangannya. Tetapi aku selamat--
melambung begitu saja di kebun lalu
ke jalan. Mereka senang sekali.
Nenek sampai menangis saking
senangnya. Dan kalian seharusnya
melihat wajah mereka waktu aku
masuk--soalnya mereka tidak
mengira aku punya kekuatan sihir
untuk bisa masuk lagi. Kakek Algie
puas sekali, sehingga dia
membelikan aku katakku itu."
Di sisi lain Harry, Percy Weasley dan
Hermione membicarakan pelajaran,
"Kuharap mereka langsung memulai
pelajaran, banyak sekali yang harus
dipelajari. Aku terutama tertarik
pada Transfigurasi, tahu kan,
mengubah sesuatu menjadi sesuatu
yang lain. Tentu saja ini sulit
sekali... mulainya kecil-kecil dulu,
korek api jadi jarum dan
semacamnya..."
Harry yang mulai merasa hangat dan
mengantuk, menatap Meja Tinggi
lagi. Hagrid sedang asyik minum
dari pialanya. Profesor McGonagall
sedang berbicara dengan Profesor
Dumbledore . Profesor Quirrel,
dengan turbannya yang ajaib,
sedang bicara pada guru berambut
hitam berminyak, dengan hidung
bengkok dan kulit pucat.
Kejadiannya tiba-tiba sekali. Si guru
berhidung bengkok memandang
melewati turban Quirrell langsung
ke mata Harry – dan rasa sakit yang
perih dan panas menerpa bekas luka
di dahi Harry.
"Ouch!" Harry menempelkan tangan
di dahinya.
"Ada apa?" tanya Percy.
"Ti-tidak ada apa-apa."
Rasa sakit itu lenyap sama cepatnya
dengan datangnya. Yang lebih sulit
dihilangkan adalah perasaan yang
didapat Harry dari pandangan guru
tadi--perasaan bahwa dia sama
sekali tidak menyukai Harry.
"Siapakah guru yang sedang bicara
dengan Profesor Quirrel?" Harry
bertanya kepada Percy.
"Oh, kau sudah kenal Quirrel , ya?
Tidak heran dia kelihatan begitu
gelisah, itu Profesor Snape. Dia
mengajar Ramuan, tetapi sebetulnya
tidak mau--semua orang tahu dia
menginginkan jabatan Profesor
Quirrel . Si Snape itu tahu banyak
tentang Sihir Hitam."
Selama beberapa waktu Harry
mengawasi Snape, tetapi Snape tidak
memandangnya lagi.
Akhirnya makanan penutup juga
lenyap dan profesor Dumbledore
berdiri lagi. Aula langsung senyap.
"Ehem.... Cuma beberapa patah kata
lagi setelah kita kenyang makan dan
minum. Ada beberapa pengumuman
awal tahun ajaran yang akan
kusampaikan. Murid-murid kelas
satu harus tahu bahwa hutan di
sekeliling halaman itu terlarang
untuk dimasuki bagi siapa saja. Dan
beberapa murid kelas tinggi
sebaiknya juga ingat ini."
Mata Dumbledore yang bersinar
terarah kepada si kembar Weasley.
"Aku juga diminta oleh Mr Filch,
penjaga sekolah, untuk
mengingatkan kalian semua, bahwa
sihir tak boleh digunakan pada saat
pergantian kelas di koridor-koridor.
"Pemilihan pemain Quidditch akan
diadakan pada minggu kedua
semester ini. Siapa saja yang
berminat bermain untuk tim
asramanya, silahkan menghubungi
Madam Hooch.
"Dan yang terakhir, aku harus
menyampaikan kepada kalian, bahwa
tahun ini koridor lantai tiga sebelah
kanan sebaiknya dihindari oleh
mereka yang tak ingin mati penuh
penderitaan."
Harry tertawa, tetapi dia hanya
salah satu dari sedikit yang tertawa.
"Dia tidak serius kan?" dia
bergumam kepada Percy.
"Serius," kata Percy, seraya
mengerutkan kening memandang
Dumbledore."Aneh, karena biasanya
dia memberi kita alasan kenapa kita
tidak boleh masuk ke tempat
tertentu – hutan itu penuh dengan
binatang berbahaya, semua tahu itu.
Menurut aku paling tidak
seharusnya dia memberitahu para
Prefek."
"Dan sekarang, sebelum kita tidur,
marilah menyanyikan lagu sekolah
kita," seru Dumbledore. Harry
memperhatikan bahwa guru-guru
lainnya semua tersenyum.
Dumbledore menjentikkan
tongkatnya seakan berusaha
mengusir lalat dari ujungnya, dan
sehelai pita emas panjang melayang
keluar dari tongkat itu, terbang
tinggi di atas meja-meja, lalu
meliuk-liuk membentuk kata-kata.
"Masing-masing pilih nada
favoritnya," kata Dumbledore, "dan
kita mulai!"
Dan nyanyian pun membahana.
"Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty
Hogwarts,
ajari kami sesuatu
biar kami tua dan botak,
atau muda dan masih lugu,
kepala kami kosong melompong.
Masih perlu banyak diisi,
Dengan hal-hal menarik dan
berguna,
Agar kami jadi orang berarti,
Ingatkan kembali hal-hal yang telah
kami lupakan
Dan ajari kami segala yang perlu
diketahui
Bimbing kami sebaik-baiknya,
Kami akan belajar sepenuh hati"
Masing-masing mengakhiri lagu ini
pada saat yang berlainan. Akhirnya
hanya tinggal si kembar Weasley
yang menyanyikannya dengan gaya
mars pemakaman yang amat
lamban. Dumbledore bertindak
sebagai dirigen, memimpin baris-
baris terakhir nyanyian mereka
dengan tongkatnya, dan ketika
mereka selesai bernyanyi,
Dumbledore adalah salah satu dari
mereka yang bertepuk tangan paling
keras.
"Ah, musik," katanya serata
menyeka matanya, "lebih magis dari
segala yang kita pelajari di sini! Dan
sekarang, waktunya tidur!
Berangkat!"
Murid-murid kelas satu Gryffindor
mengikuti Percy menembus
kerumunan yang ramai mengobrol,
meninggalkan Aula Besar dan
menaiki tangga pualam. Kaki Harry
terasa berat seperti timah lagi, tapi
kali ini karena dia lelah sekali dan
kekenyangan.
Dia sudah sangat mengantuk
sehingga tidak memperhatikan
orang-orang dalam lukisan yang
bergantung di sepanjang koridor
berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk
saat mereka lewat, atau bahwa Percy
membawa mereka melewati pintu
yang tersembunyi di balik panel
sorong dan permadani hiasan
dinding. Mereka menaiki lebih
banyak tangga lagi, menguap dan
menyeret kaki-kaki mereka, dan
Harry baru bertanya-tanya dalam
hati berapa jauh lagi yang harus
mereka tempuh ketika mendadak
mereka berhenti.
Seikat tongkat melayang-layang di
depan mereka dan ketika Percy
melangkah maju, tongkat-tongkat itu
melayang membenturnya.
"Peeves," Percy berbisik kepada
anak-anak kelas satu, "hantu jail,"
dia mengeraskan suaranya "Peeves--
perlihatkan dirimu."
Terdengar bunyi keras tidak sopan
seperti udara yang dikeluarkan dari
balon.
"Kau ingin kupanggilkan Baron
Berdarah?"
Terdengar bunyi pop dan sesosok
laki-laki kecil dengan mata nakal
berwarna kelam dan mulut lebar,
muncul melayang bersila di udara
memegangi tongkat-tongkat tadi.
"Oooooooooooooh!" katanya sambil
tertawa nakal. "Kelas Satu! Asyik!"
Mendadak dia menyambar ke arah
mereka. Anak-anak menunduk.
"Enyah kau, Peeves. Kalau tidak si
Baron akan dengar tentang semua
ini. Betul!" bentak Percy.
Peeves menjulurkan lidah dan
menghilang, menjatuhkan tongkat-
tongkat itu ke kepala Neville.
Mereka mendengarnya meluncur
pergi, menyenggol baju-baju ziarah
sampai berkelontangan.
"Kalian harus berhati-hati pada
Peeves," kata Percy, ketika mereka
melanjutkan perjalanan lagi. "Si
Baron Berdarahlah satu-satunya
yang bisa mengontrolnya. Dia
bahkan tak mau mendengarkan
kami, para Prefek. Nah, kita
sampai."
Di ujung koridor tergantung lukisan
wanita amat gemuk memakai gaun
merah jambu.
"Kata kunci?" katanya.
"Caput Draconis," jawab Percy, dan
lukisan itu mengayun ke depan.
Ternyata di dinding di belakangnya
ada lubang. Mereka semua masuk
melewati lubang itu – Neville perlu
didorong – dan tiba-tiba sudah
berada di ruang rekreasi Gryffindor,
ruangan bundar nyaman penuh sofa
empuk.
Percy menyuruh anak-anak
perempuan melewati satu pintu
menuju ke kamar tidur mereka, dan
anak laki-laki lewat pintu yang lain.
Di puncak tangga melingkar--jelas
mereka berada di salah satu
menara--akhirnya mereka
menemukan tempat tidur mereka,
lima tempat tidur besar dengan
kelambu beludru merah tua. Koper-
koper mereka sudah dibawa naik.
Sudah terlalu lelah untuk
mengobrol, mereka memakai piama
dan langsung rebah di tempat tidur.
"Makanannya enak sekali, ya?"
gumam Ron kepada Harry dari balik
kelambu. "Minggir, Scabbers. Dia
menggerigiti sepraiku."
Harry mau bertanya kepada Ron
kalau dia tadi makan kue tar
karamel, tetapi keburu tertidur.
Mungkin Harry makan agak terlalu
banyak, karena dia bermimpi aneh
sekali. Dia memakai turban Profesor
Quirrel, yang terus berbicara
kepadanya, menyuruhnya segera
pindah ke Slytherin, karena sudah
takdirnya begitu. Harry berkata
kepada si turban dia tidak mau
pindah ke Slytherin. Turban itu
makin lama menjadi makin berat.
Dicobanya menariknya, tetapi si
Turban melilitnya semakin ketat
sampai kepalanya sakit--dan ada
Malfoy, mentertawakannya
sementara dia berkutat dengan si
turban. Kemudian Malfoy berubah
menjadi si guru berhidung bengkok,
Snape yang tawanya melengking dan
dingin--ada buncahan cahaya hijau
dan Harry terbangun, berkeringat
dan gemetar.
Dia membalikkan tubuh dan
langsung tertidur lagi dan ketika
terbangun keesokan paginya, dia
sama sekali tak ingat lagi mimpinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar